Main Games Ternyata Punya Manfaat dan Peranan Penting di Tengah Pandemi COVID-19

Kamu suka main game nggak nih?

Senin 2 Maret 2020, Presiden Joko WIdodo mengumumkan kasus pertama COVID-19 di Indonesia, terdapat 2 orang warga Indonesia positif terjangkit virus COVID-19 di daerah Depok, Jawa Barat. Sejak itu, virus semakin menyebar di segala penjuru Indonesia dengan jumlah kasus positif hingga saat ini tembus ribuan orang. Mengenai hal itu, pemerintah Indonesia mengeluarkan kebijakan untuk mengatasi penyebaran virus COVID-19, yaitu dengan di berlakukannya Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB). Kebijakan itu mengharuskan setiap warga Indoneisa untuk berjaga jarak atau yang lebih dikenal dengan physical distancing dan semua aktivitas dilakukan di rumah, bahkan bekerja dan belajar pun dari rumah.

Advertisement

Menjalankan kebijakan PSBB tidak semudah apa yang dibayangkan, karena masyarakat Indonesia harus meninggalkan aktivitas-aktivitas yang sering dilakukan di luar rumah dan menjalani kehidupan yang baru, demi kesehatan dan memutus mata rantai COVID-19. Namun dampak dari dari adanya kebijakan PSBB, tak sedikit yang merasakan kejenuhan dan depresi. Disisi lain, jika keluar rumah, mereka takut akan tertular virus COVID-19. Hal ini membuat  masyarakat tidak bisa berpikir jernih dan panik, sehingga melakukan perbuatan yang bisa merugikan orang lain. Maka dari itu, tak sedikit orang yang mengalami stres selama pandemi COVID-19 ini.

Menjaga kesehatan fisik dengan rajin berolahraga untuk meningkatkan imunitas tubuh memang sangat dibutuhkan demi terhindar dari virus, namun menjaga kesehatan mental dan berpikir positif juga tak kalah penting agar imunitas tubuh tetap terjaga. Menurut penelitian Pusat Medis Universitas State Ohio, Amerika Serikat mengatakan, bahwa stres melalui aksi hormon stres, memiliki efek merugikan pada fungsi kekebalan tubuh, termasuk berkurangnya aktifitas sel Natural Killer (NK), populasi limfosit, proliferasi limfosit, produksi antibodi dan reaktivasi infeksi virus talen. (Jeanette I, 2008)

Mengatasi kesehatan mental atau stres membutuhkan sesuatu yang bersifat menghibur. Biasanya, dengan pergi liburan dan berkumpul dengan teman-teman atau keluarga besar  akan mengurangi beban pikiran seseorang , namun di situasi pandemi COVID-19 ini, kita tidak bisa melakukannya, tetapi ada berbagai cara untuk mengatasi stres dan tetap berjaga garak. Salah satu solusinya yang disarankan oleh Dirjen  Badan Kesehatan Dunia (WHO) Tedros Adhanom Ghebreyesus, yaitu dengan  bermain game. Tak disangka, dulu WHO melarang bermain game, karena bisa mengakibatkan kecanduan yang merugikan kesehatan mental,namun  kini di tengah pandemi COVID-19 bermain game merupakan salah satu tindakan untuk menjaga kesehatan mental dan berperan penting supaya kita tetap berada di rumah.

Advertisement

Bermain game merupakan  hal yang biasa dilakukan oleh anak-anak dan remaja, mereka bermain game untuk mengisi waktu luang, bersenang-senang  dan menenangkan pikiran setelah belajar. Maka dari itu, banyak beranggapan manfaat bermain game hanya untuk menghibur saja dan lebih banyak dampak negatifnya.  Tetapi, kita tidak bisa memandang hanya  sebelah mata. Sekarang, banyak para ilmuan yang meneliti dampak posisitf bermain game.

Jika kita memperhatikan seseorang yang bermain game, mereka cenderung lebih fokus dalam memainkannya, kemahiran mereka dalam memainkannya membutuhkan keterampilan perhatian dan koordinasi yang lebih baik antara tangan dan mata terutama dalam memainkan game aksi. Hasil penelitian Universitas Rochester mengatakan, ada tiga kapasitas visual yang meningkat jika seseorang bermain game aksi. Pertama adalah atensi  visual, kemampuan menerima informasi yang lebih besar. Kedua adalah distribusi spasial, kemampuan menganalisis keadaan sekitar. Terakhir adalah resolusi temporal, kemampuan mengingat atau merekam ulang objek yang sama. (C.ShwanGreen&D.Bavelier, 2003)

Advertisement

Desainer game telah merancang game dengan penuh teka-teki, sehingga membuat para pemainnya memikirkan bagaimana cara untuk memenangkan game tersebut. Hal ini dapat melatih keterampilan pemainnya dalam pemecahan masalah di kehidupan nyata. Pada tahun 2008, para peneliti di Universitas Washington menciptakan game online bernama Foldit, memungkinkan publik untuk bermain game dimana mereka memodelkan susunan genetik protein.

Pada akhir kompetisi tiga minggu di tahun 2010, para pemain papan atas telah menghasilkan estimasi fase yang memungkinkan para peneliti untuk mengidentifikasi solusi cepatdari struktur kristal untuk virus monyet yang terkait dengan AIDS. Struktur telah menghindari lebih struktur tersebut lebih dari 10 tahun. Namun, teknik pemecahan masalah nonlinier, kooperatif, dan kreatif yang digunakan oleh para gamer  ini tampaknya keterampilan yang dibutuhkan yang akhirnya menyelesaikan masalah yang sulut dipahami ini. (Isable Granic, 2014)

Game online memang bisa membuat para pemainnya mendapatkan teman baru, apalagi menjalin keseruan dan kekompakan dengan bermain  game bersama teman-teman  di tengah pandemi COVID-19 ini. Akan tetapi, jangan sampai kita melupakan kewajiban-kewajiban yang harus dilakukan, bermainlah dengan bijak, supaya terhindar dari dampak negatif bermain game. Semoga kita bisa melewati masa-masa sulit di tengah pandemi COVID-19 ini.

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya

Advertisement

“Artikel ini merupakan kiriman dari pembaca hipwee, isi artikel sepenuhnya merupakan tanggung jawab pengirim.”

Berikan Komentar

Tim Dalam Artikel Ini

CLOSE