Siapa yang Salah?

Oleh: Ali Mufti

Advertisement

Dewi, seorang wanita berumur 30 tahun yang menderita peladophobia, yaitu ketakutan berlebih terhadap kepala botak atau takut akan kebotakan. Pada hari itu, Daus suami Dewi, memangkas habis rambutnya hingga botak. Saat jam istirahat kantor, ia pulang ke rumahnya untuk makan siang.

Daus sendiri berniat untuk mengejutkan Dewi. Dia tidak memberitahu istrinya bahwa dia telah memangkas habis rambutnya. Ia berpikir bahwa istrinya hanya akan kaget, lalu berteriak. Tapi ternyata, apa yang terjadi pada Daus menjadi suatu hal yang tak pernah terlintas dalam kepalanya.

Semua berawal dari percakapan saat pagi hari sebelum Daus berangkat ke kantor.

Advertisement

“Ma, kemarin papa ditegur Pak Direktur saat di kantor,” Daus memulai percakapan.

"Lho, ditegur kenapa, Pa? Kamu bikin kesalahan di kantor? Papa, korupsi?” tanya Dewi cemas.

“Hahaha, ya enggaklah, Ma. Kesalahan kecil, kok.”

“Apa itu, Pa?”

“Pak Direktur menyuruhku memotong rambut. Mungkin hal sepele, sih, tapi sebisa mungkin papa ingin mengikuti kemauan Pak Direktur. Ya, ini semua kan demi kelancaran kerja papa. Bagaimana menurutmu, Ma?”

“Ya sudah, tidak apa-apa, Pa.”

“Mama, yakin?” Daus memastikan.

“Iya, mama yakin. Mama kan sayang papa.”

Daus sebenarnya telah mengetahui tentang penyakit yang diderita oleh istrinya tersebut jauh sebelum mereka menikah. Pada awal masa pendekatan, Daus berusaha memanjangkan rambutnya dengan maksud agar Dewi tertarik padanya. Benar saja, Dewi menjadi tertarik hingga akhirnya mereka berdua pun menikah.

Mereka berdua hidup dalam keluarga kecil yang begitu harmonis, meskipun setelah 2 tahun berumah tangga mereka belum juga dikaruniai anak. Dewi menyanyangi Daus, begitu pula sebaliknya.

Beberapa kali Daus sempat menanyakan apa yang menjadi penyebab dari penyakit yang diderita Dewi. Namun, Dewi hanya menjelaskan bahwa penyakit itu sudah dideritanya sejak masih kecil. Daus mempercayai penjelasan yang diberikan Dewi, karena bagaimana pun ia tidak mau memunculkan masalah yang berakibat buruk hanya karena ingin mengetahui penyebab penyakit istrinya itu. Dalam benaknya, penyakit istrinya tersebut adalah suatu hal yang harus dimaklumi dan dijaga, bukan dikorek-korek penyebabnya.

Setelah selesai sarapan bersama, Daus berangkat ke kantor yang jaraknya tidak begitu jauh dari rumahnya, memakan waktu sekitar 10 menit jika ditempuh menggunakan mobil. Hari itu, Daus berangkat lebih awal dari biasanya. Ia bermaksud ingin memangkas rambutnya terlebih dahulu, agar tidak ditegur atasannya saat tiba di kantor.

Saat jam istirahat kantor tiba, Daus bergegas pulang untuk makan siang sekaligus ingin memberi kejutan Dewi dengan kepala botaknya. Setibanya di depan rumah, Daus membuka pintu ruang tamu dengan perlahan. Kemudian ia berjalan mengendap sambil mencari di mana Dewi berada.

Terdengar suara dari orang yang sedang sibuk memotong sayuran dari arah dapur. “Itu pasti mama,” ucapnya lirih. Daus berjalan dengan berjerinjit menuju dapur agar Dewi tidak mendengar langkah kakinya. Setibanya di dapur, tampak Dewi sedang mengiris sayuran di atas meja, membelakangi pintu arah Daus masuk. Perlahan-lahan Daus mulai mendekati Dewi.

“Mama…!” lirih ucap Daus ke dekat telinga sebelah kiri Dewi. Seketika Dewi menengok ke sumber suara yang ia dengar itu.

“Aaa…! Tolong!” teriak Dewi yang merasa sangat terkejut, secara spontan ia langsung menusukkan pisau pemotong sayur yang ia genggam ke tubuh Daus. Pisau menancap pada perut Daus. Dewi langsung berlari sekencang-kencangnya meninggalkan rumahnya. Dewi menuju rumah salah satu tetangganya yang bernama Siti.

“Siti, tolooo…ng! Tolooo…ng!” teriak Dewi sambil menggedor-gedor pintu rumah Siti.

“Ada apa, Wi?” Jawab Siti sesaat setelah membukakan pintu.

“Ayahku datang ke rumah. Dia ingin membunuhku.”

“Bukannya ayahmu masih di penjara? Kenapa bajumu banyak darah?”

“Sudah, diam! Aku ingin bersembunyi di rumahmu,” ucap Dewi yang langsung lari masuk ke dalam rumah Siti.

Siti pun langsung menenangkan Dewi dan menyuruhnya untuk bersembunyi di salah satu kamar yang kebetulan kosong, lalu menguncinya. Siti pergi ke tempat Pak RT, kemudian mengajak beberapa warga untuk mengecek rumah Dewi. Setibanya di rumah Dewi, mereka melihat pintu depan rumah terbuka lebar.

Mereka pun masuk ke dalam rumah. Mereka mulai mencari ke beberapa bagian rumah. Mereka tidak berpencar karena takut kalau tiba-tiba ayahnya Dewi itu muncul dan menyerang mereka. Ayahnya Dewi adalah seorang penjahat.

Saat masuk ke dapur, Siti, Pak RT, dan beberapa warga sekitar merasa sangat kaget karena melihat sesosok pria yang terkapar dengan pisau menempel di perutnya, juga darah yang berceceran di lantai. Mereka langsung mendekati pria tersebut. Seketika mereka saling tengok dan saling memandang, lagi-lagi mereka merasa sangat terkejut atas apa yang mereka lihat. Pria yang mati terkapar itu adalah Daus, suami Dewi.

Ternyata penyakit peladophobia yang diderita Dewi itu disebabkan oleh trauma yang ia derita sejak kasus pembunuhan ibunya oleh Pak Ari, yang tidak lain adalah ayahnya sendiri. Ia adalah seorang pria tua berkepala botak yang hingga saat ini masih mendekam di penjara. Dewi melihat pembunuhan yang dilakukan ayahnya itu secara langsung.

Beberapa saat setelah Siti dan warga menaruh jenazah Daus di atas kursi yang ada di ruang tamu rumah Dewi, Siti dan Pak RT pergi untuk menemui Dewi. Mereka menjelaskan kepada Dewi bahwa pria botak yang ia tusuk hingga mati itu adalah Daus, suaminya sendiri.

Dewi pun tidak percaya, dia tetap menganggap bahwa pria botak itu memang ayahnya, dan ia tidak mau kembali ke rumahnya. Akhirnya Siti dan Pak RT melaporkan kejadian tersebut kepada polisi. Dewi pun ditangkap atas kasus pembunuhan.

Pada dasarnya Dewi akan melihat semua orang yang berkepala botak sebagai ayahnya. Jika sudah seperti ini siapa yang salah? Daus bersalah karena ingin bercanda, namuun barangkali melewati batas. Sedangkan Dewi, bersalah karena tidak berterus-terang atas kasus ayahnya kepada Daus.

Jika saja Dewi mau bercerita terus terang kepada Daus tentang penyebab penyakitnya itu, barangkali Daus juga tidak akan melakukan hal iseng yang berlebihan. Oleh karena itulah, keterbukaan terutama dalam suatu hubungan adalah hal yang sangat amat penting.

Advertisement

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya