Lebih Dalam Mengenal Konsep Diri Pada Anak Remaja. Fase-fase Mencari Jati Diri Banget~

Konsep Diri Remaja

Masa remaja merupakan masa peralihan dari anak-anak menuju dewasa. Di masa ini remaja meninggalkan hal-hal yang berbau kekanak-kanakan untuk mempelajari perilaku baru. Pada masa remaja terdapat banyak tantangan yang harus dilalui karena masa inilah para remaja mulai mencari jati diri, mengembangkan sikap dan sifat, serta masa di mana rasa keingintahuannya sangat tinggi sehingga selalu ingin mencoba hal-hal yang baru. Lalu, di dalam masa perkembangan ini, perlunya penyesuaian mental, nilai, dan minat baru. Maka dari itu, fase remaja merupakan masa perkembangan yang sangat penting.

Advertisement

Melihat banyaknya tantangan yang harus dihadapi remaja, membuat mereka harus hati-hati untuk menghindari perilaku yang berisiko. Proses perkembangan tidak selalu berjalan sesuai perkiraan dan harapan, terkadang ada faktor-faktor yang akan menghambat. Faktor penghambat ini bisa berasal dari lingkungan yang tidak sehat. Sehingga, akan memberikan dampak yang kurang baik pada masa perkembangan. Oleh sebab itu, hal yang penting diketahui adalah konsep diri pada anak remaja.

Pengertian umum dari konsep diri adalah sebuah konsep untuk memahami tingkah laku manusia, serta memperlajari melalui baik interaksi dengan dirinya sendiri, orang lain, maupun dengan lingkungan di sekitarnya (Zulkarnair et al., 2020).

Konsep diri merupakan aspek yang penting dalam diri seseorang karena konsep diri seseorang ialah kerangka acuan dalam berinteraksi dengan lingkungannya. Atau, konsep diri juga dapat diartikan sebagai proses multidimensi dari internalisasi dan tindakan berdasarkan perspektif sosial (Wood, 2013). Konsep diri pada masa remaja memberikan landasan tersendiri untuk kehidupan remaja ke depannya. Pada dasarnya, ketika remaja berada di masa ini, mereka mencoba berbagai macam peran dan karakter. Oleh karena itu, konsep diri pada masa remaja menjadi periode kunci. Konsep diri bertambah stabil saat periode masa remaja.

Advertisement

Di dalam kehidupan, manusia memasukan banyak perspektif ke dalam dirinya, yang nantinya hal itu akan menjadi bagian dari diri mereka melihat diri sendiri. Jadi, untuk mengenal diri sendiri, biasanya berdasarkan dari interaksi yang diciptakan dengan orang lain. Sejak lahir, manusia selalu berinteraksi atau berkomunikasi dengan orang, di mana manusia akan belajar dari pandangan dan perspektif orang lain. Menurut George Herbet Mead (1934) terdapat dua perspektif dalam mengembangkan konsep diri, yaitu perspektif orang terdekat dan perspektif dari orang lain. Orang terdekat merupakan orang yang memberikan arti khusus dalam kehidupan. Ketika masa remaja, orang-orang terdekat ini bisa meliputi anggota keluarga, teman, dan guru.

Awalnya, proses berkembangnya konsep diri dimulai dalam keluarga, di mana setiap individu belajar memandang dirinya dari anggota keluarganya. Kemudian, perspektif mengenai diri sendiri akan bertambah jika berinteraksi dengan guru dan teman sebaya. Saat seorang remaja mencari identitas dirinya dalam lingkup teman sebaya, mereka harus bisa menjauhi lingkungan pertemanan yang negatif atau kurang baik karena hal ini rentan dengan munculnya perilaku berisiko.

Advertisement

Masa remaja adalah masa-masa mereka mencari jati diri, yang mana hal ini akan mempengaruhi tingkah lakunya dan mereka lebih mudah terbawa arus. Sampai saat ini, remaja masih sangat membutuhkan bantuan dukungan dari orang tua dan lingkungan di sekitar mereka. Hal-hal yang bisa dilakukan agar terciptanya konsep diri yang positif pada remaja, seperti melakukan aktivitas fisik, mencintai diri sendiri, fokus pada kelebihan yang dipunya, dan membantu orang lain.

Perspektif orang terdekat memiliki pengaruh yang besar pada diri anak remaja karena perspektif ini mengkomunikasikan “siapa” diri mereka melalui beberapa penilaian, yaitu penilaian langsung, penilaian reflektif, skrip identitas, dan gaya kelekatan. Menurut Julia T. Wood (2018) penilaian langsung (direct definition) adalah suatu pola komunikasi dari orang lain yang menjelaskan siapa diri kita dengan memberikan lebel langsung sesuai dengan perilaku diri kita. Orang terdekat ataupun orang lain dapat memberikan sebuah penilaian berdasarkan apa yang harus dan tidak boleh dilakuan. Biasanya, orang tua berkata seperti ini untuk anak remaja perempuan, “Jangan terlalu sering bermain, kamu harus belajar” atau “Anak perempuan harus bisa memasak.” Sedangkan untuk remaja laki-laki, umumnya orang tua akan berkata “Jangan cengeng” atau “Anak laki-laki harus kuat”. Adanya hal ini, membuat anak-anak khususnya para remaja menginternalisasi harapan gender dari orang tua dan lingkungan sekitarnya. Penilaian langsung dengan perspektif positif secara tidak langsung akan meningkatkan kepercayaan diri mereka. Begitu pula sebaliknya, perspektif negatif akan menghancurkan perasaan dan rasa percaya diri seorang anak.  Karena itu, dengan adanya penilaian langsung, anak remaja bisa mempelajari mengenai nilai apa saja yang akan membentuk penilaian sesuai keinginan mereka sendiri. Intinya, penilaian langsung dari orang terdekat bisa mendorong maupun merusak harga diri anak.

Penilaian kedua, penilaian reflektif (reflective appraisal) merupakan perspektif terhadap pandangan orang lain. Persepsi ini mempengaruhi bagaimana cara kita memandang diri sendiri. Orang lain adalah cermin diri sendiri. Maksudnya, orang lain akan memantulkan bayangan diri kita sendiri yang nantinya akan membentuk perasaan diri sendiri. Tentunya penilaian reflektif penting, terutama untuk para remaja. Sering kali anak remaja membutuhkan sebuah validasi dari orang-orang di sekitarnya. Contohnya, orang lain mengatakan “Kamu sangat pintar,” kemungkinan besar kita akan melihat diri sendiri seperti yang orang tersebut katakan. Namun, dalam penilaian reflektif ada tiga penilaian, yang mana orang lain bisa berperan sebagai uppers, downer, dan vulture. Orang yang berperan sebagai uppers ini menyampaikan hal-hal yang positif dan kita cenderung akan merasa senang. Lalu, untuk peran downer, orang akan memberikan penilaian yang negatif, seperti menekankan kekurangan, meremehkan, dan lain-lain. Sedangkan vulture, mereka adalah bentuk dari penilaian downer yang lebih ekstrem. Vulture selalu mencari-cari kesalahan dan memberikan kritikan tajam. Jadi sebisa mungkin sebagai remaja, carilah teman yang memiliki tipe uppers setidaknya dua orang.

Selanjutnya adalah skrip indentitas (identy script), yang memilki arti aturan dalam kehidupan dan pembentukan identitas diri. Skrip identitas bagaikan naskah disebuah film yang mendefinisikan peran dalam kehidupan, bagaimana kita memainkan peran tersebut dalam alur kehidupan kita. Biasanya skrip identitas mencerminkan nilai-nilai yang terkandung dalam keluarga. Contoh skrip identitas yang biasanya orang tua katakan disaat remaja, seperti “Nikmatilah masa mudamu dengan hal yang positif” atau “Bersikap baiklah dengan tetangga” dan masih banyak lagi.

Terakhir, yaitu gaya kelekatan (attachment styles). Gaya kelekatan merupakan pola pengasuhan yang diajarkan pada anak agar bisa mengenali diri dan lingkungannya serta belajar melakukan pendekatan pada lingkungan. Ada empat gaya berbeda dalam pola gaya kelekatan. Pertama, gaya kelekatan aman, orang-orang terdekat mengkomunikasikan hal positif sehingga kita merasa nyaman. Kedua, gaya kelekatan takut, biasanya orang terdekat berbicara secara negatif sehingga kita merasa takut dan tidak nyaman. Ketiga, gaya kelekatan meremehkan, tercipta dari pola asuh yang cuek sehingga menyebabkan sosok individu yang tidak peduli. Keempat, gaya kelekatan cemas, orang terdekat berkomunikasi secara tidak konsisten yang menyebabkan terjadinya kecemasan pada anak (Wood, 2013).

Dari semua penilaian diri ini menentukan tingkat harga diri yang akhirnya akan menentukan perilaku seorang remaja. Ketika ada seseorang yang menghargai dirinya, dampaknya akan positif pada dirinya. Begitu pun sebaliknya, semakin seseorang tidak bersikap baik pada dirinya maka akan menimbulkan konsep diri yang negatif. Dengan kata lain, seorang remaja harus bisa menentukan lingkungan hidup yang positif bagi dirinya agar terbentuknya konsep diri yang positif. Akhir dari konsep diri ini, baik itu positif maupun negatif, akan berpengaruh pada perilaku yang positif atau negatif juga.

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya

Advertisement

“Artikel ini merupakan kiriman dari pembaca hipwee, isi artikel sepenuhnya merupakan tanggung jawab pengirim.”

Berikan Komentar

Tim Dalam Artikel Ini

CLOSE