3 Ketakutan yang Sering Membuat Seseorang Enggan Memulai Menulis. Wajar sih, tapi Tetap Semangat ya!

enggan memulai menulis

Ternyata, untuk mulai menulis terkadang tidak semudah yang kita bayangkan. Mengetahui manfaat menulis tidak serta-merta menjadikan seseorang langsung untuk mulai menulis. Ada beberapa halangan yang sering dialami seseorang ketika ingin mulai menulis, baik yang bersifat teknis maupun non teknis yang saya istilahkan sebagai halangan psikologis. Kali ini kita akan membahas terlebih dahulu halangan psikologis yang sering menjadikan seseorang masih enggan untuk mulai menulis, yaitu ketakutan.

Advertisement

Ketakutan pada dasarnya merupakan hal yang wajar timbul karena kita akan melakukan suatu hal yang baru. Sebagaimana memulai bisnis, pasti ada ketakutan yang timbul. Begitu juga dengan menulis. Namun, ketakutan ini menjadi tidak wajar ketika ia mendominasi dan menjadikan kita tidak berani melakukan hal baru tersebut. Nah, apa saja sih 3 ketakutan yang sering menjadikan seseorang masih enggan untuk mulai menulis?

Takut karena merasa tulisan jelek

Ini alasan mendasar yang mungkin saya dan kita sering jumpai ketika mengajak seseorang untuk mulai menulis. Namun, saya sering tergelitik ketika mendengar alasan ini. Kenapa? Dari mana kita bisa tahu kalau tulisan itu jelek sedangkan menulis satu huruf saja tidak pernah? Apa kita bisa membaca masa depan makanya mengatakan tulisan itu jelek? Lucu kadang mendengar alasan ini.

Seorang mentor menulis saya pernah berkata, “Tidak ada penulis yang mati karena tulisannya yang jelek.” Betul bukan? Penah nggak kita mendengar penulis yang mati karena tulisannya jelek? Saya rasa tidak pernah. Penulis yang tulisannya bagus pun pasti berawal dari tulisan-tulisan yang jelek. Tidak mungkin tulisan mereka langsung bagus. Bahkan kadang saya berpikir kita terlalu sombong ketika berharap tulisan pertama yang buat kita langsung bagus. Saya katakan sombong karena kita tidak mau melewati sebuah proses. Maunya instan melulu.

Maka dari sekarang ayo mulai menulis. Tidak peduli seberapa jelek dan hancur tulisan kita, yang penting tetap menulis. Tugas kita menulis bukan menilai. Yang menilai adalah orang lain atau pembaca. Jika mereka menilai tulisan kita jelek, jadikan itu masukan untuk memperbaiki tulisan kita bukannya malah menjadikan itu sebagai alasan untuk berhenti menulis.

Advertisement

Takut karena merasa nggak ada yang membaca tulisan yang dibuat

Ketakutan kedua ini agak mirip sebenarnya dengan yang pertama. Bedanya, jika di ketakutan pertama masalahnya berada di ketakutan untuk menulis, yang ketakutan kedua ini masalahnya berada di ketakutan untuk mempublish tulisan yang sudah dibuat.


“Ih, kayaknya tulisan saya nggak ada yang baca deh. Soalnya pembahasannya nggk seru deh.” 


Kembali lagi seperti di awal. Bagaimana mungkin kita bisa tahu kalau tulisan kita dibaca atau tidak jika nggak pernah mempublish tulisan tersebut ke umum? Apakah kita punya kemampuan membaca masa depan makanya mengatakan tulisan tersebut nggak akan dibaca?

Seorang mentor menulis saya pernah berkata, “Setiap tulisan akan menemukan jodoh (pembaca)nya tersendiri.” Iya, mungkin saja tulisan kita yang kita buat nggak dibaca oleh kalangan orang tua, tapi dibaca dan disukai oleh kalangan anak muda. Atau mungkin sebaliknya. Jadi, jangan takut untuk menulis. Tugas kita menulis. Biarkan tulisan yang kita buat menemukan pembacanya dengan sendirinya.

Takut karena merasa tulisan yang dibuat nggak sesuai dengan pribadi kita sebagai penulis

Maksudnya seperti ini. Pernah nggak ketika ingin menulis sebuah tema misal, mengenai larangan berbohong, terus nggak jadi menulis tentang itu karena merasa kita masih suka berbohong? Nah, itu yang saya maksud. Nggak berani menulis atau mempublish tulisan yang dibuat karena takut isinya tidak mecerminkan perilaku kita. Kalau bahasa agamanya takut dikira munafik.

Ketakutan ini buat saya pribadi yang paling susah untuk dihilangkan. Bahkan dari awal menulis sampai sekarang pun, perasaan takut ini masih sering menghampiri. Lantas bagaimana cara menghilangkan ketakutan ini? Cara yang coba saya gunakan adalah dengan menganggap tulisan yang kita buat tersebut sebagai pengingat.

Kita memang susah untuk bisa 100% sama dengan tulisan yang kita buat. Namanya manusia pasti sering berbuat salah. Setidaknya dengan adanya tulisan tersebut, bisa menjadi pengingat bahwa kita harus selalu mencoba agar perilaku kita sesuai dengan tulisan yang kita buat. Atau menjadi pengingat di kala kita melakukan kesalahan.

Jadi, tugas kita adalah menulis. Dan tulisan yang kita buat selain ditujukan untuk orang lain, harus ditujukan pula untuk kita sendiri sebagai self correction agar kita menjadi pribadi yang baik.

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya

Advertisement

“Artikel ini merupakan kiriman dari pembaca hipwee, isi artikel sepenuhnya merupakan tanggung jawab pengirim.”

Berikan Komentar

Tim Dalam Artikel Ini

Penulis

Biasa dipanggil Dhafin. Seorang mahasiswa Hubungan Internasional di Universitas Mataram. Mencintai dunia kepenulisan sejak SMA dan menulis berbagai macam tulisan bertema islam, sejarah dan isu terkini.

Editor

une femme libre

CLOSE