[CERPEN] Kepada Tio, Semoga Penantianku Tak Kau Sia-siakan.

Berpindah hati bukan perkara mudah, kan? Semoga penantianku tak kau buat sia-sia.


Tuk! Tuk! Tuk!

“Ayo kita pergi!” ajak Tio melenggang di depanku yang tengah kebosanan sambi mengetuk-ngetukkan kuku di meja kerjanya.


Advertisement

Dengan malas aku bangkit mengekor di belakangmu. Aku tahu bukan saatnya lagi kita berjalan beriringan sambil bergandengan tangan seperti pasangan yang baru pacaran seminggu dua minggu, mengingat usia hubungan kita sudah menginjak tahun kedua. Karena itu aku tidak pernah mengeluh perihal dirimu yang tak pernah menggandengku saat kita jalan berdua. Nyatanya, kau lebih memilih mengerahkan seluruh indramu untuk intens berinteraksi dengan ponsel pintar kesayangan.

Bukannya hal itu tidak menggangguku, namun berbagai penolakan makin sering terlontar seiring meningkatnya intensitas permintaanku. Kadang iri juga ketika melihat sepasang kekasih yang terlihat bergandengan ketika mereka jalan berdua. Tetapi, ketika topik ini kuangkat pada  obrolan kita, jawabmu selalu sama. ”Apaan, sih!” 

Sering kuingin  berteriak, “Hei! Tolong perhatikan aku!” Tapi, untuk apa? Bukankah lebih romantis jika aku diam saja? Hari kita damai tanpa pertikaian yang lebih sering merepotkanku, karena setelah itu kau selalu menghilang beberapa hari. Tak peduli jika tak dicari.

Advertisement


"Minggu depan aku diajak Rani ke festival budaya. Ikut yuk!", ajakku sambil mengambil helm dari atas motor.

"Nggak, ah!" jawabnya cepat tanpa alasan apa-apa.

Seusai helaan nafas kukatakan, "Ya sudah. Nggak apa-apa,"  


Kemudian keluar kata-kata “ it’s not a big deal” di kepalakuketika kau menolak mentah-mentah berada di lingkaran pertemananku. Seingatku kau dulu tak begitu. Sementara aku tetap berusaha bergabung dan membaur pada lingkaranmu, apapun kegiatannya. Dari hal yang menarik minatku hingga tidak.

Tapi, sudahlah. Mungkin teman-temanku memang sangat membuatmu bosan. Obrolan kami tak ada yang menarik minatmu sama sekali. Ah, kau telah membuatku menjadi dua jiwa dalam satu raga yang saling bertolak belakang dan mendebat satu sama lain.   


“Mau makan apa?” tanya Tio membuyarkan lamunanku.

“Apa aja terserah kamu,” Ucapku singkat.


Kupeluk kau yang sedang memboncengkanku dengan erat. Entah kenapa belakangan ini aku sangat merindukanmu, Tio. Makin lama kehadiranmu terasa kian berbeda. Di mataku kini kau serupa makhluk asing yang dengan polosnya masih kugilai tanpa syarat, terlepas dari banyak hal yang tak lagi kupahami darimu. Kini kau lebih suka berkutat dengan pekerjaan, mendiamkanku dan berbagai pesan singkatku berjam-jam, tak jarang pula menghindar saat kuajak membahas soal kita berdua. Bosankah kau padaku, Tio?

Sejujurnya aku merasa kecewa padamu, Tio. Tapi bukankah kekecewaan ini adalah salahku sendiri? Ia ada karena ekspektasiku terlalu besar padamu. Padahal setahuku aku hanya meminta diperhatikan. Hal yang dulu kau berikan padaku dengan sukarela. Apakah pekerjaanmu sekarang yang membuatmu begitu terkekang? Tapi tenanglah, aku telah mahir memendam kekecewaan. Salah satu keahlian tanpa gelar, berpura-pura bahagia. 


“Mau pesan apa?”, Tanya Tio sambil menyodorkan menu makanan ke arahku.

“Ini aja”, kataku menunjuk satu menu paketan. Lalu Tio berdiri dan berjalan ke arah pramusaji menyodorkan menu dan daftar pesanan kami.


Aku mengarahkan tatapan mataku mengikuti pergerakanmu, Tio. Bagiku ketampananmu purna, terlepas dari jerawat yang tak pernah absen di pipi. Tak jarang terbersit pemikiran bahwa aku terlalu beruntung mendapatkanmu, sementara kau begitu sial mendapatkanku. Kurasa bukan aku yang rendah diri, Tio. Seingatku memang kau tak lagi memujiku akhir-akhir ini. Sepertinya aku bukan lagi gadis impianmu. Kau hanya berkata "sudah terbiasa" saat kutanya mengapa masih bertahan.

Akan tetapi alasan itu tak cukup kuat untuk melindungiku dari pikiran yang senang mengarang skenario yang mungkin belum pasti tepat. Menempatkanmu sebagai peran utama berlatar wanita-wanita yang siap mengganti posisiku setiap saat. Menjerumuskanku pada ketidaktenangan yang jika kuutarakan membuatmu marah. Katamu aku cemburu buta.

Kemarahanmu lalu membuatku merasa bersalah telah curiga pada wanita-wanita yang jelas-jelas menggodamu dengan bebas. Dan entah bagaimana bisa semudah itu aku maafkan mereka sembari menuduh diriku sendiri terlalu posesif. Sepertinya pikiranku telah kau racun sampai-sampai tak lagi bisa membedakan mana yang benar dan salah.


“Buruan makannya, habis ini kita nonton ya?” pintanya sambil memegang sendok penuh nasi ayam yang siap dijejalkan ke mulut.

Aku mengangguk, “Kamu kapan main ke rumah?”

“Ntaran ah, masih sibuk,”


Entahlah. Ekspektasiku yang terlalu tinggi atau memang kau telah banyak meremehkan? Kini kau tak lagi punya waktu untuk main ke rumah. Katamu kau selalu sibuk kerja dan tak punya banyak waktu luang. Tapi kau masih mampu berkumpul dengan teman-temanmu setiap minggu untuk mengobrol dan main gim, katanya.

Tetapi kewarasanku dibebat lagi oleh sebagian diriku yang lain. Ditegaskannya pada hatiku yang sedang marah bahwa ini konsekuensi dari kesibukan kerjamu yang tak mungkin ditawar. Berkumpul dengan teman-teman adalah hiburan wajar untuk menghilangkan kepenatan. Sepantasnya aku yang mengalah dan tak banyak mau. Lagipula aku masih bisa beralasan pada orang tuaku jika suatu saat menanyakanmu. Lama-lama mereka juga lupa.


"Nggak jadi nonton deh. Kita pulang aja," Kata Tio di tengah perjalanan menuju bioskop "Nontonnya besok aja,"


Aku menghela nafas panjang tanda kecewa. Lagi-lagi kau membatalkan acara sepihak dan tiba-tiba tanpa alasan yang jelas. 


"Ya sudah. Nggak apa-apa," jawabku. 


Lihatlah, Tio. Bagaimana aku selalu mengalah untuk bertahan. Kiranya aku sangat keras kepala menunggumu berubah. Meski tak kurang dari sepuluh teman menyarankan untuk pisah. Kata mereka mungkin kini kau mulai punya simpanan atau sudah tak lagi cinta. Aku menolak percaya. Barangkali kau hanya sedang lupa menjadi romantis karena terlalu penat dijejali kesibukan sehari-hari. Kerap aku dihakimi pula karena perlakuanmu itu, bahkan oleh dua orang sahabatku.

Kata mereka aku seperti budak cinta tanpa pendirian. Katanya juga, banyak lelaki yang lebih baik darimu dan mampu memperlakukanku secara layak. Mungkin kata-kata mereka ada benarnya, meski hatiku tak pernah setuju. Karena berpindah hati bukan perkara mudah, kan? Semoga penantianku tak kau buat sia-sia.


“Aku pamit dulu, sampai ketemu besok.” Ucapku sambil mengembangkan senyum bahagia ke arahnya.


Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya

Advertisement

“Artikel ini merupakan kiriman dari pembaca hipwee, isi artikel sepenuhnya merupakan tanggung jawab pengirim.”

Berikan Komentar

Tim Dalam Artikel Ini

CLOSE