Apa yang salah menjadi manusia? Dengan akal yang seharusnya dikelola berwujud usaha, dan meletakan hati sebagai penuntunnya. Tak mengapa, kadang kala banyak rasa yang sukar dikelola. Mulai dari kerja keras yang tak dihargai, hingga enggan memaafkan karna dikecewakan dan tak pantas diampuni.

Sadarkah, ranahmu sebagai manusia hanya boleh berencana? Tidak pantas mendikte Tuhan agar semua harap dan maumu terwujud nyata. Mungkin kamu lupa, dibalik rencan–rencana hebat yang sudah kamu susun, selalu tersedia beribu macam kemungkinan dan ketidak mungkinan.

Advertisement

Tidak lantas, karna gagalnya rencana yang mati–matian kamu upayakan menjadi alasan mengutuk keadaan dan meresapi kegagalan, sungguh sangat disayangkan. Silih berganti orang yang menyakiti, bertubi-tubi pula ujian tak mau berhenti. Sesak tak terelakan, marah tak bisa teredakan, frustasi menghampiri, depresi tidak terhindari.

Begitu besar ekspektasi, apa daya tangan tak sampai. Telusuri lagi niat di dalam hati, apa sebenarnya yang menjadi ambisi? Sekedar memperoleh pujian, target pencapaian atau hal duniawi lainnya?

Rasa dunia tak melulu bahagia, takdir pun inginnya tidak serupa. Siapa sangka yang seolah segera nyata malah porak poranda sebelum waktunya. Kamu manusia, hanya punya dua amunisi, doa dan usaha. Selebihnya, biar Tuhan yang bekerja, menentukan hasil apa yang terbaik dari segala yang sudah kamu lakukan dan korbankan.

Advertisement

Perihal yang belum terwujud, tentang apa pun yang masih belum dalam gengagaman, selalu lebih banyak hal yang bisa menjadi ucap kesyukuran. Tidak lantas satu kesulitan  menyamarkan ribuan nikmat yang masih dapat dirasakan. Selalu ada bagian dari jiwa yang didewasakan, juga pribadi yang semakin terlatih mengenal arti keikhlasan. Ditunda karna belum waktunya, diganti karna tidak baik adanya.

Satu rencana gagal, buka berarti berikutnya juga akan sama jadinya. Kadang manusia harus memutar stir untuk menuju arah yang lain. Sebab di jalan sebrang pun, peruntungan bisa saja diraih tanpa banyak pengorbanan.  Kesabaran yang tidak disempitkan, membuka kesempatan diri lebih luas menentukan apa yang seharusnya dilanjutkan, tidak sekedar pasrah dan terpaksa menerima kekalahan. Sedikit egois, untuk hal yang memang baik bukanlah sebuah dosa.

Putus asa bukan pilihan, tapi harus kamu hindarkan. Ada ganti yang sudah Tuhan persiapkan, ada kejutan mengagumkan selepas kegagalan yang berulang. Nikmati saja berlelah, sebab berkah tak didapat dengan cara berleha.

Advertisement

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya