“Perempuan memang kadang seperti itu, ingin di perjuangkan lebih. Aku mengerti.”

Senin pagi yang senyap. Senin pagi pertama setelah Ramadhan yang sibuk. Senin pagi dimana orang-orang kembali pada rumah tangganya masing-masing setelah libur yang cukup panjang. Dan senin pagi setelah hujan yang bau tanah ,daun, serta udaranya yang harum. Pagi seperti ini selalu nikmat jika dilengkapi dengan teh dan semua pasangannya. Pasangan ideal menurut masing-masing orang tentunya. Karena buatku, pasangan teh pagi ini sangat pas dengan beberapa batang rokok professional dan ketan hangat yang digoreng ibu pagi-pagi. Jika sudah bertemu dengan suasana begini, aku selalu merasa dilempar oleh waktu dan diriku sendiri pada kenangan.Ya, pagi ini aku mengenang masa beberapa tahun silam , masa 3 tahun terindah yang tak akan mungkin bisa aku ulangi dan curangi .Putih-abu . Tidak hanya suasana ini, lagu milik Kla project berjudul Yogyakarta dan tweet salah satu followers-ku yang notabene adalah temanku juga, seakan-akan ikut melemparku semakin jauh pada kenangan ini, dia menyebut2 tentang “ bus pariwisata” dan “jogja”.

Aku ditarik sangat dalam pada 3 hari di 3 tahun yang akan minta terus aku ulang jika bisa. Ya, study tour! . Aku sangat ingat pagi itu aku pergi dengan ceria dari rumah untuk menyongsong liburan dan hasil rapotku di kelas 11 semester ganjil. Selain rapot dan liburan, berangkat study tour pun melengkapi keceriaan pagi itu. Seperti biasa, sebelum masuk sekolah, aku sempatkan mampir ke warung pak Abas untuk sekedar ngopi dan dan menghisap sebatang dua batang rokok bersama yasir kawanku yang biasa diajak dan mengajak melakukan hal-hal yang bodoh pada masa kami. Bersamanya, aku selalu bisa bicara hal-hal yang mungkin tidak penting untuk di bahas orang lain. Tapi bagi kita, itu adalah hiburan-hiburan kecil sebelum memulai kehidupan sekolah yang akan membosankan di pagi hari seperti, bertemu dengan guru-guru yang punya muka super killer. Yeah like a monster man. Tapi kopi dan rokok kali ini beda dari biasanya, lebih hangat dan lebih nikmat di tenggorokan. Mungkin karena suasana keceriaan yang menyelimuti kepala dan perasaanku atau memang aku yang lebay? ah sudahlah yang penting memang pagi itu terasa beda dari pagi biasanya. Oh ya, tapi ini bukan cerita tentang kawanku, ini cerita tentang seorang perempuan di masa sma ku yang singkat dan melekat di ingatan. Seorang perempuan manja berambut ikal, berperawakan munel, berpipi kenyal seperti kue mocchi dan selalu cantik, setidaknya untukku.

Jika bagimu tidak, terserah saja. Seorang perempuan yang jalan pikirannya membuat aku penasaran. Seorang perempuan yang aahhh…. banyak kalo aku harus mendeskripsikannya setiap jengkal. Oke, kembali ke warung pak Abas, sekarang rokokku sudah tinggal beberapa hisap dan jam tanganku sudah menunjukan pukul 09.00 wib, itu tanda bahwa kami harus masuk untuk mengambil rapot, menerima hasil pendidikanku selama 1 semester.

Advertisement

Trrrrttt trrrttt

“Gimana rapotnya” ponselku bunyi

“Belum dibagiin, wali kelasnya belum dateng”

“Kamu engga nanya rapot aku -_-“

“Aku mau bales lagi tadi eh kamu balesnya cepet banget, lebih cepet dari cahaya. Iya rapot kamu gimana? Bentuknya masih sama kan?” padahal aku emang lupa nanya haha

“Nilainya aciiiillll!! Kamu mah nggak serius aja, keciri sengit. Kesengitan beda Negara ini mah pfffttt” . Maksudnya “beda Negara” adalah karena dia yang anak Ipa dan aku Ips.

“ Hahaha iya gimana sok nilainya?”

“Bagus dong, ranking 4 :p. Aku kan lebih pinter dari kamu, buktinya aja aku masuk Ipa haha”

“Rasis lu gendut pfffttt”

Entah kenapa anak-anak ips selalu di deskriditkan. Stereotif orang-orang tentang anak Ips selalu nakal, urakan, bodoh dan hal-hal buruk yang lebih dari itu.

“Ya”

Sms dari ini pipi mochi satu gue baca aja, bingung mau bales apaan dan karena gue juga lagi asik ngobrol sama temen-temen gue tentang acara-acara yang bakal kita adain sendiri diluar rundown study tour yang di buat guru-guru. Setelah mungkin lima belas menit hape gue asingkan dari pandangan, dia kembali bergetar 5,9 skala ritcher, sumpah isinya bikin bingung.

Trrrtt trrrrttt

“Iihh bocah cilik dibales kenapa! Hape dianggurin aja, dikasih kerjaan kek! Udah ngatain ,malah ngilang! Bikin kesel aja!”

“Aku kudu bales apa?”

“Gatau ah! Ngerusak mood aja!”

“Maap, aku mah kan anak ips jadi bego. Mau bales aja nggak bisa L. Kasihanilah hamba paduka yang cantik. Nanti aku traktir makan deh, tapi makanan aku nya kamu yang bayar ”

“Males”

“De aku ada guru, abis ini aku ke kelasmu yaa. Nanti aku sms lagi”

Dan hari itu pak Tatang, seperti hari-hari pembagian rapot seperti biasanya memberikan ceramah pada kami seperti kultum jum’at yang satu arah dan tak berani kami menggangu gugatnya.

Raport pun di bagikan. Aku ada di absen urutan kedua. Jujur saja aku tidak terlalu memperdulikan hasil raport, bagiku hari itu, nilai hanyalah potret. Seperti kata guru sosiologi ku bilang, sebagai manusia, sejauh mana kita bisa berkembang dan beradaptasi di masyarakat, berguna untuknya dan menciptakan sesuatu untuk lingkungan, kau akan di bilang seseorang yang cerdas jika mengahdirkan sesuatu yang baru. Salam hormat untuk pak Ridwan. Untuk informasi, rata-rata rapotku standar, Cuma Tujuh koma dan bolosnya banyak haha.

Pada saat aku sekolah dulu, game online sedang booming dan aku adalah salah satu yang sering bolos untuk memainkannya haha.

Oke singkat cerita, setelah pembagian rapot, seperti biasa, hal-hal klise seperti ejek-ejek nilai menjadi sesuatu yang membudaya dan memuaskan untuk sebagian teman-teman kelasku. Ya kau bisa bayangkan sendirilah yang menang bagaimana dan yang kalah dibagaimanakan .

Aku yang sudah berjanji pada Dena untuk ke kelasnya berlalu meninggalkan mereka yang sedang saling bangga dengan hasil potretnya.

“Eh kemana ira cil?” tanya yasir padaku sambil ( “ira” adalah bahasa Cirebon untuk kamu)

“Ke kantin sir laper lah” jawabku menengok ke arahnya sambil menghentikan langkah

“areng sih entar dulu, ira sih lemah anjir, pasti rapot ira jekek makanya kabur wkwk”

Sekedar informasi, Yasir ini adalah kawanku sekaligus rival tangguh yang keliatannya urakan tapi paling pinter di kelas, bahkan anak ipa pun kalah dengannya dalam olimpiade matematika tingkat sma. Dia adalah juara 1 bertahan dari kelas 2 semester awal sampai kelas 3 berakhir.

“Engga , kita mau ke kelas dena dulu, udah janji. Laki-laki nggak boleh ingkar janji haha”

“Yaudah good luck”

“ Oke duluan ya semua”

“Gih daritadi” temen-temen menyahuti secara bersamaan

Aku pun berjalan sendirian melewati lorong-lorong kelas ipa yang udah kaya kapal pecah dengan canda-candanya yang membosankan dan sesekali bertemu teman-temanku dikelas ipa. Sampai pada akhirnya aku sampai di kelas dena yang kulihat sudah kosong, hanya ada Dena dan teman-temannya saja yang sebagian aku kenal.

“De” Aku memanggilnya dan dia diam tidak menghiraukan sapaanku

“De” Aku memanggilnya sekali lagi, barangkali dia tidak menyadari kedatanganku.

Tapi aku sadar ini adalah marahnya padaku atas hal sepele tadi. Perempuan memang kadang seperti itu, ingin di perjuangkan lebih. Aku mengerti.

Aku langsung saja menghampirinya di tengah obrolan dia dan teman-temannya.

“De kalo di panggil tuh nyautin, jangan pura-pura nggak denger. Udah kaya lagi disuruh mamah beli mecin kewarung aja” aku setengah berteriak sambil mencubit hidungnya

“apa sih ih” sahutnya setengah cemberut

“Duuh urusan rumah tangga nikah sirih, nggak tahu nikahnya tiba-tiba ribut aja” celetuk salah satu temannya yang aku lupa siapa namanya

“Yaelah galak amat minta disayang” celetukku sekenanya

“Ayo cepetan ke kantin, aku laper” ajakku padanya

“Engga mau, aku belum laper” tolaknya

“Ayo” ajakku sekali lagi sambil memegang tangannya dan menarik dia dari kursinya

Lalu dia menatapku dengan tatapan agak sebal tapi terlihat manja dan tubuhnya mengikuti tanpa penolakan.

Kali kedua ajakkan ku, aku tidak menunggu persetujuan yang keluar dari mulutnya lagi. Seperti tadi aku bilang, seorang perempuan butuh diperjuangkan lebih. Bukan sekedar kata-kata tapi bertindak. Bahasa yang keluar dari mulutnya mungkin berkata tidak, tapi bahasa tubuhnya mengatakan lain. Oleh karena itu, aku lebih suka bahasa tubuhnya daripada bahasa dari mulutnya. Dari bahasa tubuhnya aku mendengarkan apa-apa yang tidak dia katakan.

(bersambung)