Beberapa waktu lalu youtuber asal Malang mengulas hal berkaitan dengan identitas. Tentang muda mudi Malang di sekitaran Universitas Brawijaya yang sudah tak terdengar medoknya. Kebetulan saya adalah salah satu orang yang bisa disebut sebagai "Mereka yang  berkeliaran di sekitaran UB", sebelumnya tidak pernah memperhatikan hal itu. Hingga sebuah pengalaman mengingatkan saya akan video tadi bahwa nyatanya memang betul disini sudah tidak lagi terasa logat Jawa-nya, atau kita sebut medok.

Cerita sedikit tentang pengalaman saya, beberapa waktu lalu saya mengalami hal yang agak mirip dengan mas-mas pemilik akun youtube tersebut. Berbeda lokasi, saya mengalami hal ini bahkan di kelas saya sendiri. Saya mahasiswa semester 2 yang notabene masih bertitel maba, tentu masih belum hafal 70 teman di kelas saya.

Advertisement

Pada saat itu, saya tidak sengaja punya keperluan dengan salah satu teman yang belum saya kenal. Berbicaranya "aku kamu" dengan tambahan logat Jawa-nya yang kental. Dalam hati, saya mengira teman saya ini mungkin asal Surabaya, Malang, dan sekitarnya. "Rek, ada yang punya tipe-ex a?" kataku. "Iki aku onok!" kata temanku yang belum kukenal ini. "Oh iya, makasih, minjem ya" jawabku sambil mengambil tipe-ex dari tangannya. "Iyo, santuy".

Di lain hari ketika jam kosong karena dosen tiba-tiba mengaku sedang ke luar negeri—entah liburan atau bulan madu—kelas saya "auto" jadi seperti pasar yang pedagangnya berteriak mengumandangkan dagangannya. Bagaikan seorang pembeli, saya melirik seseorang yang sedang bicara dengan suara lantang. Logatnya terdengar mantap khas ibukota, lengkap dengan "gue, lu, literally, which is" dan kawan-kawannya. Menariknya, orang yang bicara lantang seperti pedagang pasar ini adalah teman saya yang kemarin saya ajak ngobrol dengan bahasa Jawa plus logatnya yang kental.


Terkejut? Sayapun begitu.


Advertisement

Sontak hal ini membuat saya bertanya-tanya. Teman saya ini asli mana sih? Malang? Surabaya? atau Depok? Tangerang? Jaksel? Merasa ingin mengklarifikasi, sayapun bertanya pada teman saya itu. Jawabannya, "Aku asli Malang". Saya semakin terkejut mendengarnya.

Sebelum mengalami hal ini, saya biasa-biasa saja ketika menonton video youtube yang tadi saya utarakan di atas. Namun ketika saya mengalaminya sendiri, jadi agak miris. Masalahnya, hanya lewat cara berbicara ternyata saya sudah dibuat bingung akan identitas teman saya sendiri. Baru 1 orang, bagaimana dengan 69 teman saya lainnya yang mungkin belum saya kenal?

Apresiasi besar untuk kota Malang yang kedatangan tamu dan saudara baru dari lain daerah untuk menuntut ilmu maupun merantau mencari mata pencaharian. Namun seharusnya hal ini  tak lantas membuat identitas kita penduduk asli sini jadi tertular akan kebiasaan dan gaya hidup serta gaya bicara tamu-tamu kita ini.

Hal yang saya pertanyakan bukan karena logat teman saya yang bisa berkamuflase dengan cepat, namun tentang identitasnya. Saya mengherankan mengapa bahasa kampung halamannya sebagai identitasnya, dengan mudah tergantikan hanya karena arus jaman ini yang masih tidak jelas mau dibawa kemana. Justru hal ini menuai krisis identitas pribadinya. Seperti yang saya tanyakan tadi, teman saya tadi sebenarnya orang Malang atau Jaksel? Apakah karena ingin gaul dan masuk ke komunitas "lu gue" lalu dengan mudahnya bergeser ke cara berbicara orang dari belahan bumi lain? Ataukah mereka malu terdengar medok dan takut dianggap "kampung"?

Hal yang saya dapatkan dari pengalaman saya ini adalah gaya bahasa seseorang nyatanya bisa menuai krisis identitas. Kejadian ini baru di sekitaran UB, belum satu kota Malang, belum kota lain, belum satu Indonesia. Bagaimana kalau satu Indonesia malah bergeser ke bahasa lain yang bukan Bahasa Indonesia?  Identitas Indonesia bisa goyah? Bisa.

Berkaca dari video youtube dan pengalaman, saya menyimpulkan secara pribadi bahwa penting sekali untuk berbahasa Indonesia atau berbahasa daerah yang tepat. Bukan semata-mata ingin dianggap gaul, lalu merubah kekhasan dari kampung halamannya. Justru seharusnya muda mudi arek Malang itu mengenalkan bahasa daerahnya ke teman-teman pendatang.


Kita tuan rumah, mereka tamunya. Kita yang menjamu, kita yang memperkenalkan isi rumah kita.


Advertisement

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya