Pernahkah kita berpikir akan lahir dari rahim siapa? Orang tua yang seperti apa? Keluarga kita kaya atau tidak? Pastinya kita akan menyadari semua itu kalau kita sudah mulai tumbuh dewasa. Lantas bagaimana dengan mereka yang terlahir tanpa orang tua?

Seperti kasus-kasus di media yang kita tahu ada pembuangan bayi karena hubungan gelap, bahkan sampai ada yang dibunuh? Mereka yang dibunuh apakah tidak diberikan kesempatan untuk hidup lebih lama bahkan sampai untuk membuat rencana? Kenapa harus kembali secepat itu? Bahkan belum sempat pula mengenal bagaimana kehidupan di dunia ini apalagi orang tua mereka.

Advertisement

Jujur saja kita sebagai manusia hanya bisa menghakimi dari satu sisi saja tanpa tahu keadaan yang sebenarnya. Kita merasa kok tega sekali bayi semungil itu harus dibuang apalagi dibunuh oleh manusia yang tidak bertanggung jawab? Terus yang harus disalahkan di sini siapa? Orang tua bayi itu atau orang tua dari mereka yang membunuh atau membuang bayi itu? Di sini aku tidak berhak menghakimi atau menuduh tentang hal-hal yang tidak sepenuhnya aku mengerti.

Yang jelas di sini, aku berharap kita yang masih memiliki orangtua, tunggal atau masih lengkap keduanya, kita masih memiliki orang tua yang selalu ada untuk kita. Masih tidak bersyukurkah kita? Ataukah kita justru tidak bersyukur karena keadaan mereka yang membuat segala keinginan kita tidak bisa terpenuhi?

Jujur sebagai seorang anak siapa sih yang tidak ingin membuat bangga orang tuanya? Demikian denganku. Tapi sebagian besar impianku harus berubah atau bahkan berhenti karena restu dari orang tua tidak ada. Meskipun begitu pasti ada alasan lain yang tidakku mengerti.

Advertisement

Memang dulu aku terlahir dari keluarga broken home, jadi sejak kecil aku dirawat oleh ibuku seorang. Sampai pada saat ini aku hidup bersama dengan ayah dan saudara tiriku yang sudah berkeluarga juga. Sebenarnya dulu kenapa ibuku tidak mengizinkan ku kuliah karena mungkin tidak enak dengan saudara tiriku.

Keadaan biaya dan juga lainnya. Yang kudapatkan yah intinya aku tidak bisa kuliah dan aku menjalani pekerjaanku dan kehidupanku sampai sekarang.

Perubahan rencana yang dulunya ingin kuliah harus bekerja dan sekarang dipercaya dengan tanggungjawab menjadi seorang pemimpin dan pembimbing bagi pemuda, remaja dan anak-anak. Awalnya aku minder karena tidak punya title atas pendidikanku, tapi aku tidak menyangka bisa diberikan tanggungjawab seperti ini.

Meskipun juga perjalananya tidak mudah. Aku bahkan harus mengorbankan hal-hal yang aku inginkan sejak dulu, tapi Tuhan memberikan rencana lain yang tidak terduga sebelumnya. Dan di saat lelah dalam perjuangan tak ada tempat lain berkeluh kesah selain daripada orang tua.

Maka dari itu bersyukurlah kalian yang masih memiliki orangtua. Setidaknya ada yang membuatkanmu makanan dikala sedang tidak nafsu makan. Memijat tubuhmu ketika lelah. Bahkan menanyakan hal-hal konyol yang tidak ingin kau jawab.

Apakah kita pernah berpikir bagaimana mereka yang tidak memiliki orangtua seperti kita? Sebenarnya kita kalah dari mereka. Kalah semangat, kalah berjuang., kalah bermimpi. Bahkan mereka pasti memiliki rencana kedepan. Mereka juga masih bisa tersenyum? Bagaimana dengan kita?

Advertisement

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya