Kita Adalah Hujan dan Terik, yang Bersama Tanpa Saling Memiliki.

Mulanya, dengan berani kupastikan bahwa semesta dengan restunya telah menitipkanmu padaku. Semesta mengijinkan kita bertemu dengan rangkaiannya yang istimewa bagiku, pada mulanya. Gerangan apakah rangkaiannya?

Advertisement

Gerimis Kecil Pertama.

Ya. Malam itu di remang-remang rintik hujan kau menepi di sebuah lorong kecil yang meniriskan bayangan gerimis hujan di keningmu. Aku berjalan melampauimu, dan kau pun memanggil. Kau meminta tuk bersama di payungi oleh peneduh hujan yang sama untuk mengalahkan sang gerimis yang menghabiskan pagi hingga malam dengan hajaran-hajarannya yang mememarkan. Tanpa perkenalan. Ya tanpa perkenalan, kami menapaki raya yang sejajar bersamaan pula dengan posisi melangkah yang sejajar. Hingga di ujung persimpangan, kau pamit. Setelah kau minta diri, aku pun kembali ke arahku sebelumnya.

Gerimis Kecil Kedua.

Advertisement

Aku berjalan melewati lorong yang sama, ketika kau meniriskan bayangan gerimis yang membasahi keningmu. Seketika aku berhenti, terang saja sambil sesekali membuang pandang menantikan dikau yang pernah meminta bantuanku. Setelah sepuluh menit aku berpura-pura basah bahkan menyalahkan gerimis sore itu, kemudian aku berlalu. Di tengah ramainya jalanan, seseorang muncul tepat di sampingku meneduhkan kepalanya pada pahlawan hujan.

Ya, payungku. Aku sangat terkejut, hingga senyumanku mengantarkan aura menyenangkan saat itu. Tentu saja, perkenalan kami terlaksana saat itu. Di gerimis kecil kedua, sore itu. Sederhana, kau menyebut namamu Hujan dan aku memperkenalkan diri sebagai Terik. Kami saling memandang dan tertawa mendengarkan nama palsu kami, ketika saling memperkenalkan diri. Seketika, kau dan aku berpikir bahwa semesta melayakkan kita berakrab, sebab kita adalah bagian darinya. Benar kan kataku? Kau pun mengangguk, lalu menampilkan senyummu yang sejenak menghangatkan teriknya hatiku.

Advertisement

Terik dan Hujan.

Hai Aku Terik, dan dia Hujan. Begitu pun sebaliknya, ketika kami saling memperkenalkan diri pada kawan kami masing-masing. Seketika, kami menjadi dekat. Bersama kami mengalahkan waktu dengan obrolan menyenangkan seputar dunia kami, ya terik dan hujan. Kami menjadi Terik dan Hujan karna menyenangkan. Aku membenci terik, sedang dia mencintai hujan. Bukankah ini lucu? Ya, kami terhubung pada ruas, lingkar dan tempat yang sama. Dan ternyata yang merestui kami bertemu adalah semesta. Terima kasih, semesta yang menemukan hingga menghubungkan kami di waktu yang tepat. Sejatinya, kami punya nama masing-masing. Namun lebih menyenangkan jika kami dikenal sebagai Terik dan Matahari.

Siang itu,……

Dengan lancang, aku Terik mengijinkan cinta mengisi ruang di hatiku. Cinta yang kutumbuhkan dan cinta yang terisi di ruang hatiku, mengukir nama Hujan. Bagaimana dengan Hujan? Aku tak tahu. Tak tahu pasti, sebab tak dapat kuselami hatinya, hati Hujan. Seketika hatiku mencintai Hujan, tanpa pernah memilikinya. Hujan tak tahu, sama sekali tak tahu.

Yang dia tahu hanyalah, pertemanan kami. Tunggu, pertemanan? Ya. Memang benar pertemanan. Hanya pertemanan yang selama ini terjalin antara kami. Pertemanan yang kukira adalah permulaan dari cinta kami. Nyatanya, bukan cinta kami. Benar, hanya sepihak. Hanyalah cintaku yang sepihak. Hanyalah cintaku yang terus bertumbuh. Mungkin cintaku dihujani olehnya, ketika teriknya hatiku sudah mulai memudar.

Cinta yang telah dihujani olehnya, seketika menjadi layu. Aku ingat, Hujan datang bersama gadis pujaannya. Sebut saja, si Rintik. Hujan memperkenalkan Rintik sebagai kekasihnya. Rintik dan Hujan bersatu menjadi sangat lebat dan menghantam hingga menghancurkan terik yang membuat gerah jiwa-jiwa pemeluk bumi, katamu padaku. Hujan dan Rintik menertawakanku. Menertawakan diriku yang menatap mereka kebingungan.

