Aku suka hujan, bukan lebih tepatnya aku jatuh cinta pada gerimis. Tapi, aku tetap suka hujan, apalagi hujan di awal musim. Hujan saat menerpa genteng dan tanah aku suka baunya. Bau saat hujan pertama di awal musim. Namun, gerimis selalu memikatku, bahkan aku rela bermain rintikan saat gerimis tiba. Aku mencoba menghentikan gerimis dan menyentuh buliran air. Aku berhasil pada saat itu.

Advertisement

***

Aku mencoba mengerti dan memahami apa yang baru saja dikatakannya. Namun sungguh aku tak bisa mengerti, hanya ada mendung di mataku. Baru saja aku melepas hati yang lain untuknya, baru saja aku menusuk hati yang lain untuknya, dan baru saja aku mempertaruhkan yang mungkin ia tak pernah tahu, tapi sekejap ia seperti menusukku tepat di jatungku.

Aku mencoba meraih matanya, tapi mendung masih disana. Sama seperti hari ini gerimis yang mencoba bersahabat seperti biasa, namun aku enggan. Setuhan jari-jarinya pada punggung tanganku membuatku semakin ingin menyingkirkan mendung, dan gagal.

Advertisement

“Apa yang ingin kamu katakan?” tanyaku.

“Aku nggak tau lagi..,”

“Berarti sudah cukup, tak ada yang dibicarakan lagi!” aku mencoba menekankan kata lagi.

“Tolong ngerti aku,”

“Iya aku ngerti kamu,”

Lagi-lagi mendung tak mau beranjak dari mataku, aku berharap hujan tak turun atau setidaknya jangan ada gerimis. Tapi bila begitu masih saja samar wajahnya bertahan karena mendung itu. “Sampai kapan aku bertahan dengan mendung ini, atau aku harus menurunkan hujan,” aku mencoba menenangkan diri.

“Jalani jalan yang sudah kamu pilih,” aku mencoba mengontrol diri.

“Iya., tapi aku kepaksa.”

“Tak ada jalan yang dipaksakan. Tapi saat kamu ada di persimpangan kamu tahu, setidaknya kamu memilih sebuah jalan. Saat itu pula kamu harus siap dengan resiko yang akan datang. Seperti saat ini!”

“Tapi..,” dia berhenti, seperti ada yang menghentikannya untu berbicara.

“Aku tahu, kamu sudah mengatakannya berkali-kali. Cukup!” Aku tahu mendung ini tak mampu kutahan, daripada hujan turun aku memilih menundukan mataku dan menyeka mataku dengan kedua tanganku. Lalu mendung itu hilang, aku bisa melihat wajah perempuan di depanku tak samar lagi.

***

“Aku tak tahu perasaanku padamu, tapi ini kesalahan.” Aku tak bisa memandangya dan hanya melihat jauh kearah laut.

“Maksudnya?” dia bertanya padaku.

“Akh., entalah,”

“Bisakan kamu jelasin ke aku?” pinta gadis di sebelahku.

“Sepertinya aku suka padamu, tapi ini sebuah kesalahan,” jawabku. “Mungkin..,” sambungku.

“Mungkin gimana?” dia mendesak.

“Aku punya seseorang disampingku, lalu kamu hadir. Bukan sekedar hadir, aku mengagumimu. Kemudian aku ingin menempatkanmu di sisiku, dan entah sisi yang mana. Bila aku meletakkanmu di sisi kananku dan menggegammu, maka aku akan terlalu keras menggenggamu dan menyakitimu. Tapi bila aku meletakkanmu di sisi kiriku, aku harus melepas orang yang disampingku saat ini, dan itu menyakitinya,” kata-kata itu melucur begitu saja dari mulutku, dan saat itu pula aku dapat menatap matanya.

***

“Maaf..,” kata itu tiba-tiba memecah keheningan antara aku dan dia.

“Tak perlu minta maaf,” jawabku.

“Kenapa? Harus, aku harus minta maaf,” jawabnya.

“Kamu pernah bilang, saat dua orang saling mencintai maka tak perlu kata maaf. Karena dengan sendirinya cinta itu akan memaafkan,” aku mencoba menatap matanya, tapi kali ini aku melihat mendung di matanya.

“Iya., aku ingat,” jawabnya lirih.

“Kamu tahu dan aku juga. Bukan aku yang tak bisa melepas genggaman, tapi kamu tak ingin genggaman kita terlepas. Tapi kita juga sama-sama tahu, telah ada yang mengikatmu melebihi genggamanku,” aku mengatakannya sambil menatap dan tersenyum padanya.

“Kini saatnya kamu melepas genggaman kita, dan kamu seharusnya tahu sejak kapan kamu harus melepasnya. Yaitu saat kamu memilih jalan yang hendak kamu tapaki. Saat ini setelah aku dan kamu beranjak dari tempat ini, kita sudah memiliki jalan yang berbeda, aku akan bahagia dengan jalanku dan aku berharap kamu juga,” sambungku menyakinkannya dan menyakikanku sendiri

Kursi kayu di depanku itu kini tak bertuan, dia sudah beranjak. Sedang aku masih enggan beranjak dan masih enggan melepas pandang ke kursi tak bertuan itu. Bulan Desember selalu terikat dengan hujan, aku suka. Tapi gerimis kali ini sungguh berbeda. Aku beranjak dari tempat duduk, dan berjalan. Gerimis kali ini begitu hebat, aku mencoba menghentikannya, dan kali ini aku hanya membuatnya terjatuh pelan. Aku tidak berhasil.

Matahari mulai mengintip melalui celah mendung. Saat itu pula aku tahu, setelah ini matahari akan bersinar. Mungkin juga setelah ini matahari akan berlalu begitu saja, tapi ia akan terbit di belahan lain. Tapi tetap saja gerimis kali ini berjalan pelan.

҉ ҉ ҉

Advertisement

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya