[CERPEN] Reka Kisah dari Angan Tak Pasti

cerpen romansa

Sam, usianya masih 20 tahun; akan menjadi 21 tahun di bulan Juli, merupakan bagian dari manusia pecinta hening, penikmat musik, juga kopi kaleng yang biasa dijual di minimarket. Kesehariannya sebagai mahasiswa yang tak luput dari rasa malas. Namun, sekarang sedang menjalankan program magang yang diwajibkan oleh pihak universitasnya.

Advertisement



Malam itu, waktu menunjukkan pukul 10. Selepas bertemu teman-teman, Sam harus segera pulang, mempersiapkan diri untuk besok yang merupakan hari pertamanya sebagai karyawan magang. Terasa agak kikuk dan menakutkan, walau sebenarnya Sam sudah berpengalaman sebagai karyawan magang sebelumnya. Butuh setidaknya 5 menit, untuk Sam mengenakan helm kesayangannya, sarung tangan, dan perlengkapan lainnya yang mendukung keamanan berkendara. Ya, Sam adalah pemotor. Kau mungkin bertanya-tanya, amankah berkendara di malam hari? Entah, aku pun ragu. Tapi Sam selalu punya alasan yang kuat untuk berkendara tanpa mengenal waktu. Katanya, waktu tidak pernah ikut campur dalam urusan keamanan—pengendara itu sendirilah yang harus bertanggung jawab akan keselamatannya.



Sam sudah siap melangkah pergi menjauhi kafe favoritnya itu. Namun tiba-tiba, hujan turun. Di satu sisi, Sam tahu bahwa berkendara di kala hujan sangat berisiko, mengingat kecelakaan yang pernah dialaminya tahun 2019 lalu. Di sisi lain, Sam juga tidak ingin menunggu lebih lama untuk sampai ke rumah—ia sangat ingin pulang. Sam berteduh, sejenak mengenakan jas hujan biru yang selalu tersedia di bagasi motonya. Bak adegan film, ia juga menadahkan tangannya; merasakan rintik air hujan yang jatuh ke Bumi. Setelahnya, tanpa pertimbangan lain, Sam pun siap menerobos derasnya hantaman tangisan semesta kala itu.



Tenang saja. Kalau Sam berani menerobos, artinya curah hujan masih dalam kategori “aman”. Bagaimana aku bisa mengetahuinya? Sam pernah mengatakannya, hmm.. setidaknya 3 kali.  

Advertisement



Perjalanannya terasa sepi, karena hanya ditemani oleh suara deru hantaman air yang beradu dengan sentuhan angin—sesekali gemuruh datang menyapa. Biasanya untuk mengurangi rasa bosan, Sam mendengarkan musik melalui helm bluetooth kesayangannya itu. Namun pada situasi tersebut, rasanya tidak ada yang mendukung Sam untuk mendengarkan musik.



Sampai. Maksudnya, sampai di perempatan jalan. Lampu lalu lintas yang semula hijau berubah menjadi merah; Sam tidak sempat untuk menerobosnya. Hujan tak kunjung mereda, ditambah lagi harus terjebak lampu merah. Jangan anggap sepele, karena Sam harus berdiam diri sekitar 3 menit dalam kondisi kedinginan. Sementara besok adalah hari pertamanya sebagai karyawan magang. Merasa dipojokkan oleh keadaan? Kira-kira begitulah perasaan Sam yang sambil mematung; memandangi detik lampu lalu lintas.

Advertisement



Sam sama sekali tidak mengalihkan pandangannya dari detik lampu lalu lintas. Detik menunjukkan angka 102, 101, 100… Ah, masih lama sekali.



Di kala hawa dingin menusuk, tiba-tiba lengan wanita itu melingkari perut Sam. Seolah ingin menenangkan Sam dari rasa khawatir, ia mengeratkan pelukannya untuk Sam. Oh ya, namanya Miguelle. Seusia Sam, akan menjadi 21 tahun di bulan Agustus—kekasih Sam. Bagian dari manusia pecinta keramaian, pemusik, dan bukan penikmat kopi-kopian. Jangan khawatir, Sam tidak akan memaksanya untuk menikmati kopi kaleng yang biasa dijual di minimarket. Untuk menghibur Miguelle, Sam seringkali mengajaknya ke penjual jus untuk menyeruput jus alpukat yang wanginya 2 kali lebih menenangkan dari petrikor. Setidaknya, begitulah nikmatnya jus alpukat dari sudut pandang Miguelle.



Sama halnya seperti Sam, Miguelle sangat kedinginan. Terlihat jelas dari tangannya yang bergetar hebat—yang kemudian digenggam Sam seolah berkata “tunggu ya, sebentar lagi sampai.” Terukir senyum tipis pada bibir Sam, sebab kekhawatirannya sudah hilang. Kini pikiran Sam teralihkan; tentang keharusannya mengantar Miguelle dengan selamat sampai di rumah, dan membuat hari-hari yang lebih indah bersama Miguelle—Sam sangat mencintainya, tentu saja.



Seketika Sam mengingat pertemuan pertamanya dengan Miguelle. Miguelle di hari pertama masuk kuliah, yang mengenakan kemeja putih dan celana panjang hitam; yang nampaknya terlalu besar untuk tubuhnya. Ia sedikit pemalu—terdengar dari suaranya yang bergetar saat memperkenalkan diri, dan juga wajahnya yang sedikit menunduk. Hari itu, Sam tidak merasakan apapun kepada Miguelle. Berpikiran untuk berteman pun tidak ada—Miguelle bukanlah sosok yang menarik. Selain itu, memang Sam belum bisa melupakan cinta pertamanya, Olivia.



Lalu, bagaimana Sam bisa jatuh cinta pada Miguelle? Tak perlu kuceritakan panjang-panjang, ya? Intinya, Sam sangat menghargai kejujuran dan keberanian Miguelle atas perasaannya terhadap Sam, yang sudah terpendam satu tahun lamanya. Lainnya, Sam pun agak heran namun salut—bagaimana bisa Miguelle mencintai Sam yang dingin? Terlebih, tidak ada komunikasi yang intens diantara keduanya. Namun Sam tahu, bagaimana ia harus bertindak di hari itu—membalas perasaan Miguelle. Sam hanya tidak ingin menyia-nyiakan rasa yang tulus, karena ia tahu rasanya.



Pada awalnya, Sam pikir semuanya akan berjalan sesuai dengan apa yang diimpikannya. Cinta dan ketulusan—bukankah itu cukup untuk membangun sebuah hubungan yang bahagia? Namun ternyata Sam salah. Sam harus bergulat dengan pikirannya setiap malam; tentang pandangan Miguelle mengenai kebahagiaan—yang Sam tahu dengan jelas, ia tak dapat lakukan. Sam sudah mencoba memberi secercah matahari untuk menghangatkan Miguelle, namun Miguelle tak pernah merasa cukup. Keadaan terasa lebih sulit bagi Sam; di mana ia juga harus bergulat untuk mendapatkan kebahagiaannya kembali, yang kemarin direnggut oleh takdir. Tuntutan Miguelle tentang sebuah bahagia—bagaimana bisa Sam memberikan kebahagiaan, sedangkan Sam pun sedang mencari kebahagiaan yang pergi?



Pada detik itu, Sam menyadari bahwa ia tidak bisa lagi mencintai Miguelle. Sam melepas Miguelle; meninggalkannya pada ruang hening diselimuti pilu.



“Akhir dari sebuah kisah, semua yang kau miliki akan pergi. Entah dijemput Sang Kuasa, atau keadaan yang tak memberi restu.” Kira-kira, begitulah ulasan Miguelle usai menonton film Dilan 1991. Sam tidak pernah melupakan kata-katanya; bagaimana Miguelle menyatakannya dengan girang, seolah yakin Sang Kuasa dan keadaan tidak akan merobek harapnya.



Tiga, dua, satu. Lampu merah berubah menjadi oranye, kemudian hijau. Tiga menit berlalu dengan keheningan; saat Sam mengenang sebuah kisah abu di akhir Februari.



Lamunan Sam tentang Miguelle buyar. Tidak ada lengan wanita yang sedang melingkari tubuhnya, pun dengan pelukan erat itu. Sam kembali merasakan hawa dingin menusuk dilanda khawatir. Namun senyum tipis tetap terukir pada bibirnya. Karena bayang-bayangnya tentang Miguelle telah usai.



Kemudian Sam menancap gas meninggalkan jalan itu, menuju pulang. Ayahnya pasti sedang menunggu Sam untuk makan malam bersama, kan?

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya

Advertisement

“Artikel ini merupakan kiriman dari pembaca hipwee, isi artikel sepenuhnya merupakan tanggung jawab pengirim.”

Berikan Komentar

Tim Dalam Artikel Ini

CLOSE