Malam itu,…..

Aku beranikan diri mengutarakan segalanya, seluruh cintaku pada Hujan. Hujan tak menjawab. Seketika dia pergi dari hadapanku dalam sekejab. Pergi dari diriku, bahkan pergi dari pertemanan kami. Sedihnya, tanpa sepenggal kata pamit ataupun kata-kata perpisahan yang diutarakannya. Dia pergi begitu saja. Sedang aku? Menyalahkan diri mengenang perbuatanku pada Hujan. Tunggu, apakah yang kulakukan salah? Tak ada yang salah bukan? Bisakah kalian membantuku menemukan jawaban?

Bertahun-tahun berikutnya..,

Aku melewati lorong yang sama dengan dalamnya tusukan terik matahari yang menerjang tubuhku. Lorong yang sama dengan suasana yang berbeda. Hai, sekali lagi aku Terik. Tak lagi sama. Terik dan Hujan yang tak lagi bersama pun berteman. Aku tiba di ujung jalanan yang sepi. Suara yang kukenal bertahun-tahun lamanya, datang menghampiri. Aku menoleh dan Hujan tepat di hadapanku.

Dia mengulurkan tangan seraya menjabat tanganku. Aku terpaku dibuatnya. Masih dengan rasa yang sama, rasa cinta yang kumiliki. Tak sekalipun berubah, karna kurawat cinta ini menjadi kian kuat. Mulanya, sempat terpikir tuk kuhancurkan cinta ini. Sudah terlaksana. Namun semakin kuhancurkan, semakin sia-sialah usahaku. Akhirnya, kupilih ukiran nama Hujan tetap menetap di ruang hatiku. Saat itu, pikirku ruang yang tadinya sesak akan nama Hujan bisa dengan kekal memenuhi ruang hatiku.

Nyatanya, tidak lagi. Cintaku memang kuat pada Hujan, tapi tidak dengan ruang hati ini. Sepertinya, hatiku mulai paham bahwa telah lama dan akan berlalu nama Hujan yang tadinya penuh sesak di hati nan dada ini. Jabatan tangan hangat Hujan yang menyentuh jemariku, membangunkanku dari mimpi panjang ini. Seketika mataku terbuka lebar, menatap semesta yang kali ini pun mengijinkan Hujan datang lagi padaku, ya pada Terik yakni diriku.

Kau masih punya senyuman yang sama, wajah yang sama dengan bentuk tubuh yang perlahan berubah. Rambut lebat di bawah hidungmu tepat di kelokan bagian atas bibir yang menciptakan sensasi bergelombang, juga sekaligus memisahkan arah kiri dan kanan wajah yang kusebut lebatnya kumis Hujan lebat yang menampakkan sisi maskulinmu, kian kemari. Di bawah rindangnya pepohonan pinggiran jalan, terik yang membakar kulit ini seketika menjadi nyaman, katamu padaku saat itu. Aku tersenyum, bertanya-tanya tentang keberadaan Rintik. Tak ada jawaban yang kutemui bahkan kudapati. Kau memilih diam, seribu bahasa.

Pelukan itu.

Seketika, angin kuat mengibaskan hingga menerjang tubuhnya ke arah kami. Ya, aku dan Hujan. Tak banyak yang dapat kami lakukan, selain tindakan saling menggenggam tangan. Tunggu, bergandengan tangankah kami? Ya. Keterkejutanku, memimpin diriku menindak lanjuti diriku tuk melepaskan genggamannya yang hangat pada tanganku, namun dengan tegas dia tolak.

Hujan malah makin brutal, menarikku dalam pelukannya. Pelukan yang mulanya adalah paksaan, namun akhirnya kusadari pelukannya adalah sebuah pertolongan bahkan tindakannya menyelamatkanku dari kejamnya angin. Pelukan itu berlangsung dalam waktu yang lama, mungkin dua puluh menit. Hingga akhirnya kulemaskan tubuh dan berujung dengan melepasnya pelukan Hujan. Aku tak menatapnya. Seketika aku menghentakkan kaki, melangkahkan tujuan lalu meninggalkan Hujan.

Hujan tanpa bertanya pun tanpa berkata mengikuti langkahku, membelakangiku dan tak berusaha mensejajarkan langkahnya dengan langkahku. Aku berhenti, maksudku menghentikan langkahku. Kulayangkan pandangku padanya, pada Hujan. Ada apa? Tanyaku pada Hujan. Tak ada jawaban, tanganku di genggam olehnya, lagi. Lagi-lagi tanganku harus merasakan hangatnya genggaman tangan itu, tangan Hujan.

Pada Akhirnya, Janji itu.

Masih di rindang pohon yang sama, dengan orang yang sama. Ya, Aku dan Hujan. Hanya kami berdua. Sejatinya, aku masih menantikan jawaban mengenai si Rintik, kekasih Hujan. Aku lupa, tanganku masih digenggam kuat oleh Hujan. Aku melemaskan tanganku dalam genggamannya, mengharapkan dia melepaskan genggaman tangannya. Yang terjadi, justru sebaliknya.

Hujan semakin kuat menggenggam tanganku, bahkan tanganku enggan dilepaskannya. Genggamannya bahkan tak mengijinkan angin yang lalu menghampiri kami, menganggu kuatnya genggaman tangannya, di tanganku. Di mana si Rintik? Tanyaku pada Hujan. Pelukan yang sama, kembali menghujani tubuhku. Hujan kembali memelukku. Aku bingung dibuatnya, apanya yang harus dipeluk? Apa pula maksudnya genggaman tangan? Tanyaku dalam hati. Masih sama, tak kutemukan jawaban, karna memang tak ada jawaban darinya. Secuil keterangan dari bibirnya pun tak nampak.

Masih di suasana yang buruk yang juga sama, ya hening. Si suasana paling mencekam saat ini. Keheningan yang membingungkan. Melemaskan tubuhku di pelukannya juga, tak berguna. Sama sekali tak berguna. Masih sama pula, aku masih dipeluknya. Selalu dipeluknya, untuk saat ini. Sebenarnya, agak lama pelukan itu. Hingga akhirnya, “kami merenggangkan hubungan kala aku pergi darimu. Kaulah alasanku, merenggangkan hubunganku dengan Rintik. Bukan, aku tak menyalahkanmu. Sungguh, aku hanya ingin kau terus di sisi. Senantiasalah, di sisiku. Kumohon”, ucap Hujan menjawab pertanyaanku. Masih pula sama, jawaban yang diutarakan Hujan ketika aku masih di peluknya. “Lalu bertahun-tahun lamanya ini kemana saja kau?” Tanyaku lagi, menimpali jawabannya tadi.

Pelukannya dilepaskan. Aku melarikan diri darimu, aku takut terluka. Aku takut kecewa. Rintik, perempuan baik. Namun masalah hati, tak ada yang berani melawan, bahkan aku sendiri pun tak mampu. Hatiku bergerak, ketika mengenalmu. Rintik hanyalah bayangan semu darimu. Mulanya, kupikir Rintik sudah menjadi yang pas, tertancap di hati yang bentuknya tak lagi sama.

Tapi aku lupa, bahwa aku menikmati pergerakan hati bukan perubahan bentuk. Bukankah perubahan itu terjadi karna adanya pergerakan? Rintik tak mampu menggerakan hatiku. Sejatinya, pada awalnya hingga saat ini kaulah penggerak hatiku. Aku tahu, kau tak pernah pergi dari sini. Hanya aku seorang, hanya aku yang pergi. Aku pergi tanpa pamit, hingga akhirnya aku kembali dengan pelukan dan genggaman tangan tadi. Maaf, aku tak berani. Tak berani pada awalnya, dan menjadi pengecut. Memang aku demikian, jadinya. Sekarang, aku hanya ingin memperbaiki segalanya. Memperbaiki hubungan yang tadinya berantakan karna ulahku, bisakah?

Pertanyaan sederhana. Aku tak memunculkan sepatah katapun, dari mulutku. Sudahlah, memang sudah seharusnya kediaman ini menjadi jawaban atas tindakannya bertahun-tahun yang lalu. Bernaungku pada cintaku padanya selama ini, namun naungan itu tak lantas memantaskan hatiku padanya. Sekarang, mana mungkin dia datang dengan segenggam harapan yang disodorkan padaku? Segala jenis pikiran yang berkecamuk menari-nari ricuh di kepalaku, lengkap dengan segala pertimbangannya. Jika aku pergi, artinya kudustakan hati pada cinta yang sejatinya memang kutujukan padanya. Jika aku bersama, cinta yang tadinya semakin mengecil hingga berjarak pada hati ini akan penuh kembali. Harus kuapakan pilihanku?

Pertimbangan-pertimbangan ini tak kusajikan dalam rupa retorika, hingga dipahami olehnya. Sungguh, tidak sama sekali. Aku kembali pada pilihanku, yaitu mendiamkan diri dari segala pertanyaannya. “Haruskah aku menunggu? Terik. Kau tahu, kaulah yang menghujani aku dengan teriknya cintamu. Waktu itu, kau sangat pemberani. Aku sedih, sangat bersedih. Melemahkan keberanianmu, pada sebuah penantian yang kau harapkan padaku.

Namun apa daya? Aku pergi. Dalam kepergianku, aku berefleksi tentang dirimu. Semua orang yang kutatap, kubayangi adalah kau. Lantas aku meragu pada pilihan yang tadinya kuenggankan engkau. Aku menyerah, Terik. Sekali lagi, aku menyerah pada rasa ini. Rasa yang kunamakan, cinta. Rasa yang kutujukan dan kupastikan hanya padamu, arah dan tujuan rasa itu. Jika engkau enggan menangkap rasa itu, setidaknya berikanlah jawabanmu. Bila engkau tak ingin, masih bisakah kita berakrab sebagai kawan?”.

Kali ini, ada yang berbeda dari cara bicaranya yang memang tak bisa kulupakan. Nyawa dalam kata-katanya mengisyaratkan ungkapan menyerah dengan keadaan juga menerima keputusan, ya keputusanku. Lantas bagaimanakah dengan keputusanku? Hatiku masih gusar menemukan pilihan yang tepat atas jawabannya padaku. Hingga pada akhirnya, kutemukan jawaban yang tepat atas pertanyaannya.

Aku menatap Hujan, sambil tersenyum dan mengangguk. Dalam anggukanku, aku berpikir bahwa aku memang mencintainya, tapi tak ingin kupaksakan. Setidaknya, dia telah kembali. Kawanku telah pulang kembali, padaku. Dan aku beruntung, sangat beruntung. Dia kembali dengan apa adanya dirinya, tanpa banyak berubah. Masih sama, masih menyenangkan walau dalam rupa yang berbeda. Rupa yang kumaksud adalah rupa cinta, katanya kala itu. Genggaman tangannya yang dulu dan sekarang masih sama, sama-sama menghangatkan walau sejatinya kini dia telah berubah. Perubahannya terletak pada keberaniannya tuk kembali memperbaiki segalanya.

Keberanian yang selama ini aku nantikan, namun didustakannya lalu memilih pergi begitu saja. Inginku, menghakiminya kala dia datang kembali. Namun apa dayaku? Belum sempat terbesit pikiran tuk menghakimi, daya pikatnya telah meluluhkanku dengan permintaannya yang selama ini selalu kuharapkan. Permintaanya yang selalu kusemogakan dalam doaku. Waktu yang bergulir hingga berlari meninggalkanku tak sedikitpun membuatku ingin menghakiminya dengan milyaran cerca yang sempat muncul. Belum sempat terlontar, hatiku menolak. Dia tak pantas tuk aku pahami. Sejatinya, dia begitu layak kupeluk kembali. Ya, pelukan sebagai sahabat terbaikku.

Luput sudah rasa marahku, yang mendendam dan mengadakan perih di dada. Setidaknya dada ini, tak lagi mengalami serangan sakit yang menyakitiku berulang kali ketika mengingat semua tentangnya. Semua yang selalu aku inginkan. Anggukan kepalaku, bukan pertanda meresmikan cinta kami. Bukan, cintaku memang selalu untuknya tapi tidak dengan cara seperti ini.

Penolakanku pun tak serta lalu sepertinya, yang pergi begitu saja. Bukankah sikap saling-mengasihi dapat melunturkan hingga mencairkan tebalnya dendamku yang berusia bertahun-tahun? Ya. benar. kasihku padanya begitu sungguh. Bukan karna dia cintaku, tapi dia teman terkasihku. Anggukan kepalaku, sebagai pertanda kisah persahabat kita yang sempat terputus kembali menyatu. Hujan, kau dan aku (Terik) memang tak pernah terpisahkan.

Kita saling mencintai, ya saling mencintai. Namun aku takut hubungan kita berhenti ketika cerita cinta kita berakhir. Karna sikapku yang akan menjauh sejuta jarak dan langkah jika memang kisah cinta kita berakhir. Biarlah cinta yang memenuhi dada kita masing-masing ini, tersimpan dengan begitu rapih. Jika pada masanya, pastinya akan kita ambil lagi cinta yang kita simpan. Who knows kan, Hujan? sekarang biarlah kita ukir cerita pertemanan kita yang sempat hilang.

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya

Advertisement

“Artikel ini merupakan kiriman dari pembaca hipwee, isi artikel sepenuhnya merupakan tanggung jawab pengirim.”

Berikan Komentar

Tim Dalam Artikel Ini

Penulis

Pengkhayal tentang uniknya cinta. Temui aku disana, kamu. ellasermatang.wordpress.com