Kompromi Ekspektasi, Satu Langkah Mendamaikan Diri~

Jangan keras pada diri sendiri, ya

Katanya, mencintai diri adalah perjalanan seumur hidup. Untuk mampu mencintai diri, langkah pertama adalah mengenali diri lalu memahami, kemudian menerima dengan sepenuh hati atas segala hal yang ada di dalam diri. Tapi dalam mengusahakannya, tak semudah seperti yang ada diteori. Bahkan beberapa dari kita mengalami kesulitan tersendiri untuk mengupayakannya, entah dengan berbagai penyebab yang menyertai, termasuk adanya ekspektasi.

Advertisement

Hidup adalah tentang serangkaian harapan yang ingin kita wujudkan. Ingin melakukan ini, ingin memiliki itu, atau ingin menjadi seperti apa. Harapan memang baik untuk ditumbuhkan sebab ialah salah satu langkah awal sebagai motivasi dalam memperjuangkan suatu hal. Namun harapan akan menjadi boomerang jika ia ditumbuhkan dengan kadar yang berlebihan. Inilah yang kemudian biasa kita sebut ekspektasi.

Ayahmu berharap kamu berkarir di bidang yang sama sepertinya, sementara Ibumu berharap kamu selalu berhasil disetiap ujian. Orang-orang di sekitar tak kalah ingin menyumbang harapan, ingin kamu menjadi seseorang yang sukses berkarir dan menjadi kebanggaan keluarga besar. Setiap kali bertemu dengan mereka, seakan kamu sedang berhadapan dengan sekumpulan monster menakutkan yang membuatmu ingin segera melarikan diri.

Ayah ingin kamu lanjut ke sekolah ini. Akan bagus untukmu nanti!

Advertisement

Bagaimana dengan testmu hari ini, apakah kamu mendapatkan nilai bagus?

Bentar lagi kamu lulus. Rencananya mau kerja dimana? Daftar ke BUMN aja gampang, gajinya juga lumayan loh. Kamu kan pinter, masa ngga bisa!

Advertisement

Kamu terlanjur tumbuh dengan standar tinggi. Bahkan barangkali, sejak kamu lahir ke dunia hingga di umurmu yang sekarang, hidupmu adalah tentang bagaimana mewujudkan segala harapan orang lain. Bahu kuat yang sebenarnya siap rapuh itu, adalah bahu yang terbiasa menopang ekspektasi dengan berbagai kadar beban. Langkah kakimu selalu berjalan ke arah yang ditentukan, sehingga membuatmu kesulitan untuk sekadar menoleh ke arah lain yang kau inginkan. Lalu napasmu, yang kau hirup ialah udara menyesakkan hingga kau tak mampu mengenali bagaimana rasanya bernapas ringan.

Terbiasa tampil demi menyenangkan orang membuatmu asing dengan perasaan bahagia atas pilihan diri sendiri. Kamu kesulitan untuk melepaskan diri dari belenggu ekspektasi, rasanya sudah terlalu mengikat hingga kamu bahkan terkadang ingin hati pasrah dan menyerah. Lalu timbul rasa kesal, marah, dan segala emosi negatif yang membuatmu ingin menyalahkan dan mengkambinghitamkan mereka. Hingga kemudian puncaknya, kamu menyalahkan diri sendiri atas ketidakmampuanmu untuk membebaskan diri. Kamu benci semuanya.

Dapat dimengerti jika kamu marah sehingga ingin rasanya berteriak, bahkan jika kamu sudah tak lagi mampu membendung air mata yang selama ini kau tahan mati-matian. Kamu berhak merasakan segala emosi yang menyertai kondisimu ini. Perasaanmu adalah hal valid yang sudah semestinya kamu peluk hangat. Dengan menerimanya ialah langkah awalmu untuk mampu berdamai dengan ekspektasi yang membebankamu itu.

Pada kenyataannya semua hal memang tak semudah seperti yang diucapkan. Namun meski begitu, hal-hal yang tampaknya rumit di kepalamu akan berubah menjadi hal sederhana yang sebenarnya mampu kau hadapi, misalnya tentang ekspektasi. Alih-alih berusaha keras menghilangkannya, berdamai dengannya justru membuatmu mampu menghadapinya. Ketika kamu mampu mengendalikan isi kepala dan perasaanmu, kamu telah mampu berkompromi untuk mendamaikan dirimu sendiri.

Sekali lagi tak ada yang mudah, selagi ada keinginan dalam diri dan keyakinan untuk mampu mengusahakannya, maka semua hal akan berproses dan menghasilkan akhir yang baik. Tak perlu keras, cukup usahakan pelan-pelan dan nikmatilah bagaimana hidup mampu mendewasakanmu. Peluk hangat untukmu~

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya

Advertisement

“Artikel ini merupakan kiriman dari pembaca hipwee, isi artikel sepenuhnya merupakan tanggung jawab pengirim.”

Berikan Komentar

Tim Dalam Artikel Ini

Penulis

Abadi meski berlalu.

CLOSE