Manfaat adalah Ilmu. Ilmu yang Tak Bermanfaat adalah Ketika Kita Bungkam dan Tak Peduli

Jangan kau harapkan lebih dari apa yang kau tempuh di masa kuliah.

Sementara waktu bergulir, keinginnanku tetaplah menjadi abu. Tidak terarah: menjadi kuat untuk melindungi pernah terlintas, namun apa daya dengan kekuatan saja tak cukup untuk melawan kekuasaan. Dan untuk meraih kekuasaan tidak cukup dengan kekuatan. Semua stigma itu muncul dari apa yang pernah kurasakan di lingkungan sekitar. Setelah lulus Sekolah Menengah Kejuruan, aku memiliki keinginan untuk melanjutkan jenjang pendidikan ke perguruan tinggi, sekiranya bisa jadi harapan baru untuk menjadi seorang pahlawan.

Seiring waktu berlalu, diriku mendaftar di Universitas Terbuka Jakarta. Aku mengambil jurusan Ilmu Komunikasi. Ketertarikan untuk mendaftar di Universitas Terbuka Jakarta, karena biaya yang murah dan cara mendaftar yang cukup gampang. Tak seperti yang  kubayangkan, saat sebelum masuk kuliah, yang kubayangkan adalah: saat kuliah aku akan nongkrong dengan teman-teman, ngobrolin ini-itu, ketemu dosen, dan selayaknya anak kuliah yang di sinetron-sinetron atau FTV.

Advertisement

Semua itu hanya anggapanku saja, memang salahku tidak mencari tahu informasi lebih dalam tentang kampus Universitas Terbuka Jakarta yang menganut sistem Unit Program Jarak Jauh alias belajar online, diskusi, tugas, dan registrasi kita menggunakan virtual account untuk mengaksesnya. Tapi sudahlah, nasi sudah menjadi bubur, so nikmati saja pikirku, dengan sistem tersebut waktuku bisa flexibel; dengan kata lain, bisa membagi waktu dengan bekerja.

Ya, awalnya memang sangat baik-baik saja belajar dengan sistem tersebut yang menuntut untuk memahami materi mata kuliah dengan otodidak. Nilai semester pertama aman-aman saja. Memasuki semester dua otak mulai pusing, alhasil nilai anjlok. Tak terima dengan pencapaian yang kurang memuaskan, aku mencoba mencari informasi untuk ikut les atau belajar kelompok. Dan ternyata, ada program kelas Tutorial Tatap Muka (TTM), yang dikenakan biaya 150 ribu rupiah per mata kuliah dengan delapan kali pertemuan dalam satu semester. Tidak hanya itu saja, informasi yang kudapat ternyata di Universitas Terbuka Jakarta, ada Unit Kegiatan Mahasiswa atau organisasi-organisasian kampus.



Aku mendaftar di salah satu organisasi, tak lupa juga mendaftar TTM berharap bisa memperbaiki nilai dengan ada bimbingan langsung. Setelah mendaftar kedua giat tersebut, aku lebih condong atau lebih fokus mengikuti kegiatan organisasi daripada ke TTM. Alhasil, nilai tidak jauh beda dari semester pertama meski lebih baik sedikit, tapi ujung-ujungnya harus ikut remedial.

Advertisement

Tak pernah aku menyesali atas keaktifanku mengikuti kegiatan organisasi, aku belajar banyak di dalamnya. Berbaur dari semua jurusan ada orang yang pintar, ada orang yang biasa saja, ada orang yang kaya, ada orang yang sederhana dan berbagai macam pikiran yang berbeda. Dari situlah, aku belajar tentang pola gimana kebaikan dikembangkan, kecurangan dialihkan. Yang memang niat awalku masuk kuliah untuk menjadi pahlawan dengan harapan saat aku lulus nanti bisa berguna membantu teman-temanku dengan ilmu yang kudapat untuk melawan kekuasaan yang menindas. Dengan aku berada di dalam oraganisasi dan perjalananku di Universitas Terbuka kini pemikiranku meruyak, tidak hanya untuk membantu teman-temanku saja. Tapi Ilmu yang berguna adalah Ilmu yang bermanfaat untuk orang terdekat terutama keluarga, dengan ilmu yang kita miliki kita bisa membahagiakan keluarga kita. Dengan contoh: saat kita lulus memegang toga memakai jubah siapa orang kita kabari lebih utama pasti keluarga kita.

Mungkin sudah banyak tersiar di media sosial, cetak atau elektrik tentang keharuan sebuah keluarga saat menyambut anaknya lulus wisuda. Ada yang anaknya meninggal saat wisudanya, lalu bapaknya menggatikannya untuk penyerahan gelar terhormat tersebut, ada yang setelah acara wisudaan menghampiri  bapaknya yang sedang jualan lalu memeluknya, ada bapaknya yang sudah tua dan disabilitas menghadiri acara wisuda anaknya. Dan banyak lagi keharuan yang kita bisa jumpai baik melalui media sosial atau kita mengalami langsung.

Dan untuk teman-teman seperjuangan ini pesan dariku: Jangan kau harapkan lebih dari apa yang kau tempuh di masa kuliah. Jadilah orang berguna dengan ilmu yang kaudapat, berbagi lha untuk orang yang membutuhkan. Mungkin saat ini teman-teman berjibaku dengan waktu, jarak serta mencari dana untuk menempuh gelar sarjana, diploma, magister dan doktor. Jauh dari keluarga, membagi waktu dengan bekerja dan kembang kempis untuk membiayai hidup untuk kuliah, membayar sewa indekos atau biaya lainnya. Namun percayalah dengan kerja keras itu tidak ada yang sia-sia dan aku ingatkan lagi agar perjuangan kalian tidak sia-sia dan berguna jadilah manfaat buat orang lain. Jabatan, gelar atau uang melimpah hanyalah titipin. Tapi manfaat yang kita berikan kepada orang lain adalah jariyah yang bisa membantu kita dari segala urusan baik dunia maupun akhirat.  Jika teman-teman sukses menggapai cita-cita  dengan title yang kalian miliki gunakan sebijak-bijaknya pencapaian tersebut. Banyak orang yang memegang kekusasaan dan tahta tapi tidak bermanfaat untuk orang lain.

Tetap semangat walau duri terus menusuk, mata harimau terus mengintai, jalanan curam  siap menanti. Ketika kita yakin dan terus melangkah kita akan melihat cahaya untuk menyirnakan semua itu.

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya

Advertisement

“Artikel ini merupakan kiriman dari pembaca hipwee, isi artikel sepenuhnya merupakan tanggung jawab pengirim.”

Berikan Komentar

Tim Dalam Artikel Ini

Penulis

Aku adalah mimpi yang patah. Raut wajahku tersimpan di dalam doa

CLOSE