Ku temukan senyum manismu di sudut keramaian kala itu

Sepertinya salah jika aku menyimpulkan perasaanku sendiri kalau aku mengaguminya. Saat pertama ku menemukanmu kala itu, rasanya wagu kalau tidak saling melempar senyum. Mencoba untuk menyapa tapi ku ragu, sampai-sampai kamu yang menyapaku dulu. Pikirku kala itu, "Yaampun, kok dia humble sekali yaa ternyata".

Advertisement

Aku masih mengingat-ingatnya, bahwa lebih dari 2x ku bertemu dengannya tanpa di sengaja. Dekat dan semakin mendekat dia mengajakku ngobrol. Ku mencoba menutupi getaran di dadaku, alih-alih tetap tenang didekatnya.


“Yaa kak” Jawabku singkat mengiyakan apa yang dia tanyakan. Voilaaa! Dia ngajak ngobrol duluan.


Banyak orang berlalu-lalang, saling tegur sapa, menikmati apa yang ada di depan mata. Sama seperti halnya aku. Inginku memberanikan diri berbincang-bincang dengannya. Tapi ku tak sanggup merasakan getaran dada yang semakin bergelora. Sepersekian detik, aku masih melihatnya di ujung keramaian. Ku mencoba menundukan pandanganku, agar mataku tidak meliriknya lagi. Ku mencoba berbincang-bincang dengan samping kanan kiriku, agar waktu cepat berlalu.

Advertisement

Detik demi detik, menit ke menit, waktu berlalu. Ku melaju meninggalkan tempat itu. Berharap lenyap bersama angin agar ku tak menemukan senyum manisnya di kemudian hari.


“Bye-bye, semoga rasaku tetap aman yaa” Batinku dalam hati


Pagi berganti siang, siang berganti malam. Entah seperti ada yang mengusik di kepalaku, seperti tak diijinkan untuk melelapkan mata. Samar-samar terekam senyum manisnya di pikiranku. Lagi-lagi aku gagal setelah mengingat chatt darinya masuk, seolah runtuh pertahanan hatiku dibuatnya. Mataku semakin lebar, dan seketika aku tersenyum. Entah apa yang harus ku lakukan agar aku tetap terpejam dengan tenang.

Sepertinya dia mencoba untuk memasuki ruang hati. Atau mungkin ini kesalahku sendiri mengijinkannya mengendap di dasar hati?


“Kepadamu pencuri hati, yang tak kusangka kan datang secepat ini” – Lagunya Gisella


Semakin hari semakin nggak jelas perasaanku, lagi-lagi dibuatnya tersipu. Sempat terbesit Inginku ungkapkan, tapi tak sampai hati untuk menyampaikannya. Bukankah lebih baik diam memendam perasaanku sendirian? Karena aku sadar diri, aku hanya wanita biasa. Mencoba tetap netral membentengi rasaku agar tidak menjalar ke mana-mana. Mengagumi dengan bijaksana mungkin itu prinsipku menjadi wanita


“Inikah namanya cinta oh inikah cinta

Cinta pada jumpa pertama

Inikah rasanya cinta oh inikah cinta

Terasa bahagia saat jumpa

Dengan dirinya”


Advertisement

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya