Memori yang Buruk Memang Tidak akan Hilang. Namun, Kebiasaan Mengingatnya Pasti Hilang

Setiap yang sudah terjadi ya biar saja terjadi. Tidak dapat diulang, direvisi ataupun diputar kembali. Semua orang bilang katanya memori atau masa lalu itu kadang bisa jadi musuh yang menghambat dan kadang juga bisa jadi teman belajar walau kita harus dihajar dahulu. Itu menandakan bahwa memang seburuk-buruk masa lalu memang tak buruk-buruk amat.

Advertisement

Semuanya bilang katanya masa lalu itu hanya ruang kosong yang buat apa ditempati lagi? tidak pantas untuk dipikirkan kembali, diingat, dibicarakan atau bahkan dihampiri lagi. Semua memang benar jika berpendapat seperti itu. Tapi memang ada kalanya masa lalu menimbulkan trauma, efek psikologis, efek jangka panjang dan kepercayaan diri.

Ya, semua bisa lahir dari kisah-kisah yang telah usai. Kisah tidak akan berhenti begitu saja, kisah yang baru akan berlanjut dari berakhirnya sebuah kisah. Semua memang percaya itu, itulah juga penyebab kita masih saja terjebak dalam bisikan-bisikan dan alur nostalgia.

Masih takut dan ngga berani

Advertisement

Percuma ujungnya sama aja

Trauma deh

Advertisement

Berkaca dari yang dulu ya gimana ya?

Begitu Kata Mereka, padahal sejatinya memang yang akan datang berbeda dengan yang sudah terjadi. Apa ini pengaruh? apa memang kita belum diizinkan berjalan lagi? Apa belum tepat waktunya? Efek dan aura pasca peristiwa memang sulit sekali sirna. Sekalipun kita berlari namun Ia seperti bayang.

Tapi kita semua belum mengetahui sesuatu. Karena memang setiap kisah manusia pasti tidak mungkin semulus dan putih tanpa noda. Kesalahan, keputusan yang salah, peristiwa buruk, memori yang berulang dan apapun itu pastinya pernah dirasakan bukan? jadi memang kita hanya fokus kepada objek masa lalunya.

Padahal sejatinya manusia pun tidak ada yang tak pernah tercebur ke lubang dan ditimpa nestapa. Itu sebabnya ekspresi itu diciptakan juga sedih disamping bahagia. Itu sebabnya kita diciptakan untuk belajar. Tetap saja historis peristiwa masa lalu tidak bisa sirna. Kenapa? karena memang itu adalah bagian dari hidup kita. Tidak ada manusia yang tak memiliki masa lalu bukan? dengan situasi yang salah, kehidupan yang salah, orang yang salah dan apapun itu bukan?

Tiap yang pernah dialami, yang pernah dihampiri dan yang pernah masuk dalam hidup itu tidak selamanya baik dan seperti yang kita inginkan bukan? Ya, sekali lagi kesalahan kita adalah terlalu fokus untuk menghapus masa lalu saja. Padahal masa lalu yang buruk layaknya bekas luka yang tidak bisa hilang.

Kita hanya perlu menunggu dan kita yakin kebiasaan mengingat masa lalu itu akan hilang. Semua dimulai dari kita sendiri, bukan dari keruwetan masa lalu. Ketidaksengajaan untuk lupa akan lebih baik. Kenapa? karena jika kita melupakan atau sengaja melupakan bukan berarti kita masih mengingatnya bukan? untuk itu Kita masih melupakan.

Namun titik tertingginya ialah kebiasaan mengingat semua itu yang sudah tiada dan sirna. Dengan apa? dengan hidup yang semestinya serta kebih baik. Bagaimana caranya? kebiasaan melupakan nestapa akan sirna jika rasa bahagia kita lebih besar dari kesedihan. Bukankah begitu? sehingga Kita akan lupa dan benar-benar amnesia dengan masa lalu yang buruk.

Rasa bahagia dan kepuasan seperti lahir kembali akan membuat kita melupakan semua itu. Mata tidak akan melirik, kepala tak akan menoleh, otak tidak akan berpikir dan diri tidak akan mencoba menghampiri noda-noda yang mengganggu. Mereka tetap ada namun perhatian kita suatu saat akan lebih tertarik kepada hidup yang baru.

Selamat datang hidup baru, mungkin kita akan menutup pintu dan biarkan noda-noda kelam diluar sana saja. Tak perlu bersembunyi, Kita sudah benar-benar tidak sadar atas itu semua. Kebiasaan itu juga sudah tidak ada. Ada kebahagiaan yang lebih besar sehingga menolehpun tidak bisa dan tidak tertarik tentunya.

Buat apa menghampiri dan menghabisakan energi demi noda-noda yang sudah ditinggalkan dalam waktu yang lama? Bukan begitu? Di depan jauh lebih baik,

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya

Advertisement

“Artikel ini merupakan kiriman dari pembaca hipwee, isi artikel sepenuhnya merupakan tanggung jawab pengirim.”

Berikan Komentar

Tim Dalam Artikel Ini

Penulis

Bukan Penulis Tapi Si Kritis