Berbicara tentang cinta. Mari kita awali dengan menyebut nama Dia Sang Maha Cinta, Allah Subhanahu Wa Ta’alla..

Maha Suci Allah yang menciptakan cinta. Dia menciptakan manusia dengan cinta. Dia pun tentu menciptakan cinta dengan cinta-Nya.

Advertisement

Cinta adalah sebuah perasaan kasih yang sangat agung, selagi cinta itu dalam berada jalur yang benar. Namun, cinta akan menjadi nestapa dan derita saat cinta itu berada di jalur yang salah arah. Lantas, seperti apa jalur yang benar dalam cinta?

Cinta adalah sebuah anugerah dari Yang Maha Kuasa. Dengan cinta, kita bisa menikmati manis dan pahitnya perjalanan dunia yang fana ini. Dengan cinta, kita belajar saling menguatkan satu sama lain. Dengan cinta kita belajar saling mencintai. Dengan cinta, kita belajar untuk peduli. Karena cinta, kita bisa menghargai dan dihargai. Karena cinta adalah untuk Dia sang Illaahi.

Di awal tulisanku ini, aku akan berbagi mengenai kisah cintaku.

Advertisement

Sampai saat ini, aku belum pernah merasakan yang namanya pacaran. Dulu, aku begitu sedih terhadap statusku yang tidak pernah berubah. Ketika teman-temanku asyik membicarakan pacarnya, aku hanya bisa tersenyum mendengarnya. Dulu, aku begitu sedih dengan keadaanku. Tapi sekarang, aku bahagia. Kebahagiaanku ini bukan karena aku sekarang sudah punya pacar, Naudzubillah. Semoga Allah menjauhkanku dari cinta tak halal itu. Justru kini aku bahagia karena aku terjaga dari dosa berpacaran. Aku bahagia karena Allah melindungiku dari cinta terlarang. Aku bahagia karena kini aku tahu makna cinta yang sebenarnya, cinta karena Allah Ta’alla.

Ketika Jahiliyahnya Cinta Memberi Derita

Sembilan tahun yang lalu, aku adalah seorang gadis biasa yang tidak mengerti arti cinta yang sesungguhnya. Cinta selalu saja aku identikkan kepada perasaan terhadap lawan jenis yang berwajah rupawan, berkantong tebal, dan berwawasan cemerlang. Meskipun aku tidak pernah merasakan bagaimana rasanya pacaran, tapi aku pernah juga merasakan jatuh cinta.

Pertama kali aku jatuh cinta yaitu pada waktu sekolah menengah pertama. Saat itu aku mulai mencuri-curi pandang dan perhatian pada teman sekelasku. Dia anak yang manis, pintar, dan lucu. Aku menyukainya, bahkan sampai-sampai aku naksir kepadanya. Duh, rasanya malu mengungkap aib ini. Dulu, aku pernah mengirim surat cinta kepadanya. Padahal, aku seorang wanita!

Rasa cintaku kuyakini begitu hebatnya. Perasaan itu bertahan hingga 5 tahun berada di dada. Hingga pada hari itu, aku begitu terluka. Patah hati karena cinta, sampai-sampai aku mengucurkan air mata. Aku terluka, dan tak percaya. Hatiku dicampakkan oleh dia. Lima tahunku sia-sia karena memikirkan dia yang nyatanya tak menjadi siapa-siapa.

Rasa cintaku yang berlebihan, mengakibatkan sakit pula yang berlebihan. Pada saat itu, aku sama dengan gadis jahiliyah lainnya. Curhat kesedihan di sosial media, mencaci maki, marah, dan memposting kehancuran hati yang bertubi-tubi. Lebay memang, galau dibeberkan! Hehe, tapi itulah aku pada saat remaja dulu. Itulah masa laluku.

Akan tetapi, di setiap kejadian selalu ada pelajaran di dalamnya. Dari cinta aku belajar tentang hakikat cinta. Karena cinta aku bisa bahagia. Dan dari bahagia aku tahu, bahwa derita pasti ada. Karena bahagia pasti memiliki jeda. Dari cinta jahiliyahku dulu, aku kenal rasanya derita. Dari derita itu, aku belajar memahami hakikat cinta.

Ketika Derita Mengajarkan Cinta

Di saat aku terluka, duka mengajarkanku banyak hal. Dari derita, aku belajar untuk tidak berlebihan dalam perasaan. Dari derita, aku belajar untuk tidak berharap kepada manusia. Dari derita, aku belajar hidup bersahaja untuk cinta.

Ternyata Allah sudah sejak dulu mengajarkan hal ini pada umat manusia. Hanya saja, aku yang terlalu bodoh memahaminya. Saat itu akhirnya aku tahu makna dari ayat-ayat-Nya. Derita hatiku ini akhirnya mengajarkanku. Dia mengajarkanku untuk tidak berlebihan dalam kecintaan terhadap seseorang. Allah berfirman, bahwasannya, “Janganlah kamu terlalu mencintai sesuatu, bisa jadi suatu hari nanti engkau membencinya. Dan jangalah engkau terlalu membenci sesuatu, karena bisa jadi suatu hari nanti engkau mencintainya”. Boleh jadi, kita membenci sesuatu padahal ia amat baik bagi diri kita, dan boleh jadi pula kita menyukai sesuatu padahal ia amat buruk bagi diri kita. Sesungguhnya, Allah Maha Mengetahui, sedangkan kita tidak tahu apa-apa.

Aku pun sekarang tahu, mengapa aku begitu terluka. Aku terluka karena aku berharap pada manusia. Padahal Allah itu Maha Pencemburu. Dia sangat mencemburui hati yang berharap kepada selain Dia. Dan hatiku berharap pada temanku yang sebenarnya bukanlah apa-apa bila dibandingkan dengan Dia. Allah mencemburuiku karena Allah mencintaiku. Allah inginkan aku berada di jalan yang benar dan lurus, sehingga Ia menunjukkan kebenaran itu kepadaku.

Dari ayat itu, kini aku sadar, bahwa aku telah berlebihan dalam mencintai seseorang. Saat ini aku sadar bahwa ternyata cintaku itu sangat tidak rasional. Sungguh, Maha Baiknya Allah, karena Dia memberiku derita agar aku paham apa arti cinta. Masyaa Allah.

Metamorfosa cinta dalam diam

Aku sadar, bahwa seharusnya aku tidak mencintai seseorang dengan berlebihan apalagi dia bukanlah kekasih halal. Akan tetapi, syetan terus saja membisikkan bahwa ada pria shaleh di sana yang pantas untuk aku cintai. Hingga aku terjebak bujuk rayu syetan. Aku kembali memikirkan seseorang, yang tak pantas berada di pikiranku. Mataku sering tergoda untuk melirik ke arahnya. Bibirku tersenyum, saat dia ada. Hatiku melayang saat dia menyapa, dan pikiranku hanya dia dan dia saat dia jauh dari mata. Astagfirullah.. syetan, berhasil lagi menjerumuskanku pada cinta.

Cinta dalam diam bukanlah cinta karena Allah. Sebab, cinta karena Allah adalah cinta yang ada karena ingin Allah meridhoinya. Cinta karena Allah adalah cinta yang kita tujukan kepada seseorang yang berhak dan halal untuk kita cintai agar Allah pun mencintai kita. Agar Allah semakin dekat dengan kita. Lalu apa cinta dalam diam? Ada yang berkata bahwa, cinta dalam diam adalah diamnya dalam taat, bukan maksiat. Menurutku, jika diam-diam memperhatikan dan diam-diam menaruh perasaan tentu ada kemungkinan mudah berlabuh pada maksiat. Akan tetapi, jika cinta dalam diamnya dalam taat, pasti akan berujung pada diam tidak mencintai. Hal ini terjadi karena ketaatan akan mengantarkan pada kebenaran.

Yang kurasakan, cinta dalam diam itu lebih menyakitkan. Lebih baik tidak mencintai siapa-siapa selain mereka yang halal kita cintai. Ketika kita mencintai dalam diam, kita seperti terpenjara dalam cinta. Padahal, cinta bukanlah kejahatan ataupun sesuatu yang dilarang. Kesalahan dari cinta dalam diam, membuat kita berharap secara sembunyi-sembunyi. Hal ini membuat jiwa terluka. Padahal Allah mencemburui hati yang berharap kepada selain Dia.

Lalu, apa yang harus kita lakukan?

Kita harus bisa diam tidak mencintai. Cinta memang fithrah manusia, tapi fithrah itu bisa tersesat bila belum saatnya fithrah itu ada. Ibaratnya seperti seorang anak yang ingin masuk ke perguruan tinggi, padahal dia masih anak-anak. Jika dipaksakan, maka anak itu akan menderita, karena 1 + 1 pun dia tidak bisa. Tapi jika dia terus berharap dalam diam, anak itu pasti akan menderita karena berkhayal hal yang belum semestinya. Tentu saja anak itu harus diberi pemahaman bahwa dia boleh masuk ke perguruan tinggi jika dia sudah dewasa dan sudah menamatkan sekolah dasar dan menengah. Seiring dengan berjalannya waktu, dia pun pasti akan masuk ke perguruan tinggi saat waktunya sudah tiba.

Sama halnya pula dengan cinta. Cinta membutuhkan waktu dan proses. Cinta adalah fithrah yang boleh ada bila sudah menikah. Dari sekarang, kita harus belajar terlebih dahulu apa bagian-bagian dari cinta. Kita harus bisa dulu mencintai Allah, Rasulullah, Al-Qur’an, orang tua, keluarga, saudara, atau teman yang lainnya. Barulah setelah kita menikah, kita belajar lagi mengenai cinta pada pasangan halal kita.

Cinta dalam diam adalah diam tidak mencintai, bukan diam-diam mencintai. Ketika cinta tak halal itu hinggap, segeralah tepiskan segala rasa dan goda. Segeralah terbang cepat, hingga Syetan tak sanggup hinggap. Usirlah segala rasa yang tak semestinya. Jangan dipelihara di mata, telinga, jiwa, ataupun doa. Tapi, peliharalah iman kita, bukan pelihara cinta yang tak semestinya. Berdoalah agar Allah memberikan kita jalan menuju cinta yang mengundang cinta-Nya. Teruslah memperbaiki diri karena Allah, bukan karena dia. Laki-laki yang baik adalah untuk wanita yang baik, begitupun sebaliknya. Jadilah baik jika ingin dibersamakan dengan dia yang baik pula. Tapi, jangan sampai kita berusaha menjadi baik karena ingin mendapatkan pasangan yang baik. Jadilah baik, agar Allah baik kepadamu sehingga akhirnya Dia akan memberikan jodoh terbaik. Aamiin ya Allah, Aamiin ya Rabbal ‘Alaamiin.

Kini, aku pun menanti cintaku..

Selangkah demi selangkah aku berjalan memahami hakikat cinta. Aku berjalan menyusuri kehidupan untuk menemukan cinta. Dan kini aku telah menemukan cinta, cinta Kepada-Nya yang membuatku bahagia sepanjang massa. Cintaku kini sudah bermetamorfosa, menjadi cinta yang indah. Bukan lagi cinta yang menjijikan dan penuh dosa dan derita. Kini, aku begitu mencintai-Nya dari apapun juga.

Namun, tetap tak bisa kupungkiri bahwa saat ini, aku pun masih menanti. Aku menanti dia yang akan menuntunku untuk semakin mencintai Dia. Karena di jalan hidupku ini, aku butuhkan seorang imam yang menuntunku dengan cinta menuju keridhoan-Nya. Tak perlu rupawan, hartawan, ataupun cendekiawan lagi. Cukup dia beriman kepada Tuhan, aku akan menerimanya. Karena, dialah seseorang yang aku rindukan. Aku merindukan orang yang beriman untuk ada di dekatku. Aku mencintai orang beriman, meskipun imanku pun belum sempurna. Aku menginginkan orang yang beriman yang memberiku cinta sehingga aku semakin mencintai-Nya. Siapapun itu, asalkan dia juga mencintai Allah Subahanu Wa Ta’alla.

Ketika Cinta Bermetamorfosa, Sekarang Aku Paham Makna Dibalik Rasa

Ketika cinta bermetamorfosa, sekarang aku sadar “Apa hakikat cinta yang sesungguhnya”

Berbicara tentang cinta. Mari kita awali dengan menyebut nama Dia Sang Maha Cinta, Allah Subhanahu Wa Ta’alla..

Maha Suci Allah yang menciptakan cinta. Dia menciptakan manusia dengan cinta. Dia pun tentu menciptakan cinta dengan cinta-Nya.

Cinta adalah sebuah perasaan kasih yang sangat agung, selagi cinta itu dalam berada jalur yang benar. Namun, cinta akan menjadi nestapa dan derita saat cinta itu berada di jalur yang salah arah. Lantas, seperti apa jalur yang benar dalam cinta?

Cinta adalah sebuah anugerah dari Yang Maha Kuasa. Dengan cinta, kita bisa menikmati manis dan pahitnya perjalanan dunia yang fana ini. Dengan cinta, kita belajar saling menguatkan satu sama lain. Dengan cinta kita belajar saling mencintai. Dengan cinta, kita belajar untuk peduli. Karena cinta, kita bisa menghargai dan dihargai. Karena cinta adalah untuk Dia sang Illaahi.

Di awal tulisanku ini, aku akan berbagi mengenai kisah cintaku.

Sampai saat ini, aku belum pernah merasakan yang namanya pacaran. Dulu, aku begitu sedih terhadap statusku yang tidak pernah berubah. Ketika teman-temanku asyik membicarakan pacarnya, aku hanya bisa tersenyum mendengarnya. Dulu, aku begitu sedih dengan keadaanku. Tapi sekarang, aku bahagia. Kebahagiaanku ini bukan karena aku sekarang sudah punya pacar, Naudzubillah. Semoga Allah menjauhkanku dari cinta tak halal itu. Justru kini aku bahagia karena aku terjaga dari dosa berpacaran. Aku bahagia karena Allah melindungiku dari cinta terlarang. Aku bahagia karena kini aku tahu makna cinta yang sebenarnya, cinta karena Allah Ta’alla.

Ketika Jahiliyahnya Cinta Memberi Derita

Sembilan tahun yang lalu, aku adalah seorang gadis biasa yang tidak mengerti arti cinta yang sesungguhnya. Cinta selalu saja aku identikkan kepada perasaan terhadap lawan jenis yang berwajah rupawan, berkantong tebal, dan berwawasan cemerlang. Meskipun aku tidak pernah merasakan bagaimana rasanya pacaran, tapi aku pernah juga merasakan jatuh cinta.

Pertama kali aku jatuh cinta yaitu pada waktu sekolah menengah pertama. Saat itu aku mulai mencuri-curi pandang dan perhatian pada teman sekelasku. Dia anak yang manis, pintar, dan lucu. Aku menyukainya, bahkan sampai-sampai aku naksir kepadanya. Duh, rasanya malu mengungkap aib ini. Dulu, aku pernah mengirim surat cinta kepadanya. Padahal, aku seorang wanita!

Rasa cintaku kuyakini begitu hebatnya. Perasaan itu bertahan hingga 5 tahun berada di dada. Hingga pada hari itu, aku begitu terluka. Patah hati karena cinta, sampai-sampai aku mengucurkan air mata. Aku terluka, dan tak percaya. Hatiku dicampakkan oleh dia. Lima tahunku sia-sia karena memikirkan dia yang nyatanya tak menjadi siapa-siapa.

Rasa cintaku yang berlebihan, mengakibatkan sakit pula yang berlebihan. Pada saat itu, aku sama dengan gadis jahiliyah lainnya. Curhat kesedihan di sosial media, mencaci maki, marah, dan memposting kehancuran hati yang bertubi-tubi. Lebay memang, galau dibeberkan! Hehe, tapi itulah aku pada saat remaja dulu. Itulah masa laluku.

Akan tetapi, di setiap kejadian selalu ada pelajaran di dalamnya. Dari cinta aku belajar tentang hakikat cinta. Karena cinta aku bisa bahagia. Dan dari bahagia aku tahu, bahwa derita pasti ada. Karena bahagia pasti memiliki jeda. Dari cinta jahiliyahku dulu, aku kenal rasanya derita. Dari derita itu, aku belajar memahami hakikat cinta.

