Teruntuk Lelaki yang Pergi Terlalu Cepat, Tahukah Kau Masih Banyak Kata yang Belum Sempat Terucap?

lelaki pergi cepat


Kedatanganmu begitu sederhana, sesederhana angin yang berlalu tanpa jejak.


Advertisement

Andai saja kala itu kau tak pernah menyapa sepiku, mungkin sampai saat ini aku masih candu meneguk secangkir teh hangat di pangkuan senja. Andai saja kau tak pernah melukis tawaku, mungkin saat ini aku masih menikmati sunyi di penghujung malam. Andai saja… andai saja… andai aku tak mudah berandai-andai tentang sesuatu yang tidak akan pernah terjadi. Sayangnya, dalam setiap hembusan waktu, aku terlalu menghambakan diri pada harap yang kian semu, pudar, dan mungkin lenyap.

Aku tidak pernah mengutuk sepi, meski harus didekap senyap seorang diri. Namun, kau datang, tanpa alasan, aku tersenyum. Sekejap kudengar bisikmu, hampaku menemukan tempat untuk berlabuh. Aku tak tahu pasti, mengapa aku bisa bahagia hanya karena hal sederhana darimu. Aku tak pernah mengira, aku bisa sangat begitu terbiasa menghadirkanmu dalam bayangku. Aku tak pernah menduga, kau memasuki ruangku dengan begitu mudah dan meninggalkannya tanpa sepatah ucap.


Kau membunuh piluku, perlahan melukis senyum dari sisa duka waktu lalu.


Advertisement

Tanpa sadar, bait-bait tentangmu mulai terrangkai. Aku mulai mencari hadirmu ketika kau tak dapat terjamah, menantimu ketika kau menjauh, dan tetap menjadi aku ketika kau bukan lagi kau.   

Aku harap kau tahu, sebenarnya aku masih membutuhkanmu, sebentar lagi saja. Rasanya, semuanya terlalu singkat untuk kurangkai menjadi sebuah kenangan lalu. Terlalu cepat kau pergi, bahkan senyum yang kau suguhkan pun masih tersisa dalam ingatan.

Sebenarnya, apa tujuanmu datang? Kau membuatku terbuai, terbiasa bercengkerama denganmu, terbiasa menertawakan tingkahmu, terbiasa mendengarkan cerita manis dari setiap harimu, dan yang paling kusesalkan, aku sudah terbiasa dengan kebiasaan itu. Setelah itu, kau bergegas pergi. 


Mungkin, tujuanmu datang hanya untuk pergi, bukan menetap.   


Aku tak pernah memaksamu untuk tinggal, tetapi tinggalkan sedikit jejak untuk kupandang selepas kau beranjak. Hanya saja, lagi-lagi andaikan, andai saja kau sedikit lebih lama mendengar ceritaku, andai saja kau sedikit lebih lama peduli, andai saja aku tidak sedang berandai-andai. Ya, andai saja aku tidak sedang berandai-andai, mungkin saat ini, aku akan memilih menghabiskan waktuku untuk mencurahkan piluku kepadamu, bukan hanya sekadar merangkai tulisan dan berharap kau membacanya.

Andai saja kau tak berubah terlalu cepat, andai saja kau tak terburu-buru pergi, atau andai saja kau tak pernah datang…

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya

Advertisement

“Artikel ini merupakan kiriman dari pembaca hipwee, isi artikel sepenuhnya merupakan tanggung jawab pengirim.”

Berikan Komentar

Tim Dalam Artikel Ini

Penulis

Saya adalah seorang mahasiswi salah satu universitas di Bandung.

CLOSE