Melawan Catcalling Nggak Hanya Tugas Kaum Hawa, tapi Laki-laki Harus Punya Peran Juga

melawan catcalling tugas kita semua

Dear laki-laki di luar sana, ketahuilah bahwa melawan catcalling tidaklah mudah. Sangat sulit apalagi bagi kami kaum perempuan, kaum yang kalian katakan lemah dan butuh perlindungan. Maka bantulah kami, tidak perlu menjadi pahlawan atau tim security yang selalu siap 24 jam. Cukup bantu edukasi teman-teman kalian agar semakin banyak yang menjadi lebih baik dan berhenti melakukan catcalling pada kami. Karena kami percaya masih banyak pria-pria baik yang menghormati martabat perempuan, dan bahwa kebaikan itu menular.

Advertisement

Menjadi perempuan itu susah-susah gampang, banyak suka dan dukanya. Salah satu dukanya adalah hampir semua perempuan di dunia ini pernah bahkan sering menjadi korban pelecehan verbal atau catcalling oleh sekelompok “cowok” dikasih tanda kutip “” karena ke-cowok-an mereka perlu dipertanyakan.

Hanya segelintir yang berani melawan balik, tapi itu juga bukan tanpa resiko besar yang mengikuti setelahnya. Beberapa hanya bisa merasa takut dan buru-buru pergi tanpa bisa melakukan apa-apa, bahkan sampai mengalami trauma berat.

Banyak yang masih berpikir kalau pelecehan seksual itu terhitung kalau seseorang memegang bagian tubuh orang lain dengan tanpa ijin dan membuat orang tersebut tidak nyaman. Padahal catcalling sendiri adalah bentuk pelecehan seksual! Mereka menganggap ini biasa, tapi bagi kami para wanita, ini adalah hal yang sangat menjengkelkan, tidak nyaman, menakutkan dan sangat merendahkan martabat perempuan.

Entah kenapa mayoritas pelaku catcalling ini adalah “cowok”, dan mereka menganggap ini semua hanya lucu-lucuan, entah apa yang ada dipikiran mereka. Gini deh, daripada gak ada yang dipikirkan lalu kalian meng-catcalling semua perempuan-perempuan yang kebetulan lewat di depan kalian, gimana kalau kalian mikir gini: gimana kalau posisisnya dibalik! Bagaimana kalau yang menjadi korban pelecehan ini kalian? 

Coba kalau kalian di posisi kami. Jalan-jalan sendiri dipinggir jalan ramai, tapi tiba-tiba dipepet dengan mobil atau sekelompok motor lalu sekelompok perempuan yang dengan jelas memiliki kelas yang jauh dari kalian, bersiul-siul ke kalian, manggil-manggil “cowok, kok sendirian diluar gini? Nggak ada teman atau gak ada yang mau yah?” atau “cowok, kok sendirian di luar? Miskin yah?” Kalian pasti marah sekali bukan? Jelas-jelas mereka dengan sengaja merendahkan martabat kalian. 

Advertisement

Dear “cowok” mungkin sangat susah untuk menghentikan “hobi” aneh kalian ini, tapi cobalah untuk menahan diri, dan ingat kembali ibumu. Bagaimana ia berjuang melahirkan dan membesarkanmu, bagaimana kamu menyayangi ia, dan bagaimana perasaannya saat ia tahu anak yang susah payah ia lahirkan dan rawat ternyata hanya bisa melecehkan dan menyakiti perempuan lain? Bagaimana juga tanggapan calon istri kalian kelak saat tahu apa yang kamu lakukan pada perempuan-perempuan?

Kami percaya, para pria yang cerdas yang membaca artikel ini pastilah laki-laki dan pria yang sangat bermartabat. Mungkin kamu pernah tidak sengaja melakukannya lalu menyesalinya, atau tidak pernah melakukan ini pada perempuan, kami mengucapkan terima kasih banyak. Tapi bagi kamu yang pernah atau terkadang melakukannya, tolong berhentilah. 

Bantu kami menyebarkan kebaikan kalian, ajak bicarakah saudara-saudaramu atau teman-temanmu, ceritakanlah opinimu betapa kamu menghormati perempuan, dan ajaklah mereka juga untuk sedikit-sedikit mulai berubah, tidak usah langsung kepada setiap perempuan di dunia, cukup dimulai dari ibu dan saudarinya.

Juga bela dan bantu kami para perempuan pada saat kamu melihat kami menjadi korban pelecehan ini. Jangan hanya diam dan menikmati, karena kalau kamupun hanya diam dan ikut menertawakan, kamupun sama seperti para “cowok” itu.

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya

Advertisement

“Artikel ini merupakan kiriman dari pembaca hipwee, isi artikel sepenuhnya merupakan tanggung jawab pengirim.”

Berikan Komentar

Tim Dalam Artikel Ini

Penulis

Spilling irregular ideas through words

Editor

Not that millennial in digital era.

CLOSE