Kalau tak mau datang tak usah mengucap 'hai'

Beberapa tahun yang lalu kamu datang dengan segenap hati. Saat itu usia kita baru menginjak remaja, kita berteman akrab bahkan sering main bersama. Waktu membawa kita tumbuh menjadi remaja yang baru merasakan cinta lawan jenis. Ya, kamulah cinta pertamaku dan katamu aku cinta pertamamu, padahal kita belum tahu apa itu cinta.

Advertisement

Aku selalu menunggu kepulanganmu ke sini. Bertahun-tahun berlalu kini kamu tumbuh menjadi anak SMA dan aku masih SMP kala itu. Jarak dan waktu yang memisahkan kita dan aku melihatmu sangat bahagia di sana bersama seorang perempuan. "Siapa dia?" pikirku saat melihat foto itu. Jawabanmu luar biasa kala itu "dia hanya sahabatku?" Ya karena aku sudah percaya. Yasudah aku percaya saja, tetapi pada kenyataannya dia adalah pacarnya di sana. Saat itu juga pertama kalinya aku merasakan sakitnya jatuh cinta. Kamu pergi begitu saja.

Kau kembali dan untuk pergi lagi

Beberapa tahun kau telah pergi aku tak dapat kabarmu langsung darimu, yang aku dengar saat ini kamu telah masuk Universitas Negeri di sana. Bahagia aku mendengarnya. Tiba-tiba ada chat masuk dari sosial mediaku dan itu dari kamu, "oh Tuhan apa ini mimpi?" Kebahagiaanku tak terkira saat itu. Kita bercerita panjang lebar kala itu dan tiba pada saat kamu bercerita punya pujaan hati di sana. Lalu dengan tanpa pamit kamu menghilang lagi.

Advertisement

Aku pun sempat sangat membencimu, benci akan permainan konyolmu ini dengan mudahnya kamu datang lalu pergi lagi. Aku pun sempat tak mau untuk melihat atau mendengar kabarmu lagi. Aku benci kamu!

Datang, saling tatap, berbahagia lalu kamu pergi. Untuk ke sekian kalinya aku merasa sangat bodoh karenamu.

Aku sudah sangat benci tetapi saat ada salah satu sahabat aku memberitahu kamu menanyai kabarku, aku sungguh bahagia. Ah entahlah ada apa dengan aku ini? Sudah banyak laki-laki mengucap hai tetapi saat kamu kembali, kamu seakan pemenangnya. Kita saling cerita dan kita bertemu di suatu tempat, kamu sangat manis kala itu. Senyum yang sangat aku rindukan dan aku mampu melihat senyum itu lagi. Suara yang sangat aku rindukan dan aku mampu mendengarnya lagi. Apakah aku bermimpi? Hahaha tidak, ini nyata.

"Tolong jangan pergi lagi" kataku saat itu. Tetapi kamu menjawab dengan caramu yang seperti itu "kenapa emang?". Masihkah harus aku jelaskan kenapa aku tak mau kamu pergi lagi? Kamu seharusnya sudah mengerti karena berkali-kali kamu pergi, saat kamu kembali, aku masih merasa rasa yang sama sebelum kamu pergi pertama kali. Aku sungguh tak butuh kalimat sayang yang selalu kamu ucapkan saat datang kembali. Aku hanya butuh kejelasan, aku tak suka dengan abu-abu.

Kalau memang kamu akan pergi ya sudah pergi saja tapi tolong tak usah kembali. Kamu tahu saat kamu pergi aku berusaha melupakanmu dengan membencimu, saat kamu datang aku tak kuasa membencimu dan setelah itu kamu pergi lagi. Kamu pikir mudah ? Tidak! Kamu tak tahu kan sebelum kamu kembali, hati aku sedang terluka karena cinta setelah kepergianmu kala itu. Aku pun sempat tak mau untuk merasa cinta lagi, tapi kamu datang dan aku merasa bahwa aku telah sembuh. Nyatanya kamu tak sungguh-sungguh menyembuhkan dan menggantikan retakan kaca itu, kamu malah membuat kaca yang baru jatuh ke lantai sebelum sempat aku merekatkannya. Dengan mudahnya kamu lari setelah kaca itu berserakan di lantai. Dengan 'bodohnya' aku kembali meratapi kepingan itu.

Aku percaya dan kamu menghancurkannya.

Terimakasih.

Advertisement

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya