#ManusiaBolehBerencana; Penggantian Pemain dari Tuhan dalam Rencanaku

Kita berencana dengan sekuat tenaga, tetapi hasilnya tergantung pada Tuhan.

Pencapaian terbesarku di tahun 2018 adalah mengalahkan ego. Aku berhasil keluar dari tetek-bengek tahta dan jabatan. Di awal tahun 2018 lalu, perjalananku berkutat pada tulisan dan persiapan untuk menjalankan ibadah sepanjang usia yaitu sebuah pernikahan.

Capaian dari tulisanku lebih baik dari tahun-tahun sebelumnya dan itu cukup memuaskan. Hanya saja target menerbitkan novel kedua di akhir tahun 2018 belum bisa terwujud sesuai perencanaan. Ada badai yang menerpa tubuhku hingga tak sanggup menggerakkan jemari untuk menyelesaikan novel kedua itu. Badai menerpa perencanaanku yang juga diimpikan perempuan yang sudah berusia seperempat abad seperti diriku.

Sebuah perencanaan menikah yang telah kususun dalam tabel periodik hancur berserakan. Kesiapan mental sebagai hal yang paling utama telah kusiapkan. Ilmu parenting telah kupahami secara berangsuran. Kewajiban yang nantinya akan dijalankan pun telah kulakukan analisa mendalam agar dapat menunaikannya dengan ketulusan.

Lantas rencanaku tak berjalan seperti yang kuinginkan. #ManusiaBolehBerencana hanya saja keputusan ada ditangan-Nya. Tuhan menunjukkanku sebuah kebenaran yang memilukan. Setelah berjuang habis-habisan aku harus menerima kegagalan. Dia ternyata bukanlah wujud dari doaku sebagai pasangan yang terbaik.  Aku hilang arah. Aku putus asa. Aku menghukum diriku atas pengkhianatan yang ku terima. Air mata tumpah tak berjeda hingga meninggalkan lebam.

Bermalam-malam aku tidur dengan penyesalan karena menaruh keyakinan cintaku pada dirinya yang hanyalah seorang pecundang. Berulang kali pula kutanyakan kembali pada Tuhan, apa salahku atas keyakinan yang kupegang teguh untuk hidup bersamanya? Berulang kali aku menghardik diriku yang begitu bodoh karena telah berulang kali memberinya kesempatan.

Aku menutup mata pun telingaku setiap kali Tuhan mencoba memberitahuku. Aku hanya mengganggapnya sebagai ujian atas jalan ibadah yang sedang kami perjuangkan. Padahal ternyata, Tuhan tengah menunjukkan aku dan dia tidak bisa menjadi kami. Aku meraung di dalam lipatan sajadah. Gigilku sungguh tak bisa kutahankan. Rasanya begitu sakit lebih dari luka yang disiram air garam. Sakit gigi yang bengkak sampai ke gusi pun kalah akan rasa sakit yang merajam ke dalam jantungku.

Aku ingin lari ke sudut bumi untuk bersembunyi dari kegagalan ini. Aku ingin berhenti merajut mimpi untuk memiliki sebuah keluarga yang harmoni. Aku ingin membenci sesuatu yang bernama cinta. Lantas Tuhan tak pula membuat hatiku mati rasa. Aku tetap saja bertahan dengan keyakinan atas doaku untuk bisa menjalankan ibadah sepanjang usia. Aku memohon kekuatan untuk bisa membuatku menerima bahwa kenyataan ini adalah ketetapan yang terbaik.

Pelan-pelan aku mulai merasa tenang. Meskipun masih terasa gamang, aku telah menemukan lega. Tuhan tidak akan menguji di luar batas kemampuanku, seperti yang dikatakan sahabat-sahabatku. Tuhan tidak mungkin berlaku tidak adil pada hambanya. Aku bertahan dengan keyakinan bahwa Tuhan akan mengabulkan doaku dengan pemain yang telah disiapkan-Nya. Pemain yang akan menjadi takdirku untuk hidup bersama sebagai pasangan hingga menutup mata.

Sekejap mata saja, Tuhan mengirimkan seseorang padaku untuk bisa kembali tersenyum. Seseorang yang menghapus air mataku. Seseorang yang Tuhan tunjuk untuk membuatku percaya sehabis hujan akan ada pelangi. Aku tidak tahu apakah dia adalah pemain dari Tuhan yang akan menggantikan pemainku yang lalu atau bukan.

Aku menyerahkan segala asa hanya kepada Tuhan semata.  Aku percaya setiap pertemuan yang terjadi adalah sebuah ketetapan yang telah dituliskan. Dalam doa kuselipkan, “Tuhan, jika dia adalah takdirku yang sudah disiapkan maka jatuhkanlah hatiku sejatuh-jatuhnya kepada dia. Tetapi jika dia bukan yang ditakdirkan untukku, maka jauhkanlah dia sejauh-jauhnya dariku.”

Sekarang aku hanya tengah menunggu bagaimana Tuhan akan menunjukkan takdirku.   

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya

“Artikel ini merupakan kiriman dari pembaca hipwee, isi artikel sepenuhnya merupakan tanggung jawab pengirim.”

Berikan Komentar

Tim Dalam Artikel Ini

Penulis

Menulis cara saya mencintai hidup !