Aku sedang dihadapkan suatu keadaan mengenai kehilangan. Bukan perkara putus cinta atau pertengkaran, tapi sebuah rasa yang harus dihilangkan karena suatu keadaan. Perih memang, menjadi suatu pihak yang merasa kosong dan kesepian. Cahaya kian meredup ke rongga pelita dan cinta sedang dihadapkan dengan kematian.

Aku pikir, makna kematian adalah sebuah prosesi merenggang nyawa dalam sandaran tanah dan berselimut papan atau bahkan hibernasi di waktu untuk selamanya, nyatanya tidak. Kematian arti lain adalah ketika alam sudah tak mampu lagi diajak berdiskusi. Bagaimana bisa? Keadaan alam yang memaksa untuk tetap besikap baik-baik saja, tapi kenyataanya sungguh perih menyiksa. Sebuah hati yang berharap bisa terus bersama dalam sebuah rumah kebahagiaan, tapi dipaksa untuk kehilangan, bernama perpisahan. Bukan kita yang mau, sepasang anak manusia yang saling mencinta tapi dihadapkan dengan makna perpisahan. Aku katakan sekali lagi, alam sudah tidah berpihak untuk kita.

Advertisement

Kenyataan yang sungguh kontras, hati tertusuk perih sampai membuat diri merasa begitu asing. Bahkan ketika sendiri, diri ini seakan makhluk asing yang sangat berdosa. Sesekali memang merasa bahagia saat waktu memutar kenangan untuk mengingat tentangmu, tapi lebih sering merasa tersiksa dan enggan ketika berkelit memutar nostalgia hitam tentang kenangan pahit yang telah kelam.

Rindu sering mengusik sebuah rongga di kepala dan menusuk hati. Aku hanya bisa menyaksikan wajahmu yang sedikit berdebu dalam sebuah bingkai dan kau tambah senyum ceria. Rindu yang harus aku nikmatinya sendiri. Rindu yang hanya berpihak padaku, tapi sepertinya kamu tidak. Rindu yang merubahnya menjadi cemburu yang mendera, lagi–lagi hal itu hanya berpihak padaku dan kamu tidak. Sedih memang dan alam terus memaksaku untuk terus berpura–pura berdamai pada keadaan, sedangkan hati sejujurnya lemah dan tidak bisa lagi berdiskusi ramah.

Berapa lama lagi aku berhenti berbohong, ketika seseorang bertanya “Apa kamu baik–baik saja?” Dan aku membalasnya penuh dengan kebahagiaan. Aku lelah berbohong di waktu yang telalu panjang.

Advertisement

Kenapa ini terjadi? Ketika cinta dihadapkan dalam sebuah kematian hati dan pikiran. Ketika cinta yang diharapkan bisa setia mencandukan rindunya dan ternyata hanya aku dan cemburu. Tidak lagi ada pergolakan lawan arah. Lagi–lagi, hanya aku yang merasa.

Baik, aku harus bangkit agar tidak merasa mati seperti hari ini. Demi bertemu kamu (yang baru).

Advertisement

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya