Sampai pada malam berlalu dengan menyisakan rasa sesal dalam hati bersama pagi yang mulai menyapa, aku masih dengan wajah lusuh, hati yang gundah, gelisah yang kian menggeliat di jiwaku, dan sesakku karena waktu yang tak mampu kuikhlaskan di mana dia telah merenggut senyummu dariku. Aku ingin menangis, tapi air mataku masih tertahan dalam sisa ketegaran yang masih kumiliki, aku membuatnya kecewa terlebih pada diriku sendiri yang kini kehilangan senyumannya.

Memang telah kudapati sapamu yang begitu singkat, tak sehangat biasanya, tak seceria yang selalu mampu membuatku bergelimang dalam bahagia. Aku pilu, ini tak seharusnya terjadi, aku terus bertanya-tanya apa yang harus aku lakukan? Aku tau aku takkan mampu mengembalikan waktu yang telah merenggut senyuman itu dengan paksa, sama seperti aku juga tak mampu mengikhlaskan apa yang telah terjadi, setidaknya aku mampu membuat satu hal untuk membuatnya tersenyum kepadaku, tapi nyatanya hingga pada akhirnya aku tak cukup kuat untuk menahan butiran bening ini, aku masih belum mendapatkan kembali senyuman itu.

Advertisement

Aku pilu… sesak… aku tak bisa kehilangan senyuman yang menjadi lentera dalam hidupku… aku tak bisa terbiasa dengan dinginnya sikapmu kini, aku tak bisa menikmati dengan bahagia tingkahmu yang kini kaku, membuatku merasa asing bagimu. Ketahanan ku goyah… air mataku semakin deras, aku tau itu tak ada gunanya… nyatanya memang aku tak mampu meraih senyum itu lagi, bahkan sepucuk surat yang ku tulis dengan mencuri waktu dalam gelap tak mampu endapkan kecewamu dan kembalikan senyuman itu.

Rasanya begitu menyedihkan ketika dengan segala permohonan pun masih tak mampu meruntuhkan amarah dan kecewamu. Membuatku semakin sesak dalam pertayaan yang tak mampu kujawab, dalam harapan yang tak mampu ku gapai. Wahai kekasih, haruskah aku menghamba untuk dapat melihat senyuman itu lagi? Haruskah aku berlutut memohon untuk sebuah cinta yang kini menjadi kebahagiaan terbesar dalam hidupku?

Sayang… usaikan amarahmu, redamlah kecewamu, lihat aku sejenak… Aku tak mengharap ibamu dengan menatap wajahku yang sembab penuh derai air mata, tapi setidaknya dapat kau lihat betapa dengan sungguh aku sesali kebodohan yang aku buat, betapa dengan sungguh aku mencinta hingga begitu aku bersedih kehilangan senyuman yang menjadi matahari dalam kehidupanku.

Advertisement

Menarik nafas berkali-kali, berharap aku dapat merasa lega atau setidaknya sedikit lapang, tapi justru membuatku menjadi membatu, aku kehilangan cara membuatmu kembali tersenyum, aku kehabisan daya dan aku hanya tinggal dalam sesal yang tak berujung, penuh tanya akankah esok masih seperti saat ini yang begitu menyedihkan hingga tak kuasanya aku menahan air mataku? Aku sungguh bersedih… jika aku tak mampu mengembalikan senyuman di wajahmu bagaimana aku mampu mengembalikan senyum di wajahku, sementara ia tercipta dari seulas senyumanmu.

Dayaku telah tiba di ujungnya, aku hanya mampu mengayunkan jari jemari ini bercerita pada bisunya laptop yang menjadi penerima curhat terbaikku. Entah berapa banyak kalimat yang telah kurangkai dalam menggambarkan perasaanku pagi ini, begitu pilunya hingga tak tergambarkan, begitu resahnya hingga gundah belum cukup untuk menjadi gambaran kata dalam perasaanku kini.

Aku hanya ingin kamu kembali tersenyum padaku, seperti sedia kala saat sebelum kubuat kau kecewa. Inginku kau katakan bahkan jika perlu kau maki saat dengan sengaja atau tidak telah ku kecewakan dirimu, jangan menyiksaku dalam diammu yang tak mampu aku cairkan. Aku memang bukan dan tak sempurna, tapi perasaanku sungguh sungguh hanya untukmu, mungkin selalu caraku yang salah dalam menunjukkan hal itu, selayaknya ketakutanku… kamu salah dalam memahami caraku mencintaimu, dan nyatanya… yang terjadi kini aku kehilangan harta berhargaku, nafas hidupku.

Berhentilah kecewa, jangan terus membeku, aku semakin sesak dengan keadaan ini. Maafkan si kerdil yang tak tau cara mencintaimu dengan benar… maafkan si buta yang tak mampu menggambarkan perasaan sayang dan cintaku yang begitu besar dengan benar padamu, maafkan si tuli yang tak pernah mampu mendengar inginmu dalam caraku mencintaimu, maafkan si bodoh yang selalu menorehkan kecewa saat salah sikapku mencintaimu. Dan Maafkan… si imbisil yang mencintaimu dengan cara yang mengecewakan.

Advertisement

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya