Aku hanya terbengong melihat ruang yang sangat sederhana ini. Mulai terasa begitu dingin, berdebu, dan banyak jaring laba-laba. Sejak kamu tak lagi bertandang kemari, ruang ini lebih banyak tertutup dan sepi tanpa canda tawamu yang dulu semarak setiap saat dan waktu dengan semangat yang menyala-nyala hingga nyaris tak ada kesempatan tanpa kehadiranmu. Ruang ini, kini gelap tanpa cahaya harapan yang lahir dari senyuman yang menghias bibirmu tatkala menyapa, seperti memancarkan suka cita dan kebahagiaanmu meski tempat ini mungkin terlalu minim untuk dirimu.

Dan aku hanya bisa diam melihat ini.

Advertisement

Tapi kini semua sudah tiada, kamu tak lagi hadir disini seperti biasanya, entah kamu mungkin sudah terlupa dengan jalan kembali ke sini, atau mungkin kamu telah menjadi begitu sombongnya sehingga tak sudi lagi mampir ke ruang yang sempit dan sangat-sangat sederhana ini, karena hanya ini yang aku punya. Atau mungkin kamu telah menemukan tempat lain yang telah membuatmu nyaman, terlena dan mungkin lupa bahwa kamu pernah mengatakan betah di ruang ini, dan tak ingin pergi lagi, karena kamu bilang merasa menemukan kedamaian jika ada disini. Aku mulai ragu, apakah hari itu kamu berkata benar atau hanya menghibur hatiku saja?


Segalanya mungkin memang akan berubah seiring waktu, begitu juga denganmu dan aku.


Kamu yang dulu hadir dengan ketulusan dan kemurnian, akhirnya mulai mempermasalahkan banyak hal, yang nyatanya aku memang tak akan pernah sempurna. Pasti ada saatnya aku dan juga kamu melakukan kesalahan yang mungkin tidak kita sengaja dan sadari. Namun kesalahanku selalu jadi sesuatu yang tak termaafkan. Aku selalu nampak salah dalam persepsimu, meski aku berusaha menjelaskan dengan sebenarnya, tapi tak tersisa sedikit pun rasa percayamu kepadaku.

Advertisement

Pada suatu kondisi kamu memutuskan untuk tidak menghubungiku lagi, dengan alasanmu yang kucoba untuk terima meski sebenarnya sulit untuk kuterima. Ketika aku dalam posisimu, maka kamu pun masih tetap tak mau mnghubungiku lagi, dengan alasan yang sama, dan aku juga tetap harus menerima. Sampai akhirnya komunikasi kini tinggal ada jika aku memulai, dengan jawaban-jawaban singkatmu. Tak pernah ada lagi sapaan darimu, atau sekedar menanyakan kabarku seperti sebelumnya. Kamu hanya menjawab singkat pertanyaanku saja, yang terkadang seringkali hanya berisikan emosi dan kekesalan.


Nalarku masih belum mampu memahami apa yang kamu pikirkan tentangku, karena aku merasa tak pernah melakukan semua yang kamu tuduhkan padaku


Aku hanya bertindak sesuai tuntutan situasi yang aku anggap perlu untuk dilakukan agar segalanya tetap baik seperti yang kita rencanakan di awal. Mungkin aku terlalu bodoh untuk bisa mengerti jalan pikiranmu yang kamu anggap itu cinta tapi selalu menyudutkanku dengan kesalahan yang harus aku terima.

Dari situlah cerita ruangan ini mulai sepi bermula, aku tak tahu apakah kamu masih akan kembali atau akan tetap kukuh dengan persepsimu tentangku, sebagai sebab atau justru mungkin sebagai alasanmu untuk memaksaku menyerah dan mengakui keunggulanmu dalam rasa. Atau waktu memang akan membuktikan bahwa rasamu itu benar adanya dan tak mampu aku pahami, yang pasti waktu akan bercerita hal yang paling benar kepada sejarah yang akan tertinggal dari jejak-jejak yang kita tinggalkan.

Advertisement

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya