Apa yang lebih sejenak dalam hidup ini,

selain petang dan lintasan tentang kerinduan,

Advertisement

rindu kenangan dengan mantan,

rindu dengan jarak yang memisahkan diri dengan pacar sendiri,

atau rindu akan kasih sayang Ibu di setiap lingkaran hari,


Advertisement

Ketika sepasang mata yang kau miliki terbuka di pagi hari, hanya dapat melihat segenggam telepon berlayar dan setumpuk tanggung jawab pekerjaan. Siapa sangka bahwa mendewasa tak lantas membuatmu bahagia seperti ekspetasimu ketika masih penuh ingus dan luka.

Ketika musim hujan hadir, bisa jadi rintikan air menjadi suara kesepian yang ribut dan bergemuruh di dalam dada. Terlebih bagi kamu yang kini sedang bergerilya dalam perantauan. Rindu menghujam tanpa permisi di setiap pagi, seakan tak tahu kapan akan hujan. Hingga jarak dan waktu membiarkan dirimu setengah mati menjinakkan rindu sendirian. Terjebak dalam kubangan jarak dan waktu.

Pahamilah, walaupun kesendirian dan kemandirian memberimu kebebasan dalam menjalani kehidupan baik di perantauan maupun di setiap sudut perilakumu. Namun, jauh dari sosok malaikat keluarga justru akan memberimu tumpukan rindu yang memenuhi segala aliran darah yang meluap-luap meminta segera dientaskan.

Beberapa di antara kalian mungkin masih saja terlalu sibuk dengan pekerjaan dan perkuliahan yang seolah tak ada ujung penghabisannya. Setiap lembar kesibukan tersebut memunculkan masalah sepele ataupun bahkan problematika yang begitu besar. Di mana hal-hal demikian menyulut api emosi akan amarahmu. Membuatmu terkurung dalam stres dan depresi yang berkelanjutan. Membuatmu terjebak dalam rutinitas yang sama setiap harinya dan membuat dirimu lupa bahwa ada seorang malaikat yang seharusnya kau beri kabar, kau beri kasih sayang, dan kau beri perhatian.

Di dalam deretan panggilan dan sms yang dipenuhi relasi kerja dan teman perkuliahan, ada sebaris kerinduan malaikat yang menantikan dirimu untuk memberinya kabar. Tidakkah kamu sadar bahwa ia juga perlu melepas rindu, bahkan walau hanya sepenggal suara yang melayang sekilas di udara hampa.


Siapa?


Tentunya bukan mantan yang sudah lama kau ikhlaskan dan tentu bukan sang pacar yang justru tak pernah dirimu absen saling memberinya kabar dan berbagi kerinduan.

Kini coba kau luangkan waktumu, nyamankanlah posisi dudukmu kini, lalu tutup matamu sejenak dengan diiringi pengaturan nafas yang rileks. Jauh dari dalam hatimu akan terdengar suara kerinduan yang lirih namun tajam berteriak. Itu adalah jarak ribuan kilometer kerinduan dirimu kepada Ibu, kerinduan yang terjepit oleh segala kesibukan dan rutinitasmu.

Tidakkah kita sepakat bahwa setiap anak PASTI akan selalu merengek untuk mendapatkan pelukan masing-masing Ibunya. Mendewasa seperti apapun, tumpukan rindu kepada sang Ibu akan selalu lebih menyiksa baik dalam jarak dan waktu. Jadi, ketika akhirnya kamu mengingat beliau, luangkanlah waktu untuk segera menyapanya.

Advertisement

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya