[CERPEN] Sebuah Narasi Kepada Tuan nan Jauh di Jakarta

Satu hari yang bergulir, tanpa permisi membawa tuan pergi. Haruskah saya memaafkannya?

“Masih saya ingat, Tuan. Setahun yang lalu, Sumatera Utara sempat bercerita kepada saya lewat lukisan bintang pada malam itu. Ia utarakan harapan juga kesedihan. Ia juga meminta maaf kepada saya. Tuan, haruskah saya memaafkan Sumatera Utara? Ia bilang ia akan melepasmu pergi ke Jakarta, sedang saya harus menunggumu bersamanya.

Advertisement

Oktober juga ternyata telah membuat kesepakatan dengan Februari bahwa mereka akan menjadi pertanda untuk rentang waktu kepergianmu.

Haruskah saya memaafkannya, Tuan?

Padahal saya yakin Sumatera Utara begitu mengerti perasaan saya kepada Tuan.

Advertisement

Hanya suara burung juga dingin desir angin yang saya rasa saat ini, Tuan, tetapi tidak pernah saya lihat keberadaan mereka.  Sepertinya, mereka begitu suka bersembunyi. Sama seperti saya yang tidak ingin terlihat. Membawa perasaan yang semakin kuat ini berlari dari pandangan Tuan.

Sebenarnya saya sangat ingin bertemu Tuan, dan bercerita sedikit hal tentang burung-burung itu,  pun desir angin yang selalu menerpa tanpa pernah lelah. Saya merasa cinta mereka kepada bumi yang kita tinggali ini begitu kuat.

Advertisement

Dengarlah, Tuan, burung-burung itu selalu bernyanyi. Apa kau tau mengapa?

Sebab ia tidak ingin bumi merasa sendiri dan kesepian. Ia tetap bertahan dan terus bernyanyi meski mungkin tubuhnya yang mungil tidak pernah terlihat keberadaannya oleh bumi yang besar ini.

Tuan, apa kau sependapat dengan saya?

Desir angin pun sama, ia tidak berwujud dan ia selalu bertahan, tulus memberi kesejukan kepada bumi kita yang semakin tua ini, sepanjang waktu. 

Bukankah cinta mereka begitu tulus, Tuan?

Tuan, apa kau sependapat dengan saya?

Saya sangat berharap, Tuan, kau akan menjawab, “Ya.”

Sebab jika Tuan sependapat dengan saya, saya percaya tuan merasakan kehadiran saya.”

Gadis itu menatap langit petang yang sedikit kemerahan. Entah apa yang dipikirkan gadis manis berkepang satu itu. Ia sangat mencintai seseorang yang kini tengah merantau ke luar kota. Mencintainya dalam diam. Berharap dapat menitipkan sedikit interaksi lewat doanya di setiap malam, Juga kepada bangau-bangau kertas yang kini tengah dirakit oleh jemari-jemari lentiknya.

Gadis itu menatap langit petang yang sedikit kemerahan. Berharap untuk dapat bersatu, apakah salah? Tidak, bukanlah bersatu dalam ikatan itu, ia ingin menjelma menjadi doa-doa yang selalu ia tuturkan, dan menyatu kepada nama yang ia sebut di dalamnya.

Tubuh ramping yang bersandar di pohon mangga, apakah ia dapat mewujudkan harapannya? Lapangan rumput luas yang setitik bagiannya ia duduki ini, mungkin tidak seluas harapannya untuk dapat meraih cinta yang ia pendam hingga kini.

Rakitan bangau kertas yang ia rangkai memanjang, masih kurang lima ratus delapan puluh enam buah lagi. Entah sudah berapa banyak kata yang ia tuliskan di dalamnya.

Juga melalui doa yang tak terlihat wujudnya. Yang getarannya tidak menimbulkan nyaring. Yang tak terlihat siapa gerangan si pemilik lirih yang melantunkannya dengan tulus.

Gadis  itu masih menatap langit petang yang sedikit kemerahan. Bertahan di tempat itu sampai tiba waktunya seseorang yang ia cinta biasa melintasi jalan di dekat persimpangan sana dengan sepeda ontel dan sebuah tas sandang yang menggantung di bahunya.

Gadis itu masih bertahan menyandarkan tubuh rampingnya di batang pohon mangga yang besar itu. Meski ia tahu, seseorang yang ia tunggu tidak akan melintasi jalan itu pada petang ini dan petang-petang selanjutnya sebelum Maret tiba.

Gadis itu masih menatap langit petang yang sedikit kemerahan. Menerbangkan harapan-harapannya bersama angin dan kicauan burung di atas sana.

Hingga kedatangan seseorang mengalihkan pandangannya.

Orang itu berucap sedikit keras dibarengi dengan gerakan di kedua tangannya sebagai bahasa isyarat agar gadis berkepang satu itu mengerti apa yang ia ucapkan.

“Nala, pulang ya. Udah hampir maghrib, nanti enggak keburu jamaah di masjid lo.”

Nama gadis berkepang satu itu adalah Nala. Ia tersenyum dan mengangguk menanggapi perkataan sang kakak.

“Reno pulang bulan depan nanti, tanggal dua puluh tujuh. Besok enggak usah ke sana lagi, ya.”

Nala masih menerjemahkan apa yang dikatakan kakaknya. Diam beberap saat, lalu mengangguk dengan berat hati.

“Nanti Kakak bantu bikin bangau kertasnya, ya, tapi kalau jelek, jangan dibuang. Haha.”

Nala mulai menggerakkan mulut dan jari-jemarinya. “Enggak papa jelek, yang penting enggak koyak kertasnya.”

lagi, ia menunduk. Membiarkan banyaknya keraguan mendesak pikirannya. Apakah harapannya tidak terlalu tinggi?

Tidak, ia hanya ingin orang yang ia cintai merasakan doa-doanya.

Hanya berharap doanya tersampaikan.

Hanya berharap memiliki peran yang sama seperti burung-burung yang terus bernyanyi untuk bumi.

Hanya berharap memiliki kesabaran seperti angin yang kehadirannya tidak pernah terlihat.

Tidak, bukanlah harapan yang besar dan mustahil. Itulah yang dikatakan kakaknya.

Ia hanya ingin keberadaannya dirasakan.

Hanya ingin melakukan sedikit interaksi melalui bangau kertas yang ia rakit sendiri.

Ia tidak pernah berharap untuk dapat menyatu dalam sebuah ikatan bersama dengan orang yang ia cintai itu. ia tidak pernah merasa pantas.

Ia tidak berharap dapat dicintai oleh orang yang juga ia cintai. Sekali lagi sebab ia tidak  pernah merasa pantas.

Tidak pantas dicintai atau tidak mampu dicintai? Sama saja.

Tidak ….

Bukan  kalimat sapa di setiap waktu, yang ia butuhkan. Tidak pula lambaian tangan yang ramah itu.

“Tidak perlu kau ajak saya bercengkerama.”

Tatapan yang tak pernah berhenti berdoa itu sedikit melirih,

“Hanya satu, Tuan. Saya butuh sebuah pengakuan … bahwa tuan mengenal saya, lewat doa-doa yang saya titipkan kepada malam. Saya sangat berharap tuan dapat merasakan bahwa saya ada di dalam diri tuan.

Tuan, hingga sore ini saya masih bersama Sumatera Utara. Menanti tuan kembali pada bulan Maret tahun ini. semoga Tuan selalu dalam lindungan-Nya.”

Lagi, ia menuliskannya di atas origami yang selanjutnya akan ia rakit menjadi bangau kertas yang keenam ratus satu.

Gadis itu, meski tatapannya lelah, bibirnya tetap saja melukis senyum. Meski matanya terus menampung harapan-harapan yang tak tercapai, bibir itu tetap saja tidak letih menuturkan doa.

“Tuan, petang adalah teman saya yang baik dan begitu indah, ia hadirkan jingga agar awan terlihat menawan, juga teruntuk merpati-merpati yang begitu suka bermain di langit merah. Dan yang paling mengagumkan, pada petang di hari yang telah lalu itu, ia pertemukan saya dengan seseorang yang juga berhati baik.”

Tidak berhenti ia tuliskan setiap hal yang sangat ingin ia utarakan. Sembari menulis, bibir itu pun turut bercerita.

 “Hanya ingin melihat tuan melintasi jalan itu lagi.”

HANYA–End

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya

Advertisement
loading...

“Artikel ini merupakan kiriman dari pembaca hipwee, isi artikel sepenuhnya merupakan tanggung jawab pengirim.”

Berikan Komentar

Tim Dalam Artikel Ini

Penulis

Seorang mahasiswi Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Program Studi Bahasa Inggris tingkat 5

CLOSE