Siapa kira dibalik modernitas Jakarta tersembunyi sebuah kisah tempo dulu yang masih bertahan kuat sampai sekarang?

Setelah mendengar nama Jakarta, hal pertama yang terlintas di pikiran adalah pesonanya sebagai kota metropolitan yang dipenuhi oleh gedung-gedung tinggi, pusat perbelanjaan, dan kemacetan. Belakangan ini Jakarta juga menjadi sorotan media akan perkembangan infrastrukturnya, yang merupakan sebuah lompatan tinggi dari kondisi Jakarta dulu. Pastinya ini adalah sebuah perubahan besar dalam proses peningkatkan kualitas lingkungan hidup masyarakat Jakarta untuk membentuk sebuah ekosistem tempat tinggal yang lebih memadai.

Selain mall yang mendominasi cara hidup masyarakat, Jakarta dikenal sebagai salah satu kota progresif di Indonesia karena dibentuk untuk memenuhi kebutuhan manusia dengan menjadi pusat pemerintahan dan pekerjaan layak. Hal ini membentuk sebuah pernyataan bahwa Jakarta adalah kota yang beragam, diisi oleh masyarakat dari budaya dan kepercayaan yang berbeda. Tapi siapa kira, dibalik gedung-gedung pencakar langit itu, tersembunyi sebuah komunitas yang telah bertahan berabad-abad, tetap mengingat asal mereka.

Advertisement

Sabtu pagi, penuh rasa ingin tahu, saya duduk di dalam Transjakarta pukul 7 pagi menunggu pemberhentian di Glodok. Saya pernah mengendarai Transjakarta sebelumnya, tapi serius, hari Sabtu pukul 7 pagi adalah pengalaman yang berbeda. Benar-benar rasanya waktu berhenti. Tidak ada motor, mobil, layaknya tidak ada polusi. Serasa di dunia yang berbeda.

Tapi setelah perjalanan satu jam dengan pemberhentian halte 15 kali, mata saya terbuka melihat Jakarta dari sisi lain. Pukul 8 pagi di Glodok. Sangat berbeda. Sabtu pagi di Sudirman jalanan sepi, tapi Sabtu pagi di Glodok? Para penjual sudah mulai menjual dagangannya, dan yang terpenting menyiapkan suara lantang mereka untuk berteriak kepada pembeli.

Saya menemukan fakta menarik mengenai Glodok sesampainya di sana. Kata Glodok ternyata berasal dari sumber mata air masyarakat pada zaman dahulu. Dulu, setiap sore masyarakat mengambil air bersih dari pancuran yang ada di depan Balai Kota (Museum Fatahillah). Sumber mata air yang dipakai berasal dari kincir kayu yang terus berputar mengeluarkan suara “glodok”. Glo, glo, glo dari air yang mengalir dan dok, dok, dok dari kayu yang berputar.

Advertisement

Menurut saya cara kaum Tionghoa datang ke Indonesia sedikit janggal. Pada abad ke-5, sekelompok orang Tionghoa sedang dalam perjalanan ke India untuk belajar bahasa Sansekerta, namun mereka berhenti di Pulau Jawa.

Para kaum Tionghoa mencoba berkomunikasi dengan masyarakat disana dalam bahasa Sansekerta. Saat dibalas, mereka mengira mereka sudah sampai India, dan mereka tanpa berfikir lanjut memilih untuk belajar di Pulau Jawa. Alhasil, ada banyak peninggalan budaya Tionghoa di bagian utara Pulau Jawa, layaknya Jakarta, Semarang, Surabaya, dan Probolinggo.

Pada masa penjajahan Belanda, kaum Tionghoa diundang untuk bantu memajukan perdagangan di Hindia Belanda. Namun pada tahun 1740, saat harga tebu menurun, pemerintah Belanda tidak memiliki banyak penghasilan. Maka ditetapkan peraturan untuk hanya memperbolehkan 2,000 orang dari tiap kelompok etnik untuk bekerja di Kota Batavia.

Tetapi ada 25,000 warga Tionghoa pada masa itu. Gubernur Jendral Hindia Belanda, Adriaan Valckeneir, mempunyai ide untuk menenggelamkan mereka, dan hasilnya cukup signifikan dengan pembunuhan akan lebih dari 10,000 warga Tionghoa, dikenal dalam sejarah sebagai Geger Pacinan. Namun, sekelompok kaum tersebut berhasil melarikan diri dan datang ke area yang sekarang disebut sebagai Glodok. Dari situ, perkembangan warga Tionghoa di Jakarta pun semakin pesat sampai sekarang.

Perjalanan saya mengelilingi dan mencari tahu lebih mengenai Glodok dimulai di Candra Naya, satu-satunya rumah tradisional Tionghoa di area Pecinan yang sayangnya ditutupi oleh hotel dan apartemen tinggi. Mengikuti peraturan Soeharto, bangunan cagar budaya ini pun harus mengubah namanya dari Sin Ming Hui menjadi Candra Naya, diambil dari bahasa Sansekerta yang artinya the shine of the moon, karena indahnya pemandangan langitnya saat bulan purnama.

Dulu rumah tua tersebut menjadi tempat kediaman keluarga Khouw Kim Tieng, dan menjadi milik cucunya, Wali Kota Khouw Kim An, untuk mengakomodasi 14 istri dan 24 anaknya. Setelah kemerdekaan, rumah besar tersebut diambil alih oleh Yayasan Sin Ming Hui, yang lalu menjadi tempat lahirnya Rumah Sakit Sumber Waras dan Universitas Tarumanegara.

Pantjoran Tea House, yang menjadi pemberhentian kedua, dulu dikenal sebagai Apotheek Chung Hwa. Gedung ini menjadi pertanda memasuki kawasan Pecinan. Saat masih jadi apotik, banyak warga terinspirasi untuk membangun toko obat mereka sendiri, bahkan ada yang masih berjalan dengan banyak pasien seperti Tai Seng Ho.

Namun, seiringnya zaman, Apotheek Chung Hwa dirubah menjadi Pantjoran Tea House beberapa tahun yang lalu untuk mengingat kebaikan Kapiten Gan Djie pada abad ke-17. Kapiten Gan Djie selalu menyediakan teko berisi teh tiap harinya yang ditawarkan kepada warga untuk beristirahat sebentar. Memulai tradisi itu lagi, sekarang Pantjoran Tea House menyajikan teh gratis untuk semua orang yang melewati restoran tersebut sampai jam 6 sore.

Mengunjungi Glodok saat dekat dengan Hari Imlek menjadikan suasana Glodok lebih ramai. Pembeli berkeliling, mencari kebutuhan untuk membuat hari spesial mereka sempurna, terutama di Petak Sembilan. Petak Sembilan mendapat namanya karena petak, yang artinya rumah kecil dan sembilan karena hanya ada sembilan rumah kecil saat jalanan dibuka untuk berdagang. Sekarang, Petak Sembilan menjadi salah satu pasar paling ramai dan sibuk di Jakarta, dibagi dua menjadi bagian pangan basah dan kering.

Tapi dengan itu, adanya keramaian pasti ada ketidaknyamanan. Petak Sembilan memiliki jalanan yang super sempit, ditambah lagi dengan dua sisi yang seluruhnya ditutupi oleh aneka makanan dan baju merah meyilaukan juga motor yang berlintas tiap detik. Petak Sembilan dikenal dengan menjual segala pangan yang tidak mudah ditemui, misalnya kodok, yang di ekspor sampai ke Prancis dan Belgia, juga buah-buah seperti jamblang, menteng, dan gandaria yang jarang ada di swalayan biasa.

Sesampainya di Vihara Dharma Bhakti, saya terkagum. Dintengah keramian dan keberisikan pasar, berdiri suatu tempat pembawa kedamaian dan ketenangan. Dengan adanya percikan Hari Imlek, vihara terisi penuh dengan warga yang sedang menyembah, melakukan ritual dan tradisi menjelang hari spesial itu. Setelah tahun 1965, dimana masyarakat Tionghoa didorong untuk memeluk agama Buddha, semua vihara diharuskan untuk menambahkan area agama tersebut selain Taoism dan Confucianism.

Selain Vihara Dharma Bhakti juga ada Fat Cu Kung Bio, yang menjadi tempat ibadah untuk memberi penyembahan kepada Dewa Judi. Vihara tersebut dikunjungi agar mendapatkan keuntungan saat ingin pergi ke tempat berjudi seperti Genting, Macau dan Sentosa. Maka dari itu jalanan disekitarnya disebut Jl. Kemenangan. Tahun 1668 menjadi tahun didirikannya vihara kedua di Jakarta. Pada zaman tersebut, warga Tionghoa di Jakarta sedang mengagumi Kaisar Kangxi, dan karena itu, vihara dinamakan Toa Se Bio, yang artinya his excellency ambassador, dan segala penyembahan diberikan untuknya.

Tidak dapat disangkal lagi bahwa Jakarta sekarang sudah dibentuk menjadi kota yang mengutamakan kemajuan modernitas dengan maraknya perkembangan infrastruktur di kota metropolitan ini beberapa tahun silam. Banyaknya mall dan kafe membentuk suatu kenyamanan dan surga bagi generasi sekarang ini. Tetapi dibalik itu semua, Jakarta tetaplah sebuah kota yang masih kuat akan mempertahankan cerita masa lalunya yang terus ditulis sampai sekarang.

Advertisement

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya