Bingung tujuh keliling? Itulah mahasiswa. Bulan nan suci ini masih diisi dengan penuh kesibukan dari ujian akhir semester, tugas kuliah, rapat beserta kegiatan mahasiswa lainnya. Sebagai individu yang menapakkan kaki di perguruan tinggi sudah semestinya calon eksekutif muda sudah independen, kreatif dalam inovasi serta pandai manajemen waktu. Tentunya bagi seorang perantau seperti saya, euforia bulan Ramadantidak begitu terasa signifikan dibandingkan di kampung halaman. Di sini, waktu kualitas berkeluarga tidak ada, lebih banyak sendiri atau bersama teman. Keadaan ini dirasakan oleh banyak mahasiswa perantau dari sabang sampai merauke.

Oleh karena itu, lembaga kemahasiswaan di perguruan tinggi secara tradisi mempunyai banyak program-program kerja yang bertujuan untuk mewarnai bulan ramadhan. Fungsi utama adanya aktivitas kemahasiswaan adalah untuk menimbulkan rasa persatuan antar mahasiswa, mengasah soft skill, mengembangkan inovasi IPTEK dan tentunya menjalin relasi yang luas baik di dalam maupun lingkungan sekitar kampus. Kegiatan amal, kemanusiaan dan sosial digencarkan oleh kami terutama dibulan nan suci. Selain sekedar mengisi kesibukan, kegiatan seperti itu juga meningkatkan tali persahabatan antar teman kuliah, kepekaan terhadap masyarakat yang membutuhkan di sekitar serta menimbulkan rasa syukur dari sisi keagamaan dan sosial. 

Advertisement

Kegiatan Mahasiswa saat Ramadan

Kegiatan amal di bulan Ramadan yang biasanya dilakukan oleh mahasiswa berupa bantuan amal yang bervariasi bentuknya, mulai dari bagi-bagi takjil dan nasi bungkus sampai acara penyuluhan pendidikan serta kajian keagamaan ke warga sekitar dengan agenda buka bersama. Sasaran target bantuan biasanya untuk warga sekitar yang kurang mampu seperti orang jalanan dan anak yatim piatu.

Namun, hal yang tidak disadari oleh kaum milenial sekarang adalah dibalik bantuan amal berupa pembagian beratus-ratus buah nasi bungkus, kami lupa bahwa kami telah memakai beratus-ratus kontainer dan kantong plastik siap pakai yang langsung dibuang! Perlu diketahui mungkin kelihatannya tidak banyak yang terbuang dan tidak terlalu mempengaruhi lingkungan tetapi coba bayangkan! Dari satu acara kegiatan bisa membuang sampai lebih dari seratus bungkus atau kontainer makanan plastik, kalikan dengan jumlah acara bantuan amal mahasiswa lainnya yang menyelenggarakan bisa sampai jutaan sampah plastik sekali pakai dalam satu maghrib! Itu setara dengan lebih dari seribu tahun waktu lamanya untuk mengurai sampah-sampah tersebut.

Advertisement

Pencemaran Sampah Plastik

Penggunaan plastik dalam di era modern ini sangat lazim sehingga menyebabkan masyarakat tergantung dengan produk kimia ini. Hal tersebut disebabkan plastik merupakan wadah tahan lama, praktis, mempunyai mobilitas dan terlihat bersih. Namun, banyak yang tidak mengetahui bahaya dari plastik. Dalam industri makanan, kontaminasi zat warna plastik dalam makanan dapat menyebabkan produksi radikal bebas jika terkena panas. Sampah plastik mengemisikan gas rumah kaca ke atmosfer serta mencemari tanah dan air dengan partikel kimiawi degradasi yang bersifat toksik. Data tahun lalu 2018 dari Asosiasi Industri Plastik Indonesia (INAPLAS) dan Badan Pusat Statistik (BPS) menyebutkan bahwa  sampah plastik di Indonesia mencapai 64 juta ton/ tahun dimana sebanyak 3,2 juta ton merupakan sampah plastik yang dibuang ke laut. dengan kantong plastik yang terbuang ke lingkungan sebanyak 10 miliar lembar per tahun atau sebanyak 85.000 ton kantong plastik. Apakah angka ini menurun tahun ini, saya tentu meragukan itu, malah justru angka itu kemungkinan besar meningkat.

Peran Mahasiswa dalam Menyehatkan Lingkungan

Mahasiswa adalah ujung tombak bangsa. Bersatu dengan gagasan ideal kami buktinya berperan pada kelahiran era reformasi. Peran kita jelas fundamental terhadap perkembangan hukum negara, lalu bagaimana dengan upaya revitalisasi lingkungan? Belum ada hasil yang signifikan hingga saat ini.

Oleh karena itu, mahasiswa bisa memaksimalkan kegiatan Ramadandengan upaya menyehatkan lingkungan. Inovasi dan peran aktif mahasiswa sangat dibutuhkan untuk merealisasikannya. Beberapa cara untuk mengintegrasikan unsur penyehatan lingkungan di bulan Ramadandapat berupa pembagian takjil menggunakan kontainer dari bahan recycle or reusable atau pun yang bisa dipakai di kemudian hari, model prasmanan dimana volunteer berkeliling membagikan makanan dengan tampah, atau tray, membuat tong sampah secara otodidak menggunakan bahan ramah lingkungan seperti anyaman bambu dan yang paling penting adalah memberikan penyuluhan tentang kebiasaan hidup bersih dan ramah lingkungan kepada masyarakat sekitar. 

Sedikit demi sedikit secara progresif banyak mahasiswa lain akan mengikuti upaya penyehatan lingkungan ini, apalagi di bulan Ramadanyang sungguh memperkuat esensi berbagi kebaikan. Kita mahasiswa mengacu pada ‘Tridharma Perguruan Tinggi’, yakni Pendidikan, Penelitian, dan Pengabdian Masyarakat. Upaya penyehatan lingkungan tentunya terintegrasi dalam  Tridharma Perguruan Tinggi, yaitu menjadi cerminan perubahan disekitarnya. Pemberdayaan masyarakat sekitar untuk Indonesia yang lebih sehat lagi di tahun-tahun yang akan mendatang.

“Tujuan pembersihan bukan hanya untuk membersihkan, tapi juga untuk merasakan kebahagiaan hidup di lingkungan itu” (Marie Kondo, 2014)

Advertisement

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya