Hari ini kulihat seorang gadis berjilbab merah maroon berlari tersenggal – senggal dari parkiran perpustakaan pusat sebuah universitas terbaik negeri ini. Fakultas tempat ia belajar tak memiliki ruang parkir sepertinya. Kulihat ia berboncengan bersama gadis berjilbab biru yang terlihat lebih tenang. Mungkin temannya. Aku yang sedang berjalan di belakangnya merasakan betapa nafasnya tergesa seolah ia benar –benar tak ingin kehilangan kesempatan. Langkah nya lebar – lebar, pandangannya jauh kedepan, ia memasuki sebuah bangunan megah yang juga menjadi tujuanku, hingga kemudian aku tahu bahwa ternyata ia kuliah di fakultas yang sama denganku. Ketika menaiki tangga ia tampak sangat gesit, setiap naik ia menaiki dua anak tangga sekaligus. Dan akhirnya ia tiba di lantai tiga, napasnya naik turun, ia mengamati sekitar hingga ia menemukan ada seorang perempuan yang duduk di sudut deretan kursi belajar.

“Mba maaf ini jam berapa ya?”

Advertisement

Perempuan yang ia tanya tak menjawab sepatah kata pun. Perempuan itu hanya menyodorkan tangan, menunjukkan jam tangannya. Aku lihat wajahnya pias, ia mengalihkan pandangannya ke sebuah kelas, di kelas itu kulihat seorang dosen yang telah sibuk mengajar. Ia lalu duduk, mengatur napasnya yang masih naik turun. Lalu, mengelurkan laptopnya dan mulai menulis. Aku tak tau apa yang sedang ditulisnya, tapi ia terlihat sangat serius dengan tulisannya. Aku ingin menyapa nya, namun segan. Namun, aku mengamati tasnya, disana terdapat pin biru, pin identitas yang biasa dimiliki per-angkatan di fakultas ini sebagai identitas pribadi setiap mahasiswa, disana tertulis nama dan NIM nya. Hingga kemudian aku yang juga sedang duduk di sudut lain berinisiatif menuliskan namanya di google. Aku menemukan tumblr pribadinya, ketika aku membuka nya ada postingan baru, yang baru saja diposting satu menit yang lalu, dalam tumblrnya tertulis

“Pagi ini ada seseorang yang kehilangan kesempatan untuk duduk menerima ilmu dan mengikuti exercise auditing. Kesempatan yang hilang bersebab kesalahan nya, time management nya masih buruk. Ia mengakui itu. Barangkali memang lebih baik seperti ini, agar ia belajar bahwa tak ada detik yang terulang maka seharusnya di setiap detik yang ada ia tak boleh menyia – nyiakan dengan memperturutkan hawa nafsunya, setidaknya ia masih bisa menjadi perantara bagi orang lain yang juga bersiap menerima ilmu, karena tadi pagi ia memmboncengkan seorang kakak tingkat ke kampus. Setidaknya pagi ini benar – benar menjadi reminder untuk sisa semester empat nya bahwa deadliners akan menghantarkan nya pada deadlost.”

Aku terhenyak membaca tulisannya. Ternyata ada yang sedemikian kecewa saat ia kehilangan kesempatan untuk menerima ilmu di kelas, berbanding terbalik sekali dengan ku yang seringkali justru melepas kesempatan itu begitu saja, dengan alasan – alasan konyol semisal terlambat bangun, males ketemu dosen, dan sebagainya.

Advertisement

Ahh, karena hidup ini memang tak bisa ditebak bukan? Bahkan, keinsyafan kecil ini hadir hanya dari sepintas perjumpaan dengan seseorang yang tak pernah kita kenal sebelumnya. Aku kagum padanya, pada upaya nya yang mencoba mempersembahkan ikhtiar terbaik, pada penyikapannya terhadap kesempatan yang hilang. Iya, aku kagum padanya, sekedar kagum tak boleh lebih.

Advertisement

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya