Kelompok Belajar, Solusi Alternatif Pemodelan Pembelajaran di Era New Normal

Kelompok Belajar di Era New Normal

Pandemi Covid-19 menjadi wabah penyakit yang mendunia hingga saat ini. Salah satunya adalah di Indonesia, negara kita telah terjangkit pandemi sejak bulan Maret 2020, dan sampai bulan Juni masih mendapatkan kasus dengan pasien positif Covid-19. Pandemi tersebut memberikan dampak yang besar kepada berbagai sektor kehidupan mulai dari ekonomi, budaya, sosial, politik dan salah satunya pendidikan. Pemerintah menerapkan aturan PSBB (Pembatasan Sosial Berskala Besar) untuk menghadapi pandemi tersebut. Memasuki bulan Juni dan dengan data-data ekonomi yang semakin menurun masyarakat dituntut untuk tetap produktif dalam hal ekonomi dan soial melalui konsep aturan new normal atau yang disebut tatanan hidup/normal baru dengan memperhatikan pentingnya protokol kesehatan yang ketat.

Advertisement

Pendidikan menjadi aspek penting didalam kehidupan bermasyarakat, dengan sistem tatap mukanya. Namun, ketika Indonesia mengalami peristiwa pandemi Covid-19, harus merubah model pendidikan menjadi pembelajaran online melalui aplikasi. Sumberdaya yang dimiliki negara pun dituntut untuk memenuhi penghidupan pendidikan di kalangan menengah dan terutama kelas sosial bawah. Pada kenyataannya, sumberdaya yang dimiliki Indonesia tidak mencukupi untuk mencakup pembelajaran online, mulai dari sumberdaya manusia yang kurang memadai, fasilitas pembelajaran yang meliputi internet, komputer atau laptop, jaringan/sinyal, dan website yang belum sepenuhnya terpenuhi, yang masih banyak dirasakan sebagian masyarakat.

Persoalan pembelajaran online dirasakan sulit bagi kelas sosial bawah di perkotaan dan pedesaan, Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nadiem Makarim menyebut sistem belajar jarak jauh sulit diterapkan saat pandemi corona. Sebab, banyak kendala yang terjadi dalam proses belajar mengajar. Salah satu kendalanya yaitu akses internet dan listrik yang tidak merata hingga ke daerah. Padahal, konektivitas penting untuk mencapai pemerataan pendidikan. Selain itu, terdapat kendala sumber daya manusia terutama di daerah terdepan, terluar, tertinggal (3T). Padahal, SDM sangat berpengaruh terhadap kualitas pendidikan. "Bahkan di kota-kota pun banyak yang masih tertinggal," ujar Nadiem dalam Konferensi Akademi Edukreator di Youtube Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, Rabu (6/5).

Aspek pendidikan menjadi sektor yang sangat perlu dikembangkan melalui kerja sama antar berbagai pihak tidak hanya kalangan akademisi atau praktisi pendidikan saja, namun mulai dari masyarakat kelas sosial atas, menengah, dan bawah harus saling berkolaborasi dalam mewujudkan kualitas pendidikan yang baik. Dengan kehidupan sosial masyarakat menjadi tonggak utama dalam menyukseskan pendidikan yang berkualitas, bisakah? Saya penulis menjawab bisa melalui tulisan ini. Melalui hal itu dapat mewujudkan generasi muda yang kreatif, produktif, dan inovatif di masa pandemi Covid-19.

Setelah memahami permasalahan pendidikan di Indonesia di situasi pandemi Covid-19 dan Indonesia sudah mulai menerapkan new normal di berbagai daerah perkotaan dan pedesaan, penulis memberikan solusi dengan mengenalkan ”Model Kelompok Belajar per-Wilayah”, yaitu sebuah model dengan skema mengelompokkan belajar siswa di berbagai wilayah, misalkan wilayah A yang didalam daerahnya terdapat guru, mahasiswa, siswa/i SMA, siswa/i SMP dan siswa/i SD untuk dapat berkolaborasi belajar bersama di wilayah tersebut, atau wilayah B misal di daerahnya hanya terdapat siswa/i SMA, siswa/i SMP, artinya solusi yang diberikan untuk mengatasi kurangnya sumberdaya internet, manusia, dan fasilitas untuk masyarakat yang tinggal di wilayahnya agar dapat menunjang langsung pembelajarannya, di wilayah A misal mengumpulkan para siswa dari berbagai jenjang dan juga mahasiswa ataupun tenaga pendidik untuk berkumpul belajar bersama, guru memberikan pembelajaran langsung ke jenjang pendidikan dasar dan menengah dan mahasiswa juga dapat memberikan arahan langsung pembelajaran tetap dengan memperhatikan protokol kesehatan yang ketat mulai dari masker, sanitasi tangan, dan yang lainnya. Jangka waktu yang dilakukan dalam pelaksanaan model tersebut yaitu tiga hari dalam seminggu untuk hari bebas dan teratur sesuai dengan keadaan wilayah kelompok tersebut misal, di hari Senin, Rabu, dan Minggu atau skema yang lain. Kemudian, untuk batasan orang di satu rumah tetap memperhatikan protokol kesehatan untuk mencegah virus corona menyebar yaitu minimal 10 sampai dengan maksimal 15 orang.

Skema penjelasan tentang hubungan komunikasi dalam salah satu wilayah (RW), dalam hal ini fungsi RW yaitu sebagai pusat kontrol yang salah satu tugasnya yaitu melakukan sosialisasi kepada masyarakat terutama kepada masing – masing ketua RT diwilayahnya. Setelah melakukan sosialisasi para ketua RT bersama anggotanya mendata identitas jenjang pendidikan serta profesi guru di wilayah tersebut untuk kemudian mendapatkan kartu identitas peserta dan pelaksana kegiatan. Adapun jika disalah satu RT ada yang tidak terdapat tenaga pendidik, maka bisa koordinasi dengan kepala RW diwilayah tersebut untuk selanjutnya diberikan alternatif tenaga pendidik dari RT yang lainnya.

Advertisement

Dalam skema diatas, setelah melakukan pendataan terhadap warga selanjutnya akan dibuat pengelompokan dari mulai guru, mahasiswa, serta peserta didik atau siswa. Misalnya jumlah tenaga pendidik dari pihak guru dan mahasiswa totalnya dalam satu RT terdapat 6 orang maka dari jumlah tersebut akan dibagi sesuai dengan keahlian masing–masing yaitu dari bidang bahasa, sosial, dan sains.

Kemudian misalnya untuk jumlah siswa di daerah RT tersebut totalnya ada 30 anak, maka selanjutnya dari jumlah tersebut akan dibagi 3 kelompok kelas yang nantinya akan dibagi jadwal belajar sesuai dengan ketiga bidang yang telah disampaikan diatas. Untuk tempat pelaksanaannya bisa menggunakan rumah dari tenaga pendidik, sukarelawan dari kelompok sosial atas, atau bisa juga tempat yang direkomendasikan oleh RT / RW setempat.

Keterlibatan antar lapisan masyarakat dibutuhkan dalam model kelompok belajar perwilayah. Adapun masyarakat kelas sosial atas sebagai penyedia layanan internet dan fasilitas yang memadai, perangkat pengurus warga memberikan dukungan dan pelayanan, para siswa dan mahasiswa dari berbagai jenjang bisa bersinergi untuk melakukan kegiatan belajar-mengajar suatu pelajaran agar siswa yang tidak mampu memahami materi pelajaran dapat mampu secara langsung dengan dukungan dari kakak yang berada diatas tingkatannya, dengan begitu sosialisasi dan keterlekatan hubungan sosial di wilayah tersebut dapat terbangun kembali pada saat PSBB yang membuatnya membatasi diri, dan dengan itu dapat membuat masyarakat perkotaan yang cenderung individualis untuk dapat saling membantu dan membangun hubungan sosial melalui simpati dan empati untuk bersama-sama mendukung kualitas pembelajaran di masa pandemi Covid-19. Para warga dimulai dari Mahasiswa, guru atau pengurus warga dapat bersama untuk melakukan obrolan atau diskusi dan dapat diunggah di media sosial sebagai bukti atau tanda mempublikasi hasil bahasannya, misal di upload ke youtube untuk dapat nantinya bersama menginspirasi warga lain, dengan begitu sektor pendidikan dapat terus berkembang dalam masyarakat di tengah pandemi Covid-19.

Kelompok belajar dipilih sebagai solusi efektif untuk melaksanakan kegiatan belajar-mengajar. Kelompok belajar merupakan sebuah sistem sosial dan pendidikan yang berorientasi pada pembangunan masyarakat di lingkungan setempat. Hal ini dikarenakan para mahasiswa dalam kelompok belajar tersebut dapat mengajari adik-adiknya yang masih SD-SMA untuk belajar. Kekurangan dari PJJ yang menjadikan pembelajaran terhambat karena sulit memahami materi secara virtual kini terselesaikan. Anggota kelompok yang memiliki jenjang pendidikan lebih tinggi mengajari adik-adiknya, dan mereka juga secara tidak langsung sedang menerima pengajaran dari adik mereka, yaitu pelajaran untuk bersabar dan melatih komunikasi dengan lawan bicaranya. Selain sisi pendidikan, “Kelompok Belajar” juga memberikan manfaat bagi sisi sosial masyarakat. Wilayah( RW ), dalam hal ini fungsi RW yaitu sebagai pusat kontrol yang salah satu tugasnya yaitu melakukan sosialisasi kepada masyarakat terutama kepada masing – masing ketua RT diwilayahnya. Setelah melakukan sosialisasi para ketua RT bersama anggotanya mendata identitas jenjang pendidikan serta profesi guru di wilayah tersebut untuk kemudian mendapatkan kartu identitas peserta dan pelaksana kegiatan. Adapun jika disalah satu RT ada yang tidak terdapat tenaga pendidik, maka bisa koordinasi dengan kepala RW diwilayah tersebut untuk selanjutnya diberikan alternatif tenaga pendidik dari RT yang lainnya.

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya

Advertisement

“Artikel ini merupakan kiriman dari pembaca hipwee, isi artikel sepenuhnya merupakan tanggung jawab pengirim.”

Berikan Komentar

Tim Dalam Artikel Ini

Penulis

CLOSE