Pemanfaatan media sosial di kalangan masyarakat yang kurang baik menjadi masalah besar masyarakat saat ini. Banyak menyebarkan konten kebencian, sikap membenarkan diri sendiri, mengunggulkan diri sendiri, dan egois adalah kebiasaann netter. Masih mending jika orang lain mencitrakan kebaikannya dan hanya sekedar selfie, hal itu mungkin tidak merugikan orang lain.

Semakin mudahnya media sosial di akses malah semakin menjauhkan fungsinya untuk memudahkan akses penyebaran kebaikan. Faktanya sekarang begitu mudahnya menemukan konten kebencian yang disebarkan di media sosial. Sehingga menyebabkannya media sosial menjadi media anti sosial.

Advertisement

Apakah ini menunjukan ketidak berhasilan manusia memfungsikan sesuatu pada tempatnya? Memposisikan alat pada posisi yang sebenarnya? Padahal mayoritas pengguna media sosial adalah orang yang diakui tingkat pendidikannya, dari sekolah menengah bahkan sampai yang bergelar doktor. Pertanyaannya, lalu kemana ilmu yang diajarkan di sekolah? Padahal di sekolah telah diajarkan memanfaatkan sesuatu dengan kebenaran.

Saat ini begitu mudah menemukan konten kebencian yang dengan cepat disebarluaskan melalui media sosial. Pelaku penyebar kebencian ini bisa digolongkan menjadi orang yang berkepentingan, orang yang tidak suka, orang yang sok tahu/update (yah sebut saja yang satu ini ikut-ikutan hehe).

Orang berkepentingan menyebarkan kebencian didasarkan oleh kepentingan pribadi atau kelompok untuk membunuh orang yang menjadi korbannya. Pembunuhan dalam hal ini sangat luas, bisa saja membunuh karakter, membunuh kelompoknya, menurunkan kharisma korban demi mengunggulkan dirinya maupun kelompoknya. Biasanya kelompok ini memiliki manajemen kebencian yang terstruktur.

Advertisement

Orang atau kelompok yang sekedar membenci hanya ingin melihat korban menjadi orang yang sejelek-jeleknya dan tidak memiliki kepentingan lain selain membenci. Juga tidak untuk mengangkat derajat dirinya di hadapan orang lain. Ada juga orang yang sok update informasi yang berkonten kebencian. Kelompok ini tidak perlu banyak berpikir baik maupun buruk terhadap apa yang dibagikan ke orang lain. Hanya sekedar ingin terlihat update, itu saja kemauannya. Inilah yang sangat bahaya.

Membaca dan mencoba mengerti penyebab para konsumen media sosial dengan mudahnya percaya pada apa yang mereka dengar dari orang lain adalah bahasan serius dan juga bisa menjadi pembelajaran penting bagi kita. Mungkin dalam hal ini ada penyebab masalah kemudian akan ada obat yang ditawarkan.

Ketidak mampuan seorang individu untuk berpikir jernih dan seimbang dalam menerima informasi menyebabkan ia gampang saja untuk percaya. Tanpa mencari sumber lain untuk dijadikan bahan pertimbangan. Penelusuran terhadap suatu informasi tidak dilakukan olehnya. Alur informasi yang didapatkan hanya melalui satu pintu. Oh malangnya konsumen yang tak punya pilihan lain ini.

Tidak melakukan seleksi. Setiap informasi diterima dengan gamblangnya. Ia tidak tahu mana yang dapat dipercaya. Ia hanya tahu ini informasi yang harus dibenarkan, tanpa mencari kebenarannya. Sudah terlanjur ingin terlihat update. Sehingga tidak mampu membedakan mana yang harus dijadikan refrensi informasi. Semunya tanpa saring, tanpa ditanda, bahkan tanpa dipahami kontennya. “Yang terpenting gue update informasi,” Begitulah kira-kira.

Kita patut melihat secara objektif setiap informasi yang datang. Perlu melakukan pertimbangan, seleksi, dan menandai setiap informasi. Melalui media tingkat kedewasaan seorang manusia juga dapat dilihat. Pribahasa "mulutmu adalah harimaumu" mungkin sudah berkurang, tapi tulisanmu, terusanmu (share) adalah harimaumu.

Kekutan kita semua ada pada saat kita saling mencintai. Menghindari kesalahan kepada orang lain adalah sikap dalam saling mencintai sesama. Hal itu adalah salah satu bentuk pengamalan Pancasila (sila ke-tiga: Persatuan Indonesia). Itulah yang harus kita kuatkan dalam media sosial. Agar media sosial tidak menjadi harimau bagi kita.

Advertisement

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya