Hidup memang selalu dipenuhi dengan pilihan dan tantangan. Akan menjadi apa kita di masa mendatang, ditentukan dari apa yang kita lakukan sekarang. Ingin mengisi masa mudamu dengan banyak kesia-siaan, atau justru memaksimalkan diri agar penuh kebermanfaatan, itu semua kita yang menentukan.


Masa muda hanya ada satu kali saja, buat dirimu berbeda dengan melakukan banyak hal yang berguna. Kisah salah satu pemuda ini contohnya.


Advertisement

Mengukir banyak prestasi di bidang sepak bola, tidak instan terjadi begitu saja

Faatih Rijalul Haq merupakan salah satu lulusan berprestasi dari Universitas Negeri Semarang, Fakultas Ilmu Keolahragaan. Sepak bola merupakan salah satu cabang olahraga yang paling ia minati. Sejak sekolah sudah banyak ajang pertandingan yang ia ikuti, salah satunya adalah dalam ajang POPDA (Pekan Olahraga Daerah) yang bisa membawanya masuk perguruan tinggi negeri tanpa tes seleksi.


“Ketika teman-teman yang lain latihan sehari minimal 1 jam di lapangan, saya berarti harus bisa latihan lebih dari itu”, ungkap Faatih.


Advertisement

Menyadari tidak ada hal yang terjadi dengan instan, membuatnya gigih untuk terus berlatih dan berjuang. Hingga beasiswa pendidikan di perkuliahan tidak sulit ia dapatkan, gelar kejuaraan mulai dari tingkat provinsi dan nasional pun berhasil ia genggam, sebagai bentuk pengabdian dan mengharumkan nama kampus yang telah memberikannya banyak peluang.

Mengabdi di ujung Timur Indonesia, menjadikannya lebih peka terhadap sesama 

Pernah menjadi pemimpin organisasi, hingga menjuarai beberapa ajang pertandingan bergengsi, mampu membawa Faatih menjadi salah satu pemuda yang terpilih untuk mengabdi di ujung timur negeri. Program yang digagas oleh Pertamina Foundation ini merekrut beberapa pemuda terbaik di Indonesia untuk menjadi relawan guru di Papua selama satu tahun lamanya.


Lewat pengabdian, Faatih belajar banyak hal. Pengalamannya menjadi seorang relawan mampu membentuknya menjadi anak muda yang tangguh dan pejal.  


Menjadi kepala sekolah di usia muda, membuatnya berbeda dari pemuda seusianya

Bagi Faatih, masa muda adalah masa yang tidak boleh disia-siakan. Ambil banyak peran, kontribusikan lebih luas lagi ilmu yang telah kita dapatkan, hingga banyak orang yang bisa merasakan kebermanfaatan.

Berbekal banyak pengalaman dan kegigihan, di usia 24 tahun Faatih sudah menjadi pemimpin di sebuah institusi pendidikan. Banyak yang berpikir mungkin ini pekerjaan yang menjemukan. Disaat kawan seusianya bisa leluasa bermain game seharian, menjadi pemimpin di usia muda sudah harus memikirkan banyak hal demi kemajuan.

Tantangan memang pasti akan selalu datang, tapi bukankah itu salah satu jalan agar kita bisa naik tingkatan? Dan itu juga yang membuat kita berbeda dari orang lain kebanyakan.

Menjadi founder sekaligus Head Coach SSB (Sekolah Sepak Bola) di desa. Karena pengabdian adalah bentuk karya paling nyata

Kesyukuran atas begitu banyak nikmat yang didapatkan, Faatih wujudkan dalam bentuk pengabdian. Sekolah Sepak Bola di desa mulai ia kembangkan. Pendidikan dan pelatihan mulai ia ajarkan.

Ketika anak muda lain sibuk dengan gemerlapnya dunia. Ada anak muda yang memilih menepi untuk lebih membuka mata dan belajar peka. Faatih adalah salah satu contoh yang membuat Indonesia percaya, bahwa masih ada anak muda  yang mau berbuat nyata.

Advertisement

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya