Pukul tujuh malam aku menerima pesan dari nomor yang tak kukenal.

"Mira, apa kabar. Semoga kamu baik-baik saja. Aku bayu, teman sekelas sma dulu. Apa kamu masih ingat?"

Advertisement

Dengan perasaan yang tidak menentu, perasaan seneng campur kaget, karna seorang Bayu dialah cinta pertamaku, sejak smp aku memang sudah menyukainya, tapi karna aku seorang yang pendiem dan  tak pernah dekat dengan siapapun, aku hanya bisa memendam nya selama beberpa tahun ini. Aku coba untuk membalasnya dengan hati-hati karna takut salah menulis pesan karna terbawa perasaanku. 


Aku: Waalaikum salam. Iya aku masih ingat kamu bay, alkhamdulillah kabarku baik, gimana denganmu?

Bayu: Syukurlah jika keadaan mu baik-baik saja. Sudah lama kan kita gak bertemu sapa atau berkomunikasi?

Advertisement

Aku: Hmm,, iya Bay. Semanjak kita selesai belajar masa SMA itu kan, kita dan teman-teman yang lain pergi ke universitas yang berbeda-beda. Sudah sekitar delapan tahunan mungkin kita berpisah haluan. Oya ngomong-ngomong kamu dapat nomorku dari mana Bay?

Bayu: Dari Nisa, teman dekatmu.

Aku: Oh…

Bayu: Mir?

Aku: Ya?

Bayu: Sebenernya ada yang pengen aku omongin sama kamu.

Aku: Tentang apa?

Bayu: Sebenernya aku ada udah suka sama kamu semenjak  kita SMA, tapi aku dulu  nggak berani untuk bilang sama kamu.

Aku: …

Bayu: Mir, bolehkah aku lamar kamu untuk jadi istri aku?

Mira: Tapi kamu kan nggak tau keadaan aku dan keluargaku sekarang Bay?

Bayu: Aku udah tau semua dari Nisa, dan aku mau melamar kamu agar bisa menjaga kamu dan menemani di saat suka dan dukamu Mir. Maukah kamu membagi semua itu denganku? Aku sudah lama mengenalmu Mir, dan tanpa kamu ketahui selama itu pun aku hanya bisa memandangmu dari jauh. Kamu itu orang yang sangat baik mir, aku menyukaimu karna ketulusan hati dan juga keimanan mu yang membuatku tak bisa melupakan mu atau pun membuka hati untuk  orang lain.


(beberapa menit kemudian)


Bayu: Jadi gimana keputusanmu, Mir??

Mira: Bagaimana aku bisa menolak pinangan dari seseorang yang selama ini aku cintai dalam diam.

Bayu: Jadi?

Mira: Iya, aku bersedia Bay. 😊

Bayu: alkhamdulillah… Makasih banyak Mir. Kalau gitu minggu depan aku akan datang ke rumahmu bersama orang tuaku untuk melamarmu Mir, sampai jumpa minggu depan! Aku mencintamu calon istriku. Selamat malam, selamat beristirahat.


Sungguh tak  kuasa untuk mengelola perasaan ku sendiri. Perasaan yang selama ini ku pendam  ternyata tak pernah bertepuk sebelah tangan, aku pun mencitaimu calon suamiku, (dalam hatiku).

Dan lima menit kemudian aku terbangun dari tidurku. Aku mencoba untuk mencari telepon genggam yang kugunakan untuk  membalas pesan pesan yang dikirim dari Bayu,  dan ternyata nggak ada  satupun pesan dari nomor yang semula tak bernama itu. Semua  itu  hanyalah mimpi, ya hanya sebatas bunga tidur yang sangat menyedihkan. Lalu aku mencoba bangkit dari tempat tidur dan pergi ke kamar mandi untuk mengambil air wudhu dan melaksanakan sholat sunnah untuk menenanngkan hati dan perasaanku. Dan setelah selesai sholat tiba-tiba ibuku masuk ke kamar.


Ibu: Mir? Kamu udah bangun sayang? Itu ada tamu di  bawah nunggu dari tadi, tadi ibu udah coba bangunin kamu tapi kamu terlihat kecapaian sekali setelah pulang kerja sampe-sampe kamu bangun lambat dan ibu nggak  berani kasian untuk ngebangunin kamu, untung nya si  tamu mau nugguin kamu sampe bangun.

Mira: hmmm,, emang siapa tamunya bu?

Ibu: Sebaiknya kamuu siap-siap aja dulu lalu turun bawah dan lihat sendiri siapa tamunya ya, ibu kebawah dulu ( sambl menutup pintu dan melangkah keluar kamar)


Karna aku juga penasaran dengan tamu yang dimaksudkan ibu itu aku bergegas mempersiapakan diriku dan turun kebawah untuk menemui  tamuku.

Dan betapa terkejutnya aku setelah melihat tamu yang ibu maksudkan itu, iya tak lain adalah Bayu. Seseoarang yang hadir dalam mimpiku barusan. Ia datang bersama keluarganya untuk melamarku. Dan ternyata ibu sudah menerima lamaran itu tanpa sepengetahuanku karna kata ibu, aku sudah menyetujui lamaran itu ketika di sms Bayu seminggu yang lalu.


Oh Tuhan… berarti mimpi barusan adalah sebuah tanda dan mimpi itu itu benar-benar nyata. Sungguh aku tidak menyangka. Terima kasih banyak!


Lalu kamipun bertukar cincin untuk sebuah tanda bahwa dia melamarku, dan tanggal pernikahan kami sudah ditetapkan dua minggu dari hari ini.

Advertisement

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya