Pengkhianat cinta

Segelas kopi hitam pekat dan sebuah pemandangan romantis bagi kebanyakan orang, tapi menjijikkan bagiku. Ya, aku benci melihat dua orang yang saling berkasih-kasihan di depan mejaku. Saling tertawa dan menyayangi satu sama lain di tempat umum. Bodoh! Apa mereka tidak tahu bahwa segala tindakan yang mereka lakukan mungkin menyakiti hati orang lain. Memangnya dunia ini milik mereka saja? Muak aku melihatnya!

Ku alihkan pandanganku keluar jendela. Ah sial, mengapa hal yang tidak ku suka datang bersamaan? Hujan turun dengan derasnya di luar dan lagi-lagi terlihat sepasang kekasih yang sedang berteduh di seberang kafe. Andai saja mereka tahu bahwa masalah di dunia ini yang akan mereka hadapi bukanlah sekedar terkena hujan saja.

Advertisement


"Mas, aku rela kamu pergi dari kehidupanku, tapi sungguh, tolong jangan dia."


Aku berusaha menarik baju mas Luis, berharap dia mempertimbangkan segalanya. Tapi dia tidak mempedulikanku dan melanjutkan membereskan pakaiannya ke dalam koper. Ini bukan hanya tentang pernikahan kami yang sudah sembilan tahun belum dikarunia anak saja, walaupun ini dosa besar, dia mengingkari janjinya di depan altar dan di hadapan Tuhan. Tapi ini menyangkut tentang nama baik keluarga besarku. Lelaki yang tegap dan berlesung pipi itu akhirnya menyakitiku untuk pertama dan terakhir kalinya.

Apa kamu sudah lupa bahwa pernah ada kita di masa itu? Apa kamu lupa, aku yang memegang payung dengan erat supaya tak lepas karena angin saat kita berboncengan motor waktu dulu? Apa kamu lupa bahwa dulu aku yang selalu menunggumu pulang di ruang tamu? Apa kamu juga lupa bahwa aku yang mempertahankanmu mati-matian di depan Mama sewaktu beliau mengucilkan dan menganggapmu tak bisa menafkahiku selepas kamu dirumahkan? Mas, apa kamu sudah tak mau mengingat itu dan semua kenangan kita yang lainnya?

Advertisement

Aku benci ada dalam posisi ini, aku benci mas. Terlebih lagi aku benci dia, yang dengan sengaja mengacak-acak pernikahan kita. Ah, mengapa aku harus mengingat peristiwa menyebalkan itu kembali? Aku harus bangkit dan mengubah segalanya jadi lebih baik, rasanya terlalu banyak air mataku terbuang sia-sia untuk dia, walaupun banyak orang mencibirku. Ah, bukan hanya panas lagi terasa di telinga ini, sepertinya lebih baik ku lepas saja telingaku dan ku tinggalkan di laci kamarku kalau aku harus pergi ke luar rumah.


Ku seruput kembali kopi hitam yang kini menjadi temanku untuk segala kemungkinan yang mungkin kan terjadi, "Nita, seharusnya aku tak pernah mengenalkannya pada mas Luis! Tapi bagaimana tidak, toh dia adalah adik ipar dari adikku, Sammy."


Tapi, lagipula perempuan waras mana yang menyangka ini akan terjadi pada pernikahannya? Sial, aku terus mengingat Nita, si pengkhianat licik itu. Kalau ada kata di atas brengsek, akan kupakai untuk menyumpahimu lagi.

Prangggg!

Semua mata memperhatikanku. Astaga, aku tak menyangka karena seorang Nita, aku mempermalukan diriku sendiri karena gelas kopiku terjatuh, mengumpulkan keberanian dan mengalihkan rasa malu, aku pun menundukkan badan dan berusaha membereskan pecahannya. "Hai nona, lihat! Kamu berdarah, mari saya bantu." Aku melihat seorang pria berusaha membantuku. Tapi anehnya aku sungguh tak merasakan sakitnya terkena pecahan kaca itu, apakah aku sudah kebal terhadap rasa sakit karena perlakuan mas Luis kepadaku?

"Nona, kamu tidak apa-apa?" Pria itu menyadarkanku, "Oh, iya, saya nggak…" Kata-kataku terputus, aku takjub dan heran seketika, bagaimana mungkin dia? "Ka…kamu?" "Marsha, astaga, apa kabarmu?"

Lelaki itu menjabat erat tanganku dan membantuku bangun, perlahan rasa sakit di tanganku mulai terasa, tapi tak apa, sebentar lagi akan sembuh atau malah beralih menjadi kegembiraan karena bertemu dengan pria favoritku. Ya, dia adalah priaku yang dulu sewaktu kuliah menangis waktu ku tinggalkan demi mas Luis. Aku pun menyambutnya dengan senyuman khasku yang dulu selalu dia puji saat kami masih asyik dengan rasa cinta kami.


"Hai, Frans. Apa kabar? Tetapkah menjadi pria favoritku?"


Advertisement

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya