Perjalanan hidup merupakan suatu hal yang kerap harus di jalani setiap manusia. Saya adalah seseorang yang penuh dengan perjuangan dalam menjalankan kehidupan. Saya Fanny Anggraini adalah seorang anak peremupan dari dua bersaudara. Saya memiliki keluarga yang selalu ngesupport saya. Kehidupan keluarga saya juga tidak begitu selalu berjalan mulus. Orang tau saya bukan lah seorang yang berpendidikan, orang tua saya hanya lah seorang yang hanya lulusan SLTA dan SLTP.
Untuk mencapai puncak kesuksesan orang tua saya membanting tulang demi kehidupan yang berkecukupan. Dengan memulai usaha dari nol hingga mencapai kesuksesan sekarang, banyak pengorbanan yang harus di perjuangan. Berkat kedua orang tua saya, saya dapat sekolah dengan kebutuhan yang selalu terpenuhi. Saya bangga memiliki orang tua seperti mereka. Begitu indah bukan, kehidupan dengan keluarga yang lengkap dan dengan segala kecukupan.
Selama 6 tahun saya disekolah orang tua saya di salah satu pondok di solo. Pondok Pesantren Modern Islam Assalaam merupakan suatu tempat dimana saya berkembang menjadi peibadi yang lebih baik. Dimana disana merupakan pilihan ayah saya agar anaknya bisa memahami ilmu agama lebih dari orang tuanya. Orang tua saya ingin saya dipondok agar suatu saatu saat bisa mengajari mereka yang bisa dikatakan kurang dalam pemahaman ilmu agama. Dipondok saya dapat pembalajaran hidup yang sangat banyak.
Tidak hanya mendapatkan ilmu agama saja akan tetapi nilai-nilai mengenai kehidupan pun saya sapatkan dipindok. Mulai dari disiplin waktu, bertanggung jawab, kesabaran, kebersamaan dan lain-lain. Dipondok saya belar begitu bermaknanya kebersamaan bersama teman. Mulai dari bangun tidur hingga tidur 24 jam bersama teman, yang belum tentu bisa kita dapatkan di kehidupan luar. Maka dari itu saya sangat bersyukur memilki orang tua yang memberi saya kesempatan untuk bersekolah di Pondok Pesantren Modern Islam Assalaam. Begitu indah menikmati kehidupan dipondok kala itu.
Pada tahun 2019 ketika naiknya lonjakan covid, saya harus kehilangan sosok ayah dikehidupan saya. Sosok ayah dikehidupan saya merupakan hal yang sangat terpenting teruntuk pertumbuhan anak-anak perempuannya. Kehilangan sosok ayah adalah kehilangan cinta pertama dari seorang anak perempuan. Ayah saya seorang yang sangat berperan oenting dalam kehidupan keluarga saya. Kehilangan seorang ayah adalah hal yang membuat saya sangat terpukul dan merasakan begitu hebatnya cobaan hidup. Ketika saya lulus dipondok, saya wisuda tanpa adanya peran ayah dikehidupan saya. Akan tetapi, saya bersyukur dengan adanya kehadiran mama serta kakak saya dalam hidup saya tak membuat saya putus asa atas segala hal.Â
Pada tahun 2020, setelah saya lulus dari pondok, kemudian saya ingin menjalankan amanah, amanah tersebut merupakan cita-cita2 dari ayah saya sendiri. Kuliah di kedokteran dan menjadi seorang dokter adalah cita-cita ayah saya sejak lama. Dengan amanah tersebut saya pun harus bisa menggapai cita-cita tersebut. Kemudian, setelah saya lulus dari pondok, saya mengikuti pendaftran serta test dalam masuk kuliah. Mencari kuliah bukanlah hal yang mudah.
Banyaknya cobaan yang harus saya lalui dalam mencari kuliah. Dengan adanya amanah dari ayah saya menjadikan diri saya beroptimis dan harus bisa kuliah di jurusan kedokteran. Dengan keoptimisan saya dalam menjalankan amanah ayah saya tak luput pula mama serta kakak saya ikut mendukung dengan sepenuh hati. Saya sangat bersyukur terhadap mama serta kakak saya yang selalu ada dalam setiap perjalanan saya.Â
Dibalik diterimanya saya di FK UNS, ada banyaknya perjuangan dan tantangan yang saya lalui. Banyak proses yang saya lalui dalam mengejar Kedokteran. Pada tahun 202, saya juga sempat mengikuti beberapa PMB dari beberapa universitas mulai dari swasta maupun negeri. Pada niat awalnya, saya memang mengincar satu kampus swasta yang ada dijogja, sudah melakukan beberapa kali tes hasilnya pun nihil. Kemudian, saya mencoba beberapa kampus swasta yang pada waktu itu masih buka. Kemudian, saya keterima di dua kampus swasta akan tetapi mama saya tidak menyetujui kalo saya kuliah dikampus tersebut dengan alesan jaraknya yang jauh dari kampung halaman.
Pada akhirnya saya memutuskan untuk gapyear dan mencoba ditahun berikut nya. Berat hati itu mengambil keputusan gapyear tetapi mau bagaimana lagi. Rasa cemas, hampir putus asa, capek, khawatir, takut, sedih, iri dan lain-lain, itulah yang saya rasakan ketika gapyear. Pada 2022 saya hanya bisa tawakal terhadap rencana Tuhan. Dan ketika saya pertama kalinya untuk mendaftar di UNS, saya tidak banyak berharap untuk diterima. Kemudian, hari dimana ketika pengumuman , saya pertama kali membuka pengumuman tersebut kemudian dengan hasil bahwa saya diterima di Kedokteran UNS 2022.
Puji syukur selalu saya panjatkan kepada Allah. Diterima nya saya di FK UNS berkat usaha dan doa orang sekitar saya yang senantiasa mendukung dan mendoa kan saya. Dengan ini menjalankan amanah ayah saya ini semoga saya dapat menjadi anak yang dapat membahagiakan serta menolong banyak orang terutama orang sekitar saya. Setiap perjuangan akan bermakna apabila dijalankan.
Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya
“Artikel ini merupakan kiriman dari pembaca hipwee, isi artikel sepenuhnya merupakan tanggung jawab pengirim.”