Dear sahabat,

Aku tidak pernah menyangka akan sampai ditahap ini, hal yang sangat aku dambakan selama ini dan pasti semua wanita di dunia ini pasti mendambakan hari ini. Kamu telah menjadi penyemangat dalam hidupku untuk memperbaiki diri menjadi lebih baik lagi.

Advertisement

Tepat di hari itu di saat aku sedang terpuruk akan masa laluku, kamu hadir membantuku secara tidak langsung dalam hal memperbaiki diri masing-masing. Kita berdua bersama-sama memperbaiki diri untuk menjadi lebih baik lagi dari hal-hal kecil yang mungkin kita nggak pernah lakukan.

Biasanya kita hura-hura, main kesana main ke sini, sekarang kita lebih sering untuk dateng ke kajian rutin setiap minggu dan kadang ada saatnya kita ketemu secara tidak sengaja.

Mungkin secara tidak sadar kamu yang membantu aku untuk dapat melupakan masa laluku dan mengikhlaskan semuanya. Aku pun akhirnya berproses untuk memperbaiki diri sama seperti kamu yang masih dalam proses memperbaiki diri untuk menjadi yang lebih baik lagi.

Advertisement

Sempat beberapa kali aku menanyakan sama kamu mengenai keikhlasan, sampai pada titik dimana aku mengerti apa arti kata ikhlas. Dan sampai pada akhirnya aku memutuskan hal yang belum pernah terfikirkan yaitu untuk menutup auratku.

Bukan karena kamu aku akhirnya memutuskan untuk menutup auratku, tapi karena menurutku aku lebih damai dengan menggenakannya. Dan banyak orang-orang yang bertanya setelah aku memutuskan untuk itu, dan banyak sahabat-sahabat kita yang menanyakan sama aku dan kamu mengenai kita.


Mereka berpikir penyebabnya aku berubah seperti ini itu karena kamu, karena kamu ingin meminta aku menjadi istrimu.


Aku dan kamu pun menjelaskan kepada mereka bahwa hal ini bukan karena siapa-siapa melainkan memang sudah takdirnya dan memang dari diri aku sendiri ingin berubah, dan memang pada saat itu kita berdua belum ada pembicaraan mengenai pernikahan.

Aku pun tidak pernah ragu disaat aku memutuskan sesuatu yang aku yakini ini memang yang terbaik buat aku dan pasti di balik ini semua akan ada hikmah yang akan aku dapat.

Iya, hikmahnya adalah kamu meminta aku untuk menjadi pendamping hidup kamu. Aku benar-benar terkejut saat kamu mengatakan hal itu. Tapi satu hal yang aku ingat, kamu tidak meminta aku untuk berpacaran melainkan untuk menikah.

Di saat kamu mengatakan itu, tidak ada keraguan aku untuk tidak menerima lamaran kamu. Tapi aku harus benar-benar meyakinkan diri aku kalau memang ini semua jawaban dari doa-doaku selama ini.

Aku pun meminta waktu kepada kamu untuk kita sama-sama meyakinkan diri masing-masing. Sampai pada saatnya aku bilang sama kamu agar kamu segera menemui orang tuaku. Aku sangat bahagia, karena keluarga kita pun menerima kita berdua untuk melangsungkan pernikahan.

Aku sama kamu sepakat untuk tidak memberitahukan sahabat kita berdua sampai hal yang pasti itu tiba, hari dimana keluarga kita berdua dipertemukan untuk melangsungkan lamaran.

Dan tepat di hari yang bahagia ini, kita sudah resmi menjadi sepasang suami istri.

Terima kasih suami, karena kamu aku belajar mengikhlaskan. Terima kasih masa lalu karena kamu aku dipertemukan dengan suamiku..

Advertisement

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya