Pernahkah saat mimpi kamu merasa bahwa apa yang sedang dialami terlihat nyata? Seolah-olah sekeliling terasa seperti kehidupan di dunia yang sebenarnya. Kamu tahu persis apa yang dirasakan dan dilihat. Tiba-tiba muncul sosok bayangan hitam besar memperhatikanmu diam-diam. Walaupun tidak lihat secara langsung, kamu sadar bahwa sosok tersebut ada di belakangmu.

Seketika situasi menegangkan, bayangan hitam yang seram tersebut menghampirimu. Rasa ketakutanmu sudah menjalar sampai ke setiap saraf, jantungmu berdetak begitu cepat. Mau sekencang apapun kamu menggerakkan badan, tubuh tetap berada di sisi semula, seakan-akan ada yang mengikat badanmu. Sekencang apapun kamu ingin berteriak minta tolong, tidak ada sedikit pun suara yang keluar dari mulutmu.

Advertisement

Jemari dan mulutmu menempel lekat, tidak bisa digerakkan sama sekali. Rasa takutmu menjadi lebih intens, kamu mulai panik dengan keadaan yang sedang terjadi. Namun, saat tangan sosok hitam menyeramkan itu akan mencekikmu, sekejap ia menghilang. Kamu pun tersadar bahwa hal yang baru saja dialami hanyalah sekedar mimpi.

Sebagian orang menganggap bahwa pengalaman tersebut merupakan “ketindihan setan”, yang dimaksud adalah ada makhluk gaib yang menindihi tubuh seseorang ketika sedang tertidur. Akan tetapi, ada pemikiran yang lebih logis akan situasi itu, yaitu sleep paralysis atau kelumpuhan tidur. Keadaan ini terjadi ketika tubuh tidak bisa digerakkan dan mulut tidak bisa berbicara sementara saat tidur. Apabila kelumpuhan tidur terjadi saat baru saja terlelap tidur, namanya adalah kelumpuhan tidur hipnagogis atau predormital. Sedangkan, jika terjadi saat menjelang bangun tidur disebut dengan kelumpuhan tidur hipnopompik atau postorbital.

Di kala kita tidur, terdapat dua fase yang berbeda, yaitu rapid eye movement (REM) sleep dan non-REM sleep. Setiap malam, pastinya kita mengalami kedua fase tersebut. Setiap fase itu memiliki tahapan yang berbeda-beda. Pada non-REM sleep, pertama-tama mata kita akan tertutup, tetapi akan mudah bagi kita untuk terbangun dan tahap ini terjadi kurang lebih 5 sampai 10 menit. Lalu, kita akan mengalami light sleep yang berarti kita baru saja benar-benar tertidur.

Advertisement

Denyut jantung pun melambat dan temperatur badan menurun. Setelah badan kita siap untuk deep sleep, maka kita memasuki tahapan yang terakhir. Ketika tidur nyenyak, kita akan sulit untuk bangun. Dan saat terbangun, pasti kita belum sepenuhnya sadar dalam beberapa menit. Di saat fase tidur inilah tubuh kita memperbaiki dan menumbuhkan sel-sel baru, membangun otot dan tulang, serta memperkuat sistem kekebalan tubuh.

Dengan selesainya non-REM sleep, fase tidur kita akan dilanjutkan dengan REM sleep. Biasanya, fase ini mulai setelah kita tidur selama 90 menit dan hanya terjadi selama 10 menit. Tetapi, setelah mengalami REM sleep di period pertama, fase ini seterusnya akan berjalan lebih lama dan bahkan bisa hingga 1 jam. Pada saat REM sleep terjadi, otot-otot pada tubuh akan beristirahat, mata akan bergerak cepat ke arah yang tidak beraturan, mimpi akan memasuki pikiran dan otak.

Dengan aktivitas tubuh itu, otak kita akan lebih aktif, detak jantung dan nafas kita semakin cepat. Pada normalnya, orang-orang akan mengalami mimpi yang bermacam-macam. Namun, bagi orang yang mengalami kelumpuhan tidur, mimpi akan jauh lebih intens.

Mengapa ketika tidur kebanyakkan orang terkadang tidak sadar sedang mengalami sleep paralysis? Dalam kelumpuhan tidur hipnagogis, hal ini biasanya terjadi karena saat tertidur badan kita menjadi lebih santai, sehingga kita kurang sadar dengan perubahan ketika bermimpi. Pada kelumpuhan tidur hipnopompik, hal ini terjadi saat kita sudah sadar sebelum fase REM sleep selesai atau tubuh kita berganti fase dari non-REM ke REM sleep. Karena menjelang atau saat REM sleep, otak kita menunjukkan mimpi-mimpi yang jelas.

Orang yang mengalami kelumpuhan tidur bisa karena keturunan dari orang tua, dan bisa juga disebabkan oleh faktor-faktor seperti kurang tidur, berubahnya jadwal tidur, kondisi mental (stress, gangguan bipolar), tidur telentang, gangguan tidur (narkolepsi), kram kaki pada malam hari, pemakaian obat-obatan, kecanduan alkohol dan obat-obatan terlarang.

Meskipun hanya 4 dari 10 orang yang dapat mengalami kelumpuhan tidur, hal ini biasanya cukup sering dialami oleh anak-anak remaja yang tertekan akan banyaknya tugas sekolah, sehingga menyebabkan waktu istirahat yang kurang. Dengan tekanan tersebut dan kurangnya waktu tidur secara konsisten setiap hari, sleep paralysis dapat terjadi pada saat awal atau akhir mereka akan tertidur nyenyak.

Maka dari itu, agar mencegah terjadinya kelumpuhan tidur, sebaiknya kita mengatur jadwal tidur dengan baik dan tidur pada malam hari secara konsisten. Pastikanlah jadwal tidur kamu cukup atau kurang lebih 6 sampai 9 jam setiap harinya. Jika mengonsumsi antidepressant dapat mengatur fase tidurmu lebih baik, obat ini juga disarankan. Kalau kamu sedang menderita penyakit mental atau gangguan tidur yang mempengaruhi tahapan tidur, sangat baik untuk konsultasi ke dokter agar gangguan itu dapat diobati.

Walaupun sleep paralysis terlihat seperti kondisi yang cukup menyeramkan dan jarang dialami oleh sebagian orang, sebenarnya, kelumpuhan tidur bukanlah masalah yang serius. Keadaan ini dapat terjadi karena tubuh kita tidak merespon dengan baik dan tidak berjalan dengan baik terhadap fase atau tahapan-tahapan saat tidur. Jadi, jangan merasa takut kalau kamu tiba-tiba tidak bisa menggerakkan tubuh dan mengeluarkan suara saat tidur karena nyatanya kamu sedang bermimpi dan mengalami sleep paralysis yang tidak berbahaya untuk tubuhmu. Tetaplah tenang dan berusaha untuk tidak panik, hal tersebut sekedar mimpi belaka.

Sumber: https://www.webmd.com/sleep-disorders/guide/sleep-paralysis#

Advertisement

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya