Mungkin dirimu masih mengutukiku dan membusuk-busukiku, mungkin pertemuanku dengannnya menghancurkan hatimu, mungkinkah aku meminta maafmu, jika aku telah melukaimu, wanita yang dulu pernah mencintai dan dicintai kekasihku?

Aku tau, kata maafku tak akan mudahh menerobos benteng kebencianmu padaku, taukah kamu, aku hanya ingin kita bisa berdamai, itu saja. Aku tak biasa hidup di kelilingi kebencian-kebencian, aku yakin, kamu juga demikian.


Advertisement

Aku akui, aku yang tidak tau diri, dia masih kekasihmu kala itu, namun aku terus terbawa perasaan alias BAPER dengan sikapnya dan dengan segala hal yang dia berikan padaku, yang mampu membuat perhatianku teralih kembali pasca hubunganku yang lalu, seandainya kamu tau, kekasihmu kala itu membuat aku sadar, bahwa aku tak seharussnya meratapi kisahku yang telah lalu, dan dirinyalah yang memulihkanku.

Awalnya diapun tak jujur padaku tentang dirinya, yang membuatku percaya diri untuk terus mendekatinya, aku yang tak tau diri terus memberikannya perhatian dan berkomunikasi layaknya kami sudah memiliki hubungan, namun ketika aku mengajakknya untuk merubah rasa kami menjadi suatu hubungan, dia tak langsung menerimanya.

Kala itu, dia memintaku waktu padaku untuk memikirkan jawaban atas tanyaku, yang membuat aku berpikir, kenapa harus meminta waktu lagi, tidak cukuppkah waktu selama waktu itu untuk meyakinkan hatinya memulai hubungan denganku?

Advertisement

Hei wanita, kekasihmu ini kala itu tidak langsung berpacaran denganku, dia meminta waktu 1 bulan padaku untuk berpikir, dan ternyata untuk memikirkanmu juga, dia memikirkan cara bagaimana agar tidak menyakitimu, walau pada akhirnya diapun tetap sangat menyakiti hatimu.


Hingga akhirnya dia jujur tentang semua dan tentang dirimu, yang membuatku kala itu sempat berpikir ingin mundur dan tidak terlalu menaruh harap padanya lagi, karena aku berpikir aku pernah berada diposisimu, posisi dimana kekasihku, lebih tepatnya Tunanganku, lebih memilih wanita lain dan meninggalkan aku begitu saja.


Kala itu dengan berat hati dan kenaifanku, aku memintanya untuk melanjutkan hubungan kalian, diapun mengiyakan. Seminggu berlalu, aku tau dirinya gentle untuk tidak menggangguku lagi, pasca aku mengatakan bahwa aku tak lagi menginginkannya karena akupun juga memikirkanmu, aku memikirkan begitu sakit berada diposisimu, hidupku pernah hancur dan kuliahku berantakan karena itu, namun waktu berlalu, hatiku terus memikirkannya, akupun tak mampu tuk menolak gejolak, bahwa aku benar-benar menaruh hati pada kekasihmu sejak pertemuan kami dimalam itu.

Ketika aku memberanikan diri untuk menghubunginya kembali, aku mendapat respon yang tidak biasa, sikapnya begitu dingin yang membuatku berpikir, mungkin dia telah memperbaiki hubungan kalian, namun setelah aku menanyakan itu, jawaban dia mengagetkanku, dia menjawab telah memutuskan hubungan denganmu. Jujur, aku merasa bersalah, aku tau dirikulah yang menjadi sebab keputusan itu, tapi percayalah, aku tak pernah memintanya untuk meninggalkanmu, keputusannya untuk meninggalkanmu itu adalah keputusan yang dia ambil sendiri, walaupun begitu, itupun tetap salahku.


Kejujuran dia tentang hubungan kalian, membuat aku sakit, namun rasa sakitku terkalahkan oleh dirinya yang entah kenapa, membuatku sangat menginginkannya. Aku yakin, hubungan kalian yang telah terjalin lama, telah membuatmu sangat mengenal dia, terkadang aku merasa iri, mengapa bukan aku duluan yang bertemu dengannya, agar aku tak menyakitimu seperti sekarang ini. Namun, semua sudah terjadi, dan aku hanya ingin meminta maafmu untuk mengikhlaskan dia bersamaku.


Awal hubungan kami, aku harus menerimanya yang masih terbayang oleh kamu, aku belum sepenuhnya memiliki hatinya, karena aku yakin, tak semudah itu dia akan melupakan kamu yang membuat dia menjadi seperti sekarang ini. Aku berterimakasih padamu telah membuat dia seperti sekarang, kesederhanaannya dia, kesabarannya dia, dia bukan orang yang egois, dia selalu berusaha untuk mewujudkan apa yang aku mau, dia selalu lakukan hal yang membuat aku bahagia, usianya jauh dibawah umurmu dan umurku, namun pikirannya jauh selangkah dariku, hal yang tidak aku pikirkan untuk masa depan, dia sudah memikirkan itu, mungkin begitu juga sikapnya waktu bersamamu kan? Beruntungnya kamu yang lebih dulu dan lebih lama merasakan itu darinya.

Dia begitu merasa terbeban telah sangat mengecewakan kamu. Bila kamu khawatir akan kehidupan dia bersamaku, aku minta kamu tenang, aku akan membuat dia bahagia, aku tak akan menyakitinya karena aku begitu mencintainya, karenanya hidupku kembali berwarna dan karenanya dan atas bantuan dia, studiku bisa selesai.


Aku hanya ingin meminta maafmu untuknya, semoga kamu dapat memaafkannya?


Advertisement

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya