Aku tidak tahu apakah kita telah memperjuangkan cinta kita atau kita hanya berpura-pura telah memperjuangkannya? Aku tidak tahu apakah kamu benar telah berusaha untuk mencegah perjodohanmu, atau kamu hanya mencegahnya lewat doa tanpa usaha?

Hari ini yang aku tahu kenyataan pahit itu harus kutelan, pasti. Tidak ada lagi keajaiban yang bisa kuangankan. Tidak lagi bisa kusapa dirimu dari balik telepon genggam untuk meredamkan rinduku. Sekarang dirimu telah sah diikat olehnya, laki-laki yang dikenalkan denganmu lima bulan yang lalu oleh keluargamu. Pukul sembilan pagi hari ini dia telah mengucapkan ijab kabul, berjabat tangan dengan ayahmu, disaksikan oleh ibumu juga lukaku.

Advertisement

Nelangsa yang kurasa membuat ragaku menerawang, menemui hatimu di sana yang barangkali tengah menitikkan air mata. Semoga bukan air mata yang sama saat kita bertemu lima hari yang lalu. Hari itu aku menatap lekat matamu, kau memancarkan kegelisahan yang tak bisa aku bendung. Aku hanya membeku melihat kau tersedu dengan sesak.

"Bawa aku", katamu dalam isak.

Jika aku mengabaikan logikaku, tidak berpikir sehat maka aku sudah membawamu jauh, meninggalkan semua ritual yang telah dilakukan dua keluarga, ayahmu dan juga ayahnya. Tapi aku sadar, membawamu tidak menyelesaikan masalah, justru menambah masalah baru dan kita tidak akan mendapatkan titik terang apapun tanpa restu dari ibumu.

Advertisement

Aku ingin sekali mendekapmu sore itu, tapi melihat cincin yang melingkar di jari manismu, membatasi ruang gerakku, mengingatkanku bahwa kamu telah dilamar oleh laki-laki itu, bahwa aku hanya laki-laki yang pernah dan masih mencintaimu bahkan sampai hari ini.

Kemarin aku berikrar jika pernikahanmu dengannya tidak terjadi, aku akan langsung datang kepada ayahmu. Meminta restu ibumu untuk membawamu menjadi istriku, dengan apa yang kumiliki saat ini aku akan meyakinkan keluargamu bahwa aku akan membuat anak semata wayangnya ini bahagia. Namun, dunia saat ini tengah berteriak padaku bahwa aku tidak lagi bisa mewujudkan ikrar itu menjadi kebahagian untuk kita. Kamu tahu dia yang sekarang telah menjadi suamimu juga ikut berteriak di telingaku.

"Sudahlah, dia telah menajdi istriku. Pergilah dari kehidupannya. Kamu telah kalah, kalah untuk sesuatu yang memang tidak kamu perjuangkan. Jika kamu memang laki-laki yang menginginkan dia menjadi bidadarimu, kamu tentu akan datang ke rumahnya tanpa peduli dengan semua ritual kami yang telah berlangsung. Datang mengatakan bahwa kamu memang lebih baik dari aku. Tapi nyata kamu tidak melakukan itu, bukan? Itu sudah menjawab bahwa akulah yang terbaik untuknya. Jadi kuminta ucapkan selamat tinggal untuk hatimu yang mencintainya."

Aku membeku kelu, menepuk dadaku.

Advertisement

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya