Sebelum Childfree, Keputusan Punya Anak Satu Juga Sering Dianggap Aneh

Keputusan mempunyai anak satu

Akhir-akhir ini media sosial sedang dihebohkan tentang pembahasan childfree yang dipicu oleh keputusan salah satu influencer Indonesia yang memutuskan untuk tidak memiliki anak walaupun sudah menikah. Berbagai macam reaksi dari masyarakat ada yang pro dan ada juga yang kontra. Pembahasan dari sisi psikologis, agama, sosial yang melibatkan para ahli di bidangnya juga tidak luput menjadi perbincangan yang tak kunjung selesai. Awalnya itu menjadi keputusan pribadi, pada akhirnya menjadi sebuah fenomena yang dianggap tabu terutama oleh masyarakat Indonesia.

Advertisement

Keputusan sepasang suami istri untuk tidak memiliki anak memang masih dianggap hal yang tidak wajar bagi orang-orang Indonesia. Walaupun sebenarnya ya sah-sah saja dong mereka juga yang menjalani hidup. Mau punya anak atau tidak, bukan urusan orang lain juga. Sebelum ramainya perbincangan tentang childfree, ada keputusan yang sering dianggap aneh oleh orang-orang Indonesia yaitu keputusan untuk mempunyai anak satu. Saat memutuskan hal tersebut, orang lain akan berbondong-bondong mengajukan pertanyaan dan pernyataan yang sering membuat gemas.

Sebagai perempuan yang sudah menikah dan masih punya anak satu, saya sering berbincang dengan sesama ibu-ibu baik di kampung, tempat kerja, arisan, posyandu, bahkan di media sosial tentang keinginan untuk mempunyai berapa anak. Kebanyakan mereka merencanakan punya anak dua atau tiga tergantung usia mereka dan jarak usia anak pertama. 

Dari sekian banyaknya teman ibu-ibu yang merencanakan untuk mempunyai anak lebih dari satu, ada teman saya yang kukuh memutuskan untuk hanya mempunyai anak satu. Keputusannya tersebut diambil karena dia merasa merawat dan membesarkan anak itu bukan hal yang mudah. Pendidikan, agama, dan pemenuhan kebutuhan baik secara fisik maupun psikis harus terpenuhi sampai anak siap untuk dilepaskan ketika beranjak dewasa.

Advertisement

Pada awalnya teman saya tersebut dihujat oleh keluarga besarnya. Katanya, kasian lah nanti anakmu nggak ada temannya, dianggap pelit karena tidak mau keluar uang untuk punya anak lagi, dicap jadi ibu yang egois hanya mau memikirkan diri sendiri, sampai yang paling menyakitkan adalah dianggap sudah tidak subur karena tidak mau mengandung anak lagi. Hujatan-hujatan yang diterima dari keluarga besarnya tersebut karena memutuskan untuk hanya mempunyai satu orang anak pada akhirnya dianggap sebagai angin lalu karena keputusan kembali lagi pada teman saya dan suaminya. 

Memang, pertanyaan-pertanyaan tentang kapan hamil lagi atau kapan si kakak punya adik lagi masih saja diterima oleh teman saya dan suaminya. Tapi, seperti punya ilmu kebal teman saya sudah terbiasa menjawab dengan tegas tapi sedikit nyeleneh dan mengandung skakmat. Jawabannya seperti ini, Iya, alhamdulillah satu anak saja cukup. Di luar sana masih banyak juga yang belum dikaruniai anak. Daripada punya banyak anak tapi tidak dirawat dan dijaga dengan baik. Kan, kasihan anaknya. Makjleb.

Advertisement

Sebagai ibu yang masih punya anak satu, saya juga sering mendapat pertanyaan-pertanyaan serupa yang tidak jauh dari kapan punya anak lagi. Kalau saya sendiri memang belum memutuskan untuk hamil dan mempunyai anak karena saya menganggap usia anak saya yang belum genap 3 tahun masih sangat butuh perhatian orang tuanya. Kasihan nanti kalau punya adik dan merasa terabaikan. 

Tidak hanya sampai di situ, ketika ada orang yang bertanya kapan punya anak dan saya menjawab dengan kalimat seperti itu masih saja ada yang menyanggah dengan kalimat pembenaran berbalut pengalaman pribadi. Misalnya saja, Dulu saya hamil kedua ketika anak saya yang pertama berumur satu tahun. Nggak masalah tuh. Sudah nggak papa, nanti biar sekalian capeknya. Sembari tersenyum, dalam hati saya hanya bisa menjawab, Memangnya, punya anak itu tinggal ayo langsung jadi. Hadeh.

Perencanaan untuk mempunyai anak berapa atau bahkan tidak berencana untuk mempunyai anak memang menjadi keputusan pribadi tiap pasangan. Menjadi hal yang keliru ketika orang lain terlalu sibuk mengomentari hidup orang lain tanpa tahu kebenaran dan penyebab dari pengambilan keputusan tersebut. 

Kalau memang keputusannya baik untuk kelangsungan dan kewarasan hidupnya, nggak ada juga kan hubungannya dengan orang lain. Kecuali kalau keputusannya itu memberikan dampak yang buruk atau merugikan orang lain, boleh deh dinasihati. Asalkan dengan kalimat yang baik dan tidak saling menjatuhkan. Saling menghargai dan menghormati adalah kalimat yang mudah ditulis atau diucapkan tapi terkadang sulit untuk dipraktekkan.

Menjadi pribadi yang berusaha berpikiran positif apapun keputusan orang lain lebih baik daripada menyibukkan diri dengan membuang-buang waktu untuk mengomentari kehidupan orang lain.

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya

Advertisement

“Artikel ini merupakan kiriman dari pembaca hipwee, isi artikel sepenuhnya merupakan tanggung jawab pengirim.”

Berikan Komentar

Tim Dalam Artikel Ini

Penulis

"Jangan Bosan Jadi Orang Baik".

CLOSE