Hai Pecandu Kopi,

Detik ini aku memilih mengganti menuku untuk menetralisir rasa yang semakin hari semakin pahit. Kau suka kopi hitam bukan?

Advertisement

Mungkin begitu, hitam yang menyamarkan rasa, benar? Apa boleh aku teguk sekali lagi? Untuk memastikan bahwa rasanya tidak aku suka. Dan, bolehkah kuabadikan rasamu? Setidaknya nanti akan menjadi cerita bahwa aku pernah merasakan yang indah meski hanya sementara.

Jika suatu hari nanti aku sendiri, bolehkah aku berlari kembali dan mulai meneguk sedikit caffeine-mu? Itu untuk membuat semangatku bangkit. Setidaknya aku tak habis energi untuk selalu menunggu.

Dan kini, aku masih saja berdiri ditempat yang sama. Menatapmu yang semakin jauh tak tergapai. Kau tahu? Rinduku ini pun semakin membeku dan perlahan mulai menusuk. Aku bisa apa?

Advertisement

Dinding itupun tak tahu benar-benar memisahkan atau hanya kita yang saling bersembunyi dalam diam?

Aku tahu ada banyak cara untuk melihatmu, tapi tidak untuk menggapaimu. Kini, masih ku nikmati senyum mu itu dari kejauhan dan berharap ada rindu yang ingin disampaikan. Aku tak mengerti, mengapa semakin aku berlari, semakin aku ingin kembali? Bisa kamu beri jawaban?.

Hai Pecandu Kopi,

Terima kasih untuk malam ini. Lagi dan lagi aku kembali meneguk caffeine-mu. Mengapa sulit sekali untuk melepas candu seperti aku melepas rindu? Entah, apa yang direncanakan Tuhan. Saat itu sudah bulat niatku untuk melupakan dan menyerah dengan keadaan. Namun, kau beri sebuah sapaan yang entah rindu atau sekedar ingin tahu bagaimana kabarku?.

Tanpa sadar, kau telah membentuknya kembali. Menjeratku dengan rindu akan masa-masa itu. Masa dimana kubiarkan rembulan berlalu hanya untuk menemanimu.

Kini aku bisa apa? bahkan rasamu pun aku tak tahu. Sekedar melepas rindupun aku tak mampu. Tak cukup nyaliku untuk menyapamu. Mengapa kau selalu membuatku candu?.

Setiap menit ku menatapmu lewat waktu yang semakin berjalan tak menentu. Tanpa ku sadari aku telah menunggumu begitu lama. Kapan waktu itu akan tiba? akankah kau mengulang semuanya atau kau akan menyerah taanpa kata?

Sedikit saja beri aku waktu untuk menatapmu lebih dalam. Hanya sekedar ingin menyampaikan rasa bukan hanya cinta. Setidaknya sampai padamu meski tanpa kau mengerti.

Mata Itsuka Arimashou, kata yang sederhana tapi penuh makna. Haruskah aku bertahan menunggu rindu tersampaikan atau mulai melupakan?.

Pikirkanlah, akan ku tunggu jawabmu di batas senja.

Advertisement

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya