Teruntuk Kamu yang Kini Telah Bersanding dengannya, Terima Kasih Sudah Menorehkan Luka

terima kasih sudah menorehkan luka

Dua puluh enam.

Advertisement

Usia yang tidak remaja lagi, menginjak dewasa dan matang. Sudah banyak hal yang dilewati. Suka dan duka, jatuh bangun, harapan kecewa, tawa tangis, dan cinta yang berujung benci. Adakah yang peduli? Tidak. Bahkan untuk memulai saja sudah membayangkan bagaimana akhirnya. Seharusnya aku tidak memulai dengan keadaan hati yang belum siap, tapi kapan aku siap? Mereka hanya singgah dan menjadikan hati ini tempat pemberhentian yang kemudian melanjutkan perjalanan. 

Sedangkan aku? Hanya tinggal cerita. Apakah lelaki memang tidak memiliki pemikiran dan hati yang tulus lagi? Atau aku memang seorang wanita yang gampang melabuhkan hati pada lelaki? Seolah-olah aku yang terbuai oleh janji para buaya. Aku yang terlalu menaruh harap bahkan di luar ekspektasi. Sedangkan mereka hanya menjadikan ini pelipur hati kala sepi. 

Kata orang senja itu indah. Namun, kau tahu apa makna senja bagiku? Senja adalah segala keindahan sesaat yang akan berakhir bersama dalam kegelapan bahkan tak menyisakan sinar. Membuat sesak di dada dan air mata yang hanyut bersama pilu. Senja itu bermakna pulang. Ya, kau pulang kepadanya.

Advertisement

Air mata di kala melihat kau bahagia adalah perasaan tulus bercampur luka. Menghibur hati bahwa kau bukan orang tepat. Namun kusanggah sendiri bahwa kau adalah pengkhianat. Ingin rasanya kututup mata dari sosial media yang merajalela memenuhi beranda. Tak ada kata yang dapat menggambarkan luka patah hati setiap insan. Begitu pula yang kurasakan. Hanya aku. Ya. Hanya aku yang berlinang kepedihan, sedangkan kau bahagia bersanding dengannya tanpa ucap pamit pisah. 

Semuanya hanya mengundang luka, aku bosan dan berpengalaman. Tapi tak cukup tegar dalam keterpurukan. Saat itu aku ingin Tuhan mengangkatku ke langit. Bagimu yang sedang tidak merasa patah hati hal tersebut adalah pernyataan konyol yang disebut berlebihan. Tapi saat itu aku tak butuh nasihatmu karena aku yang merasakan dan aku yang tahu.

Seisi dunia terasa berhenti dan kosong, bahkan senja yang kau bilang indah itu gelap di mataku.  Kenapa kisah asmara ini selalu bertepuk sebelah tangan? Ibarat mawar belum sempat mekar sudah layu. Aku iri pada mereka yang bahagia dengan pilihan mereka sendiri tanpa harus ditinggal pergi, berujung bahagia bersanding di pelaminan. Dan aku masih tetap sendiri dengan hati yang pilu.

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya

Advertisement

“Artikel ini merupakan kiriman dari pembaca hipwee, isi artikel sepenuhnya merupakan tanggung jawab pengirim.”

Berikan Komentar

Tim Dalam Artikel Ini

Editor

une femme libre

CLOSE