Ketika Derita Mengajarkan Cinta

Di saat aku terluka, duka mengajarkanku banyak hal. Dari derita, aku belajar untuk tidak berlebihan dalam perasaan. Dari derita, aku belajar untuk tidak berharap kepada manusia. Dari derita, aku belajar hidup bersahaja untuk cinta.

Ternyata Allah sudah sejak dulu mengajarkan hal ini pada umat manusia. Hanya saja, aku yang terlalu bodoh memahaminya. Saat itu akhirnya aku tahu makna dari ayat-ayat-Nya. Derita hatiku ini akhirnya mengajarkanku. Dia mengajarkanku untuk tidak berlebihan dalam kecintaan terhadap seseorang. Allah berfirman, bahwasannya, “Janganlah kamu terlalu mencintai sesuatu, bisa jadi suatu hari nanti engkau membencinya. Dan jangalah engkau terlalu membenci sesuatu, karena bisa jadi suatu hari nanti engkau mencintainya”. Boleh jadi, kita membenci sesuatu padahal ia amat baik bagi diri kita, dan boleh jadi pula kita menyukai sesuatu padahal ia amat buruk bagi diri kita. Sesungguhnya, Allah Maha Mengetahui, sedangkan kita tidak tahu apa-apa.

Aku pun sekarang tahu, mengapa aku begitu terluka. Aku terluka karena aku berharap pada manusia. Padahal Allah itu Maha Pencemburu. Dia sangat mencemburui hati yang berharap kepada selain Dia. Dan hatiku berharap pada temanku yang sebenarnya bukanlah apa-apa bila dibandingkan dengan Dia. Allah mencemburuiku karena Allah mencintaiku. Allah inginkan aku berada di jalan yang benar dan lurus, sehingga Ia menunjukkan kebenaran itu kepadaku.

Dari ayat itu, kini aku sadar, bahwa aku telah berlebihan dalam mencintai seseorang. Saat ini aku sadar bahwa ternyata cintaku itu sangat tidak rasional. Sungguh, Maha Baiknya Allah, karena Dia memberiku derita agar aku paham apa arti cinta. Masyaa Allah.

Metamorfosa cinta dalam diam

Aku sadar, bahwa seharusnya aku tidak mencintai seseorang dengan berlebihan apalagi dia bukanlah kekasih halal. Akan tetapi, syetan terus saja membisikkan bahwa ada pria shaleh di sana yang pantas untuk aku cintai. Hingga aku terjebak bujuk rayu syetan. Aku kembali memikirkan seseorang, yang tak pantas berada di pikiranku. Mataku sering tergoda untuk melirik ke arahnya. Bibirku tersenyum, saat dia ada. Hatiku melayang saat dia menyapa, dan pikiranku hanya dia dan dia saat dia jauh dari mata. Astagfirullah.. syetan, berhasil lagi menjerumuskanku pada cinta.

Cinta dalam diam bukanlah cinta karena Allah. Sebab, cinta karena Allah adalah cinta yang ada karena ingin Allah meridhoinya. Cinta karena Allah adalah cinta yang kita tujukan kepada seseorang yang berhak dan halal untuk kita cintai agar Allah pun mencintai kita. Agar Allah semakin dekat dengan kita. Lalu apa cinta dalam diam? Ada yang berkata bahwa, cinta dalam diam adalah diamnya dalam taat, bukan maksiat. Menurutku, jika diam-diam memperhatikan dan diam-diam menaruh perasaan tentu ada kemungkinan mudah berlabuh pada maksiat. Akan tetapi, jika cinta dalam diamnya dalam taat, pasti akan berujung pada diam tidak mencintai. Hal ini terjadi karena ketaatan akan mengantarkan pada kebenaran.

Yang kurasakan, cinta dalam diam itu lebih menyakitkan. Lebih baik tidak mencintai siapa-siapa selain mereka yang halal kita cintai. Ketika kita mencintai dalam diam, kita seperti terpenjara dalam cinta. Padahal, cinta bukanlah kejahatan ataupun sesuatu yang dilarang. Kesalahan dari cinta dalam diam, membuat kita berharap secara sembunyi-sembunyi. Hal ini membuat jiwa terluka. Padahal Allah mencemburui hati yang berharap kepada selain Dia.

Lalu, apa yang harus kita lakukan?

Kita harus bisa diam tidak mencintai. Cinta memang fithrah manusia, tapi fithrah itu bisa tersesat bila belum saatnya fithrah itu ada. Ibaratnya seperti seorang anak yang ingin masuk ke perguruan tinggi, padahal dia masih anak-anak. Jika dipaksakan, maka anak itu akan menderita, karena 1 + 1 pun dia tidak bisa. Tapi jika dia terus berharap dalam diam, anak itu pasti akan menderita karena berkhayal hal yang belum semestinya. Tentu saja anak itu harus diberi pemahaman bahwa dia boleh masuk ke perguruan tinggi jika dia sudah dewasa dan sudah menamatkan sekolah dasar dan menengah. Seiring dengan berjalannya waktu, dia pun pasti akan masuk ke perguruan tinggi saat waktunya sudah tiba.

Sama halnya pula dengan cinta. Cinta membutuhkan waktu dan proses. Cinta adalah fithrah yang boleh ada bila sudah menikah. Dari sekarang, kita harus belajar terlebih dahulu apa bagian-bagian dari cinta. Kita harus bisa dulu mencintai Allah, Rasulullah, Al-Qur’an, orang tua, keluarga, saudara, atau teman yang lainnya. Barulah setelah kita menikah, kita belajar lagi mengenai cinta pada pasangan halal kita.

Cinta dalam diam adalah diam tidak mencintai, bukan diam-diam mencintai. Ketika cinta tak halal itu hinggap, segeralah tepiskan segala rasa dan goda. Segeralah terbang cepat, hingga Syetan tak sanggup hinggap. Usirlah segala rasa yang tak semestinya. Jangan dipelihara di mata, telinga, jiwa, ataupun doa. Tapi, peliharalah iman kita, bukan pelihara cinta yang tak semestinya. Berdoalah agar Allah memberikan kita jalan menuju cinta yang mengundang cinta-Nya. Teruslah memperbaiki diri karena Allah, bukan karena dia. Laki-laki yang baik adalah untuk wanita yang baik, begitupun sebaliknya. Jadilah baik jika ingin dibersamakan dengan dia yang baik pula. Tapi, jangan sampai kita berusaha menjadi baik karena ingin mendapatkan pasangan yang baik. Jadilah baik, agar Allah baik kepadamu sehingga akhirnya Dia akan memberikan jodoh terbaik. Aamiin ya Allah, Aamiin ya Rabbal ‘Alaamiin.

Kini, aku pun menanti cintaku..

Selangkah demi selangkah aku berjalan memahami hakikat cinta. Aku berjalan menyusuri kehidupan untuk menemukan cinta. Dan kini aku telah menemukan cinta, cinta Kepada-Nya yang membuatku bahagia sepanjang massa. Cintaku kini sudah bermetamorfosa, menjadi cinta yang indah. Bukan lagi cinta yang menjijikan dan penuh dosa dan derita. Kini, aku begitu mencintai-Nya dari apapun juga.

Namun, tetap tak bisa kupungkiri bahwa saat ini, aku pun masih menanti. Aku menanti dia yang akan menuntunku untuk semakin mencintai Dia. Karena di jalan hidupku ini, aku butuhkan seorang imam yang menuntunku dengan cinta menuju keridhoan-Nya. Tak perlu rupawan, hartawan, ataupun cendekiawan lagi. Cukup dia beriman kepada Tuhan, aku akan menerimanya. Karena, dialah seseorang yang aku rindukan. Aku merindukan orang yang beriman untuk ada di dekatku. Aku mencintai orang beriman, meskipun imanku pun belum sempurna. Aku menginginkan orang yang beriman yang memberiku cinta sehingga aku semakin mencintai-Nya. Siapapun itu, asalkan dia juga mencintai Allah Subahanu Wa Ta’alla.

Advertisement

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya