Berulang kali ku katakan, "Aku tidak pernah pandai melupakan."

Aku tahu betul bagaimana laki-laki ini—ia tidak mudah menyerah. Ia akan terus berusaha sampai keinginannya tercapai, yaitu berusaha untuk aku melupakannya. Tidak hanya itu. Aku juga harus melupakan semua kisah singkat yang pernah terjadi di antara kita.

Advertisement

"Kenapa aku harus melupakan tentang kita?" tanyaku. Mungkin, masih wajar bila ia menginginkan aku untuk melupakannya. Tapi, bagaimana dengan kisah kita? Haruskah aku juga melupakannya? Bisakah kamu sedikit membiarkan aku mengingat kisah singkat kita?

Tidak bisakah kamu membiarkan aku sedikit bahagia, Tian?

Laki-laki itu menghela nafas berat, "Aku tidak bisa terus-terusan ada di dalam tulisanmu, Tania," ia menjawab pertanyaanku, membuat hatiku seperti tersentil, "Kamu selalu menulis tentang aku, tentang kita."

Advertisement

Ada jeda di antara kami.

"Mungkin lebih baik kalau kamu menulis tentang seseorang yang juga perhatian dengan kamu," dengan kata lain, ia mengaku bahwa dirinya tidak cukup perhatian untukku. Tidak cukup baik untuk aku tulis dalam cerita, "Ini bukan buat aku, ini buat kamu," sepasang matanya menatapku dalam, "Aku hanya ingin kamu baik-baik saja, Tania."

Ada perasaan yang sulit aku jelaskan bergemuruh di dalam hatiku. Aku menggenggam erat gelas kopiku, mencoba sekuat tenaga untuk tetap tersenyum dengan mata yang mulai memanas. Aku ingin menangis.

"Aku—," kalimatku terjeda, mencoba lebih tegar menjawab kalimatnya, "Aku baik-baik saja, Tian."

Berulang kali laki-laki ini mengeluh ketika tahu kalau dirinya menjadi objek dalam ceritaku, menjadikan kisah singkat kita sebagai cerita yang tidak pernah berakhir.

Dan, berulang kali juga aku jelaskan, tetap menulis tentang ia dan kisah singkat kita adalah salah satu cara agar aku tetap merasa baik-baik saja. Meski selalu merasa terluka tiap kali mengingat semua tentangnya, tentang kita, tapi aku baik-baik saja.

Tidak bisakah kamu membiarkan aku sedikit merasa baik-baik saja, Tian?

"Tapi aku tidak baik-baik saja, Tania," terdengar suaranya penuh penekanan. "Kamu sudah terlalu banyak menulis hal-hal manis tentang kisah kita dalam cerita kamu, kamu terlalu banyak menulis hal-hal baik tentang aku," nafasnya naik turun. "Tidak seperti apa yang sebenarnya terjadi, Tania. Tidak seperti itu. Itu benar-benar menyiksa aku."

"Memang yang sebenarnya terjadi seperti apa, Tian?" Air mataku jatuh, terasa hangat menyentuh wajah, "Satu-satunya kesalahan yang terjadi di sini bukan karena aku terus menulis tentang kisah singkat kita atau tentang kamu. Bukan."

Kesalahan yang terjadi di antara kita berdua adalah hanya aku yang menganggap kisah singkat itu benar ada. Hanya aku yang menganggap kalau kamu memang benar-benar baik.

"Aku terlalu brengsek untuk kamu, Tania," lagi. Ia mengeluarkan pernyataan itu lagi. "Aku ini brengsek, Tania. Harus berapa kali aku katakan sama kamu, ha?"

"Harus berapa kali juga aku pinta agar tunjukan brengsek mu itu, Tian?" Aku tidak mau kalah.

Dan seperti yang sudah kuduga, ia tidak akan pernah menunjukannya.

Ia menyandarkan punggungnya pada sandaran kursi, melihat ke sudut ruangan dengan nafas berat. Aku memandanginya dengan perasaan hancur.

"Mari kita buat semua menjadi sederhana," ia kembali menarik tubuhnya mendekati meja.

Aku melipat kedua tangan di dada, tahu apa yang ada di kepalanya, "Kalau kamu minta aku untuk melupakanmu, aku menyerah. Aku tidak bisa," sekali pun ia memaksa, aku tidak akan pernah bisa, "Biar aku yang urus caraku sendiri untuk tetap bertahan ketika kamu memilih untuk meninggalkan aku."

Percayalah, bukan hal yang mudah bagi aku untuk mengatakan hal itu. Bahkan, aku tidak kefikiran bagaimana hari ku selanjutnya tanpa laki-laki yang selalu mengaku dirinya brengsek ini.

"Kamu harus melupakan aku, Tania!" ia mulai emosi. Kepalan di tangannya mengerat. Aku benci tatapannya, "Harus bagaimana lagi aku meminta?"

Aku benar-benar tidak habis fikir mengapa ia bersikeras untuk aku melupakannya. Sudah ku katakan, aku tidak pernah pandai melupakan. Tidak bisa kah ia membuatnya lebih sederhana? Membiarkan aku mengurus diriku sendiri.

Aku menghela nafas berat, menyelipkan anak rambut di balik telinga. Aku sudah cukup lelah berada di dalam perdebatan ini.

"Mari kita lupakan," kata ku.

Sepasang matanya membulat, menatapku.

"Kamu bisa memilih untuk melupakanku dan menjadi yang benar-benar brengsek," aku mencoba tersenyum, "Dan biarkan aku tetap memilih untuk melupakan cara melupakanmu."

Tidak perlu waktu banyak, aku segera meraih tas dan beranjak bangun dari duduk tanpa memberi celah untuk ia bicara, "Ini adalah keputusan paling sederhana dan adil."

Aku memberikan senyum terakhirku meski ia tidak membalasnya, melangkahkan kaki menjauh darinya.

Aku keluar dari hidupnya mulai hari ini.

Advertisement

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya