Setiap kali saya melangkah pergi, ingatan tentang mama selalu meruntai dalam lamunan. Saya terkesima ketika melihat anak-anak kecil dipinggir jalan sepanjang tanah ini berjalan kaki bersama dengan ibunya. Ingatan saya pun kembali ke 15 tahun lalu, saat mama membawa kaki kami anak-anaknya untuk melangkah bersama.

Selama pergumulan sehari-hari saya di sini dan di dalam setiap doa yang saya daraskan; mama adalah satu dari sekian pujian yang saya panjatkan. Mama adalah rumah. Ingatan tentang mama adalah kenyamanan, keteduhan dan kedamaian. Cinta mama adalah ketulusan, membuncah dalam pikiran.

Advertisement

Mama adalah cerita yang tak pernah usai. Tulisan yang tak pernah tuntas untuk ditulis. Cerita tentang mama tidak pernah final dalam lembaran demi lembaran, tentang cinta dan perhatian yang terlarut dalam belaian yang manja.

Bagi saya, mama selalu mengundang rindu. Ingatan saya masih terekam jelas; kala mama mengelus-elus manja anak-anaknya. Mama, pahlawan keluarga itu, ia selalu berhasil mendidik dan membesarkan kami dengan pola pendidikan keluarga yang tidak diragukan lagi.

Saat saya hendak merangkai kata demi kata menjadi kalimat dalam catatan ini, lagu “Di Doa Ibuku Namaku Disebut” turut bergema. Setiap pergumulan batin saya, selalu ada titik yang saya luangkan untuk mengingat cinta mereka yang tak pernah usai.

Advertisement

Dalam catatan sederhana ini, setidaknya saya memberikan pujian akan pengorbanan sang ibu; pengorbanan yang selalu meneteskan peluh. Dari sekian ibu hebat di muka bumi ini, satu diantaranya Mama Sisi. Terdengar nama yang sederhana, tapi ia salah satu maestro keluarga yang cukup handal dan dapat diandalkan.

Untuk urusan rumah, mama selalu punya cara untuk menutupi kekurangan yang ada. Saya masih ingat bagaimana mama berusaha sekuat mungkin agar makanan di atas meja terlihat menarik. Entah dengan asupan bumbu yang lezat, atau pun terpaksa mengambil apa yang sebenarnya tidak tersedia di dalam rumah. Semua itu mengalir begitu saja, cinta yang mendasari semua kemungkinan itu dapat terjadi.

Soal urusan rumah tangga, mama bisa diandalkan dalam segala sisi. Ia seperti arsitek yang lihai mendesain kokohnya suatu bangunan. Lembut tangannya dalam menuntun langkah kaki kami, dan pinggul yang tangguh saat menjadi sandaran untuk kami berlima.

Kami 5 bersaudara. Berkat tangan keriput mama pula, dari kami berlima, sudah 3 yang menjadi sarjana. Sebuah perjuangan yang luar biasa. Tinggal dua lagi yang masih duduk dibangku pendidikan dasar dan menengah.

Mama turut memiliki andil besar dalam mengepulnya dapur. Hari-harinya ia habiskan pula di ladang. Selain menjadi ibu rumah tangga, mama juga seorang petani yang ulet. Berkat ketekunannya dalam berladang, sayur-sayur di tepi meja tidak pernah habis. Kami tidak kekurangan asupan gizi.

Setiap saya pulang ke rumah, saya selalu meminta mama menyajikan secangkir kopi. Meski saya sudah lihai membuat kopi dengan racikan kopi Flores yang pas (kopi 1,5 sendok dan gula hanya setengah sendok,red), akan tetapi kopi buatan mama selalu saja terasa lebih sedap. Kopi buatan mama tetap menjadi favorit untuk diseruput di pagi dan sore hari.

Soal masakan, mama juga bisa diandalkan. Rasa masakan yang mengoncangkan lidah selalu warnai sajian di tepi meja. Saat di rumah, saya selalu memiliki hasrat untuk makan sepanjang waktu. Salah satunya, rasa masakan yang luar biasa itu. Saya percaya, kekuatan cinta turut mempengaruhi aroma masakan sang mama. Saya percaya energinya banyak dihabiskan untuk menyajikan masakan di atas meja.

Dulu, saat saya masih SD di rentangan waktu tahun 1999-2005, untuk membunuh waktu di malam hari, mama dapat memainkan peran sebagai pendongeng. Untaian cerita yang diwariskan secara turun-temurun mengalir begitu saja dari mulutnya sesaat sebelum kami beranjak ke tempat tidur. Walau hanya diterangi cahaya dari lampu pelita, mama akan bertutur dengan apik.

Alur dongeng yang ia bawakan mencerminkan bahwa mereka juga dididik oleh cerita-cerita dongeng. Cerita-cerita itu turut membentuk imajinasi masa kecil kami. Bisa jadi kakek dan nenek juga memiliki segudang dongeng yang dituturkan saat mereka membesarkan mama dan saudara-saudara mama yang lain.

Seperti kata Albert Einstein, ‘’jika Anda ingin anak-anak Anda ingin cerdas, bacalah dongeng. Jika Anda ingin mereka lebih cerdas, bacakanlah lebih banyak dongeng”. Dengan dongeng, anak-anak bisa belajar dari tokoh-tokoh yang ada dalam cerita dan membantu mereka belajar bagaimana untuk mengarahkan kehidupan menuju lebih baik lagi.

Akan tetapi, sekarang mama sudah jarang mendongeng. Perkembangan teknologi yang sangat masif turut mempengaruhi perubahan perilaku dan komunikasi serta refrensi rekreasi manusia; peradaban di kampung-kampung pun ikut beralih. Revolusi industri turut memengaruhi kehidupan orang-orang di kampung.

Jika dulu orang-orang di kampung sering mendongeng sebelum tidur di malam hari. Sekarang, orang cukup dengan membuka TV di malam hari, dan anak-anak pun terhanyut dalam episode demi episode dari sinetron yang ditayangkan. Masa kecil anak-anak pun ikut berubah. Syukur-syukur jika masih ada satu atau dua orang tua yang merasakan pentingnya medongeng.

Mama, hanya sedikit kata-kata ungkapan hati untuk mama. Terima kasih atas cinta dan kasihmu. Mama itu masuk dalam barisan sosok perempuan hebat, sosok yang tidak pernah mengeluh meski peluh bercucuran membasahi tubuh.

Akhirnya, terima kasih mama. Kapan-kapan kembali mendongeng di rumah kita. Terima kasih juga atas kesetiannya mendampingi Bapak. Mama yang sanggup memberikan cinta. Terima kasih atas kopi, masakan dan dongengnya dulu. Salam Rindu dari Mentawai, negerinya para tabib. Ditunggu juga kiriman kopi Manggarai-nya. Salam dari anakmu yang paling manja.

Sekali lagi, Ma, kapan lagi mendongeng? Rindu belaian manja dan untaian cerita dongengmu di masa kecil kami dulu.

 

 

 

 

 

Advertisement

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya