Di abad ke-21 sekarang ini, bentuk kepemilikan aset dari seseorang cenderung meluas. Aset seorang manusia tak hanya sesuatu yang berwujud (tangible), seperti rumah dan mobil. Namun, aset pada zaman sekarang juga meliputi hal yang tak berwujud (intagible). Seperti apa sih sebenarnya aset tak berwujud itu? Contoh dari aset tak berwujud adalah film. Semua film yang kita tonton adalah sebuah properti intelektual.  

Sebagai manusia, setiap kita memiliki properti intelektual yang tertanam pada diri kita. Buah pemikiran manusia adalah salah satu aset yang tak berwujud yang sekarang juga sering disebut properti intelektual.

Advertisement

Lalu, premis ini membawa kita ke sebuah pertanyaan, “berarti kecerdasan kita adalah properti intelektual?” Yesbut no. Memang, kecerdasan adalah salah satu properti intelektual kita. Namun, pemikiran dari setiap individu tidaklah sesederhana itu. Ada properti lain yang harus dipertimbangkan selain kecerdasan, yaitu kegoblokan. 

Kok kegoblokan bisa disejajarkan sebagai properti intelektual? Ya tentu bisa, mainmu saja kurang jauh hehe.

Ada peribahasa yang berkata “orang yang goblok dan jenius itu memiliki perbedaan yang tipis.” Dengan premis ini kita dapat asumsikan bahwa kecerdasan dan kegoblokan adalah dua sisi mata uang yang sama. Tinggal dari sisi mana kita melihatnya. Mari kita buktikan!

Advertisement

Secara definisi, kecerdasan adalah properti intelektual yang kita dapatkan melalui proses pencarian kebenaran dan latihan. Semakin sering kita mengulanginya, semakin banyaklah kumpulan fakta yang kita dapat. Jadi, misal seseorang cerdas dalam berhitung, artinya dia telah menemukan kebenaran hasil dari 1+1=2 dan terus mengulangnya agar fakta tersebut tersimpan di otak.

Di sisi lain, kegoblokan adalah properti intelektual yang di dapatkan melalui proses trial and error dan didasarkan pada kreativitas. Disclaimer, kreativitas yang dimaksudkan disini adalah hal berbeda yang jauh dari batas kewajaran. Hal ini bukan berarti jika kalau kreatif maka kamu goblok ya!

Semakin sering seseorang melakukan hal yang di luar kewajaran, semakin dianggap gobloklah orang itu. Misal, seorang YouTuber Depok yang ditangkap polisi karena membuat prank tuyul. Dia kreatif namun sayang dia dianggap bodoh. Jadi, dapat disimpulkan bahwa kecerdasan dan kegoblokan adalah properti intelektual yang bisa kamu raih dengan cara yang berbeda.

Meskipun begitu, orang yang melakukan kebodohan belum tentu gagal. Bisa jadi orang tersebut hanya belum berhasil saja. Sebagai contoh, sekilas, prank yang dilakukan YouTuber tersebut tergolong dalam sebuah kegoblokan. Namun jika dipahami lebih dalam, prank atau kejahilan adalah konten yang mendatangkan banyak view.

YouTuber tersebut melakukan trial and error dan mencoba "kreatif" dengan melakukan hal yang belum dilakukan orang lain yaitu, menjadi tuyul. Karena, mana ada YouTuber Indonesia mau prank jadi tuyul

Tujuannya? Tentu lah untuk meraup viewer yang melimpah dengan menampilkan konten segar di YouTube Indonesia. Eh, namun sayang, sebelum berhasil, si YouTuber diciduk polisi hehe. Akhirnya, masyarakat mencap YouTuber ini goblok.

Ironisnya, di lain cerita, jika kegoblokan diluar batas itu berhasil maka kamu akan dianggap cerdas. Contohnya adalah percobaan Benjamin Franklin. Beliau mencoba untuk menyelidiki kelistrikan dengan main layangan ditengah hujan petir pada tahun 1740. Jika dilihat dari kacamata awam, tentu tindakan ini adalah sebuah kegoblokan.

Ngapain main layangan ditengah hujan badai? Kan goblok. Beruntung pada zaman itu belum ada Tim Jaguar. Kalau ada, mungkin sudah diamankan seperti YouTuber Depok tadi.

Untungnya, kebodohan itu berhasil dan menghasilkan sesuatu. Benjamin Franklin berhasil menemukan konsep penangkal petir dan dikenal dunia. Masyarakat mengakui dan menerima teorinya yang dibuktikan dengan sebuah aksi kebodohan. Bayangkan saja jika percobaan Benjamin Franklin gagal dan dia tersambar petir. Orang-orang akan mencap Franklin sebagai orang yang bodoh dan dia akan ditertawakan karena bermain layangan saat hujan badai.  

Kebodohan Benjamin Franklin menuntunnya kepada salah satu temuan dunia. Dari sudut ini, properti intelektual Franklin (kegoblokan) membuat orang beranggapan bahwa dia memiliki sebuah kecerdasan. Jadi, apakah tindakan Benjamin Franklin termasuk sebuah kecerdasan atau kegoblokan? Tergantung dari sisi mana kita menilainya dan bagaimana netijen yang budiman menilai.

Jika kegoblokanmu masih dianggap bodoh, kamu tidak perlu khawatir. Hal ini bukan berarti kamu bodoh. Kamu hanya punya pemikiran yang tak sama dengan kebanyakan orang lain. Pada akhirnya, kamu hanya belum berhasil membuktikan betapa pentingnya properti intelektualmu yang berupa kegoblokan itu. Tetap semangat ya!

Advertisement

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya