Mendengar pertanyaan "kamu mau jadi pacarku" ternyata tidak seindah yang aku bayangkan ketika kata itu terdengar di telingaku pada saat itu. Kenyataannya yang aku anggap "suka" menjadi kata yang mengerikan di telingaku. Menjadi wanita yang dicintai adalah impian semua wanita di dunia ini. Aku adalah wanita yang sangat bahagia pada waktu itu, rasa sakit hati yang begitu dalam terasa hilang begitu saja ketika ada seorang laki-laki yang menyatakan "suka" dan memintaku menjadi pacarnya. Saat awal hubungan kami, aku memiliki rasa yang biasa-biasa saja, mungkin pada waktu itu aku hanya berfikir agar rasa sakit hatiku di hubungan sebelumnya bisa terobati, sehingga aku tidak terlalu berfikir tentang hubungan yang saat ini ku jalani.

Seiring dengan waktu yang selalu kami lewati bersama, rasa cinta dan sayang itu mulai tumbuh bak bunga yang sedang mekar. Segala cara ku lakukan demi mempertahankan hubunganku dengannya. Tapi, rasa yang semula biasa-biasa saja itu menjadi rasa yang mengurungku dalam belenggu yang tak ada habisnya. Dimulai dari kebiasaannya mendengar lagu-lagu galau, dimulai dari raut muka yang selalu sedih ketika mendengar lagu-lagu tertentu, hingga sikap yang terkadang membuatku cemburu tiba-tiba. Sampai pada saat dia mengatakan bahwa aku juga sebagai teman baginya, sehingga dia dengan leluasa membicarakan masa lalunya bersama mantan pacarnya ketika mereka bahagia bersama.

Bak disambar petir, entah kenapa aku merasa sakit hati, padahal wajar saja jika dia tak bisa melupakan masa lalunya. Sampai pada waktunya, aku sangat ingin memiliki hatinya, walaupun dirasa tidak mungkin. Dimulai dari caraku mencintainya, yang aku sendiri merasa sangat berlebihan, memberikan apa yang ingin ia miliki, dari mulai materi dan juga hal-hal kecil yang aku tak pernah lakukan. Hingga akhirnya aku mengenal mantan pacarnya.

Semenjak itu, justru dijadikan alasan untuk kekasihku ingin dekat kembali dengannya, kebohongan demi kebohongan dilakukan pacarku dimulai. Semua ternyata karena "Kekasihku masih menginginkan Mantan Pacarnya" dan aku hanya sebagai pelarian semata. Hingga aku meminta wanita itu untuk tidak meladeni ketika kekasihku menghubunginya, namun yang dilakukan malah kebalikannya, dia seperti memberikan kekasihku peluang untuk berharap lagi padanya.

Hingga akhirnya kekasihku memilih untuk tetap mengejar mantan pacarnya, dan aku diabaikan begitu saja. Sampai pada akhirnya, aku harus membenci wanita yang sama sekali tak pernah aku kenal. Hingga saat ini, trauma itu seperti mendarah daging dalam hidupku.


Aku yang telah Kamu kecewakan, tak akan pernah lagi memberi kesempatan.


Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya