Beberapa hari terakhir ini aku stagnan. Aku yang biasa bermain rasa dan luka, mendadak tidak bisa menuliskan apapun. Benar, aku rindu padamu. Setiap malamku adalah kerinduan padamu, namun rindu itu hanya bisa membuatku menangis, bukan menulis.

Aku terpaku oleh rindu. Hanya kuasa menatap langit kamar yang kelabu dengan bayang senyummu. Sesak! Apakah kau tahu itu?

Advertisement

Aku menjulukimu si pemilik senyum permen, sebab memang begitulah adamu di mataku. Senyummu, tuan, yang menjadi rasa sakit sekaligus anestesi bagiku. Sudah tidak terhitung banyaknya aku berkeinginan melupakanmu, namun senyummu itu kembali membuatku lupa akan segala niatan itu. Bisakah kau kurangi sedikit saja efek mabuk dari senyum itu?

Kita sempat dekat, sedemikian dekat, hingga semestaku berpusat hanya padamu. Kau sempat meninggalkan tanpa pesan, tidak hanya sekali dua kali kau lakukan, untuk kemudian kau kembali dalam dekapan. Wanita normal manapun kurasa akan lelah dan menyerah jika diperlakukan demikian, tetapi aku memilih bertahan meski di antara kita sama sekali tidak ada hubungan. Wahai gerangan apakah yang membuat aku sedemikian kerasnya mencintaimu?

Pertama, kau meninggalkan karena kemarahanmu padaku. Jangankan menghubungiku, bahkan ketika tidak sengaja bertemu, menengok padaku pun kau sudah tidak mau. Meski sudah dua tahun berlalu, rasa sakit di masa-masa itu masih sedemikian lekat dalam diriku.

Advertisement

Pada saat Hari Raya Idul Fitri, aku manfaatkan momen itu untuk meminta maaf padamu, dan berujung dengan kata sama-sama darimu. Aku pikir semua usai hari itu, tapi aku salah. Kekeraskepalaanku membuatmu kembali, dan kita kembali dekat untuk beberapa saat.

Tidak lama kemudian kau meninggalkanku lagi. Pesan-pesanku tidak lagi kau balas, jikapun membalas, kau hanya akan mengirim satu dua kata sebagai formalitas. Apa yang sebenarnya ada dalam pikiranmu saat itu?

Namun kepergianmu saat itu tidak berlangsung lama, kau kembali padaku ketika kau tengah menjalani kewajibanmu mengabdi di desa dalam program kuliah kerja nyata. Aku katakan, itulah saat terdekat bagi kita. Meski tidak rutin, namun kau sering menelponku, lalu kita saling berbicara dan kau menyampaikan segala kesahmu padaku.

Kau tahu, betapa senang aku kau perlakukan demikian. Untuk kepercayaan menjadi kedua telingamu, aku ucapkan terima kasih.

Namun segala kedekatan itu usai, saat kau telah kembali ke sini. Kau kembali meninggalkan, dan aku yang bertekad melupakan namun tertahan jika bertemu senyummu yang memabukkan.Aku pernah berujar bahwa kau tidak pernah mengerti perasaanku, dan kau menjawab bahwa memang belum saatnya kau untuk mengerti perasaanku.

Wahai, tuan, berapa lamakah aku harus menunggu saat itu? Katakanlah, akan kulakukan dengan senang hati jika kau memintanya, tidak peduli lama atau sebentar.

Usai mengatakan demikian, kau lagi-lagi meninggalkan. Berbulan-bulan tanpa ada jalinan pesan. Sekarang giliranku menjalankan pengabdian, dan tanpamu malamku selalu terasa sepi juga menyakitkan. Tapi lagi-lagi kau memberiku kejutan, kau kembali saat tahu bahwa ada lelaki lain yang mendekatiku di sini.

Bahkan lebih dari kembali, kau kembali menemani hariku. Satu hal yang sangat berkesan bagiku saat itu, kau rela pulang kehujanan karena menuruti mauku yang menelponmu sampai berjam-jam.

Hanya saja, tidak lama setelahnya kau kembali pergi. Bahkan kau sampai menghapus nomor handphoneku dari kontakmu. Aku mencoba menghubungimu, namun hanya kau balas sekata dua kata. Jika sudah begini, apa yang bisa kulakukan?

Dua bulan kau tahan melakukan itu padaku, hingga kemudian kau menghubungiku melalui instagram dan memintaku untuk mengirimkan pesan whatsapp padamu. Temanku melarangku melakukan itu, tetapi kekeraskepalaanku mencintaimu tidak menghiraukan larangan itu.

Aku sendiri sebenarnya sering bertanya-tanya, aku ini sebenarnya makhluk macam apa hingga mencintaimu sampai sebegitunya?

Hari ini, saat ungkapan ini kutulis, kau kembali meninggalkanku. Memang kita sering bertemu, tetapi semua tidak lagi sama seperti dulu. Kau menjaga jarak, entah pasal apa. Tetapi bukankah kau memang sering melakukan hal demikian padaku?

Aku menyadari bahwa inilah saat yang tepat bagiku untuk menepati janji pada diriku sendiri untuk melupakanmu. Meski aku sangat tahu bahwa melupakanmu itu mendekati kemustahilan. Tidak masalah, aku menyukai tantangan.

Maka, kepadamu, si pemilik senyum permen yang memabukkan, semoga Tuhan selalu menjagamu. Jika esok lusa kau telah berbahagia, entah dengan siapa saja, ketahuilah bahwa orang yang telah keras kepala mencintaimu ini telah dikabulkan doanya.

Untuk segala kenangan yang tertoreh, aku sampaikan rasa terima kasih yang tak terbilang banyaknya. Aku pamit. Untuk hati yang tidak hanya sekali dua kali kau sakiti, aku izin pergi.

Advertisement

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya