Ketika Ingin Berbagi Momen dalam Bentuk Karya, Rasa Takut Akan Reaksi Orang Lain Menjadi Penghalang

Kita memang tidak bisa mengontrol bagaimana seseorang berpikir

Pernahkah kalian merasa sangat semangat untuk melakukan sesuatu?

Advertisement

Misalnya, ketika travelling ke daerah yang baru pertama kali kalian kunjungi. Bisa juga hari pertama kerja di bidang yang memang “kalian banget”, dan seterusnya. Biasanya momen-momen awal ini menjadi tanda betapa kalian sangat antusias untuk segera melaluinya. Beragam perilaku bisa kalian tunjukkan, entah ingin cepat-cepat hari H atau menyiapkan berbagai hal dari jauh-jauh hari, dll. Intinya semua hal bisa kalian lakukan jika memang kalian berminat untuk menjalaninya.

Selanjutnya, jika sudah dilakukan lantas bagaimana selanjutnya? Blep! Hilang tak berbekas.

Biasanya hanya ada dibayangan dan tertanam diingatan kalian, bahwa pernah melakukan ini dan itu yang baru pertama kali. Namun, kalian hanya menyimpannya sendiri. Bukankah berbagi itu menyenangkan? Semisal berbagi dalam bentuk foto, video, ataupun tulisan pengalaman kalian. Siapa tahu ada orang lain yang juga ingin seperti kalian, melakukan hal tersebut atau mengunjungi tempat itu.

Advertisement

Permasalahannya tidak semua orang mau untuk berbagi kepada yang lain. Alasan sederhana, takut disangka sombong. Sungguh negatif sekali ya? Memang benar masih adanya pandangan bahwa ketika kita bisa melakukan sesuatu atau berpergian ke tempat tertentu, ada “cap” yang diberikan. Entah berupa sindiran, nyinyiran, atau pujian yang mungkin tidak tulus. Padahal belum tentu niat kalian untuk menyombongkan diri.

Sebetulnya, kita memang tidak bisa mengontrol bagaimana seseorang berpikir. Apalagi media sosial saat ini berperan sangat penting dalam kehidupan bermasyarakat. Semua bisa saja dilihat dari media sosialnya, bukan dari perilaku secara langsung. Beragam komentar pun bisa dengan mudah diberikan, sebab hanya butuh jari-jari yang menari untuk mengetik. Semua emosi orang hanya dilihat dari tulisannya, bukan ekspresi langsung dari wajah.

Advertisement

Walaupun berusaha untuk tidak menunjukkan kesombongan, dalamnya hati seseorang tentu tidak bisa kita tebak. Lantas harus bagaimana?

Memberikan hasil karya dari apa yang kamu lakukan itu perlu ditunjukkan jika memang niatnya tulus, berusaha fokus untuk berbagi informasi, dan momen kebahagiaan kepada orang lain. Tidak perlu mengambil kesempatan dengan berpura-pura dan terkesan sok atas apa yang kamu alami. Berhenti dalam memikirkan kesempatan untuk menunjukkan kesombongan. Sebab, perilaku itu tidak akan pernah ada habisnya. Jika kalian diberikan “cap sombong”, diamlah dan berusaha kontrol diri. Jika kalian tidak bermaksud demikian, tentu ucapan itu hanyalah angin lalu. Sebab, mereka tidak berjalan di atas diri kalian, kalian yang perlu kontrol diri sendiri.

Maka dari itu, berbagi itu diperlukan namun butuh kebijakan untuk membagikan hal-hal yang perlu dan tidak perlu. Sebab, media sosial begitu keras dan susah untuk kita melawannya.

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya

Advertisement

“Artikel ini merupakan kiriman dari pembaca hipwee, isi artikel sepenuhnya merupakan tanggung jawab pengirim.”

Berikan Komentar

Tim Dalam Artikel Ini

Penulis

Psychology. Management. Yellow. Novel.

CLOSE