Ini kisah hidupku, perjalanan kehidupan dari seorang lelaki yang pada saat kelahirannya diberi nama Abner. Aku anak sulung dari sebuah keluarga yang sederhana. Tetapi tidak pernah aku kekurangan pengalaman. Berbagai pengalaman yang kumiliki hingga sepanjang perjalanan 33 tahun kehidupanku. Semua itu aku dapatkan dari satu makhluk yakni wanita.

JIKA MANIS, IA LEBIH MANIS DARI MADU

Advertisement

Aku merasakan madu itu ketika mengenakan seragam putih abu-abu. Siapa bilang lelaki sepertiku tidak pernah deg-degan melihat wanita cantik didepanku dan tersenyum padaku. Aku ingat benar saat itu 23 Oktober 2000 setelah upacara bendera, muncul lah insan nan rupawan berlalu didepanku, harum rambutnya masih ku ingat sampai saat ini.

Seorang wanita dengan rok yang nyaris mini, kami menyebutnya murid pindahan. Tepat sekali, ia baru saja pindah setelah kami menjadi siswa putih abu-abu. Ia duduk di depanku. Ku ingat benar, saat itu akulah orang pertama yang diajaknya berkenalan, itupun karena teman sebangkunya tidak masuk dan juga wali kelas kami (Pak Tono) tidak sempat menjabat tangannya.

Betapa beruntungnya aku menjadi lelaki pertama yang merasakan kelembutan tangannya. Dan beruntungnya aku menjadi lelaki yang selalu mencium harum rambutnya. Masa putih abu-abu akan menjadi surga bagiku. Aku selalu berharap kami akan memilih jurusan yang sama sampai pada akhir melepas seragam ini.

Advertisement

14 Februari 2001, saat banyak bunga dan coklat nyaris sangat dan teramat populer. Aku juga termasuk salah satu pemburu bunga dan coklat. Kesalahan yang kubuat saat itu adalah: karena saat itu hari rabu dan kami harus mengikuti tambahan kelas Bahasa Inggris bersama Miss Yudith, maka aku berinisiatif meminta pertolongan seseorang. Aku menelpon adikku Edgar yang masih SMP (bau kencur) untuk membelikanku Coklat dan Bunga untuk gadis pujaanku. Kuberikan padanya 2 lembar uang Rp.50.000,-. Aku berharap bahwa adikku ini juga seromantis aku.

Namun yang terjadi adalah dia membelikan coklat murahan yang biasa dimakan oleh anak SD. Dan sisanya di belikannya sebuah bouquet besar. Ini adalah bouquet terbaik yang kumiliki, tapi sayangnya coklat ini bukanlah yang terbaik. Kuingat benar saat itu Mama memiliki setoples madu murni, tak pakai banyak berpikir, aku menggunting pita milik Mama dan kuhiasi toples itu dengan pita. Oh.. gadisku… aku datang…


Madu murni milik Mama dan bouquet terbaik sisa pembelian sebuah coklat murahan membuatku tak sendiri lagi.


Saat itu aku berpikir, hidup ini manis, bahkan lebih manis dari madu yang kubawa saat itu….


Ketulusanku terlihat sederhana, tapi jangan kau pikir bahwa itu tidak berarti. Itu semua aku lakukan dari segala keterbatasanku untuk menjadikannya berharga bahkan sangat berharga.


JIKA PAHIT IA LEBIH PAHIT DARI PIL MALARIA BUKAN KB

Madu itu bertahan 3 tahun. Hingga saat terakhir aku mendapai bahwa gadisku akan melanjutkan kuliah di luar negeri, sedangkan aku dari sebuah keluarga sederhana tak mampu mengikutinya sampai ke negeri orang. Kami memiliki janji untuk menjaga hubungan ini. Mungkin karena saat itu aku mencapai usia 18 dan gadisku baru saja akan memasuki 18 sehingga aku ketakutan akan pergaulan 17+ di sana. Oh wanitaku….

Hari-hari menjalang kelulusan yang semakin dekat, membuatku semakin tak karuan. Aku tak menginginkan perpisahan ini, seharusnya ia tetap bersamaku di kota ini, melanjutkan perguruan tinggi bersama, mencari kerja dan menikah. Itulah madu yang kupikirkan. Tapi apa yang terjadi? Madu itu telah berubah rasa menjadi pahit.

Aku mengantarnya ke bandara saat itu, dan aku dipermalukan oleh orang tuanya akibat keadaanku yang seperti ini, inilah aku Abner. Cinta yang murni seperi madu telah mendapatkan cemoohan.

Cinta yang sangat indah seperti bouquet termahal yang bisa kudapati ini telah mendapat hinaan.

Pahit… sangat pahit…


Cinta, perhatian dan pengorbananku, mungin nampak seperti sebuah cemoohan bagi mu (kalian), tetapi jangan salah. Kamu (kalian) tidak akan menemukan ketulusan yang seperti ini.


JIKA MEMATIKAN IA LEBIH JAHAT DARI RACUN

Sebulan hingga dua bulan kepergiannya ke luar negeri, kami masih saling berkomunikasi. Ia menjelaskan padaku mengapa sikap orang tuanya demikian. Setelah itu tak ada kabar lagi darinya. Ia telah hilang ditelan kehidupan bebas, ia telah pergi dari hidupku. Setiap hari aku merasakan wangi rambutnya tapi kini tidak.

Aku belum melanjutkan kuliahku, aku masih berpikir apa yang harus ku pelajari di perguruan tinggi. Setahun kemudian aku mendaftarkan diri menjadi mahasiswa kedokteran. Aku mendapatkan beasiswa dan tabungan yang cukup.

Aku masih berstatus kekasih dari wanita yang menjadi milikku dengan madu dan bunga. Aku berharap dia juga demikian, walaupun aku tak tahu apa yang terjadi pada kehidupannya disana. Ketika liburan aku tidak memiliki waktu untuk pergi kerumahnya, karena aku harus mengerjakan tugas praktek. Ataupun membantu dosenku di RS.


Aku menjadi mahasiswa yang luar biasa, hanya saja keadaan hatiku tidak luar biasa. Luar binasa! Ya aku hampir binasa…


Suatu hari saat menjelang masa-masa akhir semester aku berjumpa dengan Niko, salah satu teman SMA kami, ia mengabariku bahwa gadisku akan dilamar seorang lelaki yang kaya raya. Mungkinkah ini adalah akhir dari hati yang kupertahankan, mungkinkah ini akhir dari kesetiaanku. Ketika aku tidak memacari satu wanitpun selama aku menjadi mahasiswa kedokteran, ketika aku hanya bergaul dengan buku untuk menjadi lelaki yang pantas bagi gadisku. Inikah akhirnya?

Pada tahun 2007 aku mendengar pernikahannya…

Inilah kematianku, inilah hari kematian yang telah dipersiapkan Tuhan bagiku.


Andai saja aku boleh memilih untuk meracik sebuah obat yang bisa membuatku tak lagi mengingat manisnya maduku dan indahnya bouquet-ku. Andai aku dapat meracik sebuah racun yang dapat membuatku tertidur dan tidak bangun lagi..


Ia telah menikah sedangkan aku disini masih menjadi mahasiswa. Aku tak menghadiri pernikahannya. Aku juga tak memberi ucapan selamat.

Aku akan mati apabila melihat wajahnya.


Aku merasakan sebuah cinta yang dapat membuatku mati, tetapi jika aku jujur lagi. Aku tak benar-benar ingin mati hanya untuk seseorang. Aku memiliki masa depan dan aku harus hidupi masa depan.


JIKA MENGHIDUPKAN, IA LEBIH MUJARAB DARI OBAT

Setelah wisuda dan sekaligus mengambil sumpah dokter pada tahun 2011. Aku mendapat bagian yang cukup penting di RS milik dosenku semasa aku menjadi mahasiswanya. Aku sudah kenal dengan perawat dan semua rekan sekerja di tempat itu.


dr. Sutomo, seperti itulah aku dikenal.


Hingga suatu sore, ketika UGD sedang sepi. Kami dikejutkan dengan rem mobil yang sangat menekan telinga. Muncul seorang wanita cantik dibalik pintu dan mulai berteriak panik. Sepintas aku mengenali suara itu, tetapi aku diam saja. Aku terus melanjutkan pemeriksaanku pada rekam medis pasien yang sedang kutangai sebelum dipindahkan ke ruang perawatan.

Aku mendengar perawat berteriak panggi dr.Sutomo berulang-ulang kali. Karena penasaran aku segera kesana, tanpa melihat siapa yang mengatar aku langsung memasuki bilik pasien. Seorang lelaki yang hampir seumuran denganku, ia terkena serangan jantung. Bersama dengan semua perawat kami langsung menanganinya.

Beberapa saat ia sudah tenang dan tertidur. Aku meminta untuk memanggilkan istri dari pasien tersebut yang tadi mengantar. Seorang wanita masuk dengan kaki gemetar.

Ini wanitaku…

Abner…

Itulah kata pertama yang dia ucapkan…

Tabita…

Itulah kata yang kuucap tanpa suara…

Rambutnya masih wangi, wangi yang sama seperti 18 tahun lalu.

Cintanya kepada RS ini yang telah menyelamatkan nyawa suaminya, membuat mereka menjadi donatur tetap RS ini.

Dan aku…

Aku dr.Sutomo yang mencintai pasienku…

Aku tetaplah Abner yang mencintai Tabitaku…


Cinta memang menghidupkan. Cintaku pada masa depanku, membuat aku terus hidup….


Advertisement

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya