Memiliki banyak impian yang dapat terealisasi merupakan kebahagiaan setiap orang karena dapat terjadi secara nyata. Tidak ada mimpi yang biasa dan paling luar biasa, semuanya sama. Karena hakikatnya ketika orang sudah mulai berani untuk bermimpi itu artinya ia selangkah lebih maju dari orang yang tidak melakukan sesuatu untuk perencanaan kehidupan berikutnya.

Impian orang selalu berubah-ubah mulai dari saat kanak-kanak hingga dewasa, perubahan impian tidak terlepas dari bagaimana kita menyadari dan memahami seberapa besar kemampuan atau potensi diri kita untuk mewujudkannya. Semakin bertambah umur seseorang, maka ia akan berpikir secara realistis tentang masa depannya.

Advertisement

Sebagian orang lebih memilih untuk memperkecil impiannya dibanding mencari alternatif lain untuk menggapai impian yang sudah sejak lama direncanakan. Ada beberapa orang yang mengatakan bahwa ketika kamu gagal untuk melakukan suatu rencana yang sudah dibangun sedemikian rupa, itu artinya kamu telah merencanakan kegagalan.

Kegagalan itu bukanlah sesuatu yang bersifat negatif, justru bersifat positif. Apabila setiap yang mengalami kegagalan memperjuangkan impiannya secara berulang-ulang untuk mengabadikan keberhasilannya. Bersifat negatif apabila seseorang yang mengalami kegagalan sudah mulai lelah untuk melakukan dan mencoba untuk menakhlukkan impiannya.

Kegagalan yang sebenar-benarnya hanya dimiliki oleh orang-orang yang belum siap dan komitmen terhadap apa yang akan dimulai. Bukan sebuah fenomena yang asing didengar ketika seseorang pernah mengalami kegagalan dalam hidupnya. Terkadang, gagal itu perlu sebagai upaya untuk memotivasi dan mengembangkan potensi yang ada pada setiap orang.

Advertisement

Tetapi tidak dapat dibenarkan pula jika hanya kegagalan berakhir pada keputus-asaan. Keputusasaan yang mengajarkan manusia untuk berjalan ke belakang dan melupakan apa yang sebelumnya ingin dicapai.

Sebagian orang selalu ingin dan bahkan telah merencanakan keberhasilan-keberhasilan yang akan diraih di masa mendatang, tanpa berpikir ulang kemungkinan-kemungkinan buruk yang akan terjadi. Karena faktanya jika kita terlalu berfokus pada konsekuensi atau kegagalan maka kita tidak bisa mengoptimalkan impian-impian kita.

Lakukan pemetaan potensi diri untuk menakhlukkan impian yang masih berupa imajinasi

Seperti impian yang saya alami pada tahun 2018. Ketika tahun baru 2018 diramaikan dengan berbagai hashtag #resolusi2018, disana awal mula menuliskan beberapa impian di buku catatan yang dirasa mampu untuk mencapainya pada tahun 2018. Mimpi terbesar saya di tahun itu adalah menjadi seorang penulis yang menghasilkan sebuah buku.

Salah satu caranya adalah dengan mengikuti berbagai perlombaan menulis sebagai satu tahap untuk menjadi penulis yang layak dan mampu mempertanggungjawabkan karya-karyanya kepada pembaca. Memiliki hobi menulis menjadi kepuasan tersendiri untuk mengungkapkan hal-hal yang tidak bisa diungkapkan secara langsung.

Dengan hobi itu, saya tidak ingin menyia-nyiakan apa yang menjadi tujuan utama saya di tahun 2018. Menulis bukan lagi menjadi sebuah hobi, tetapi menjadi sebuah pekerjaan dimana saya mampu melakukan apa yang saya biasa lakukan untuk nantinya mendapatkan sesuatu yang saya butuhkan di kemudian hari.

Awalnya, saya mencantumkan semua impian untuk tahun 2018, tapi saya tersadar bahwa impian-impian itu harus melalui proses yang tidak cepat seperti menjadi penulis minimal karya yang dihasilkan pada tahun 2018 adalah satu buku. Kemudian, untuk mengatasi rasa kekecewaan di lain waktu karena tidak tercapainya target tersebut, akhirnya dilakukan beberapa perencanaan, bukan hanya merencanakan keberhasilan tetapi juga merencanakan kegagalan yang menjadi alternatif lain dari impian saya.

Penting untuk merencanakan kegagalan supaya kita dapat terus produktif mewujudkan impian itu. Jika gagal untuk menjadi penulis buku pada tahun 2018, setidaknya saya harus bisa memulainya dengan cara mengikutsertakan diri ketika ada kegiatan-kegiatan tertentu yang dapat menghasilkan karya pada sebuah buku. Saya mencoba untuk menulis dengan dosen dan lahirlah sebuah buku. Pencapaian itu membuat saya lebih semangat untuk menulis bersama teman-teman lainnya yang kemudian menghasilkan sebuah buku berupa buku antologi.

Impian tersebut mungkin terlihat sangat mudah untuk diwujudkan oleh setiap orangnya. Namun bagi saya, menulis merupakan salah satu impian terbesar saya untuk merealisasikan hobi menjadi sebuah profesi. Menulis dapat menggambarkan kepribadian seseorang atau bahkan dapat mengetahui pengetahuan seseorang melalui kata yang dituangkannya.

Ketika seseorang menulis sebuah karya, itu tidak dengan mudah dikatakan menjadi penulis, meskipun semua orang dapat menjadi penulis melalui karya tulis yang dihasilkannya. Di dalam suatu karya, harus terdapat pesan yang dapat memberikan dampak positif terutama dari segi psikologis seseorang yang kemudian dapat diterapkan di kehidupan.

Selain itu, ada tantangan tersendiri untuk menjadi seorang penulis, ia harus bisa konsisten untuk tetap menulis supaya bisa menjadi karya yang dapat dinikmati oleh semua orang. Karena sejatinya menulis itu membicarakan tentang aku, dia, kamu, dan kita.

Advertisement

